Foto: icrp-online.org

Foto: icrp-online.org

“Kita memang produk masa lalu, tetapi kita yang menciptakan masa depan.”

Rangkaian kata menggaung pada Sabtu (28/9/2013) sore itu, menggugah 42 jiwa muda yang duduk dengan kepala tegak. Mereka tengah mengikuti kemah lintas-iman atau Youth Interfaith Camp 2013 yang diadakan Indonesian Conference on Peace and Religion (ICRP), di kompleks Vihara Vipassana Graha, Lembang. 

Tidak terpikir bahwa pesertanya adalah anak-anak SMP, SMA dan mahasiswa sarjana tingkat awal. Sebagai mahasiswi pascasarjana, saya merasa tua dan salah tempat. 

Satu kesamaan di antara saya dan 41 anak muda lain adalah meyakini perbedaan keyakinan bukanlah halangan untuk saling menghormati, damai hidup bersama dan saling membantu. Masalahnya hanya bagaimana cara menyatukan pemikiran tersebut. 

Saat acara, panitia tidak memberikan instruksi, tidak memberikan waktu diskusi yang cukup dengan pemateri, tidak memberikan aturan yang jelas bagaimana harus berinteraksi. Cukup memusingkan bagi orang-orang yang terbiasa mengikuti instruksi.

Rupanya, strategi instruksi kosong memaksa kami membentuk interaksi sendiri. Percakapan di sela-sela waktu tidur, pertanyaan penasaran di antara waktu makan, dan diskusi ringan di pagi hari terbukti lebih efektif menumbuhkan penasaran antara kami. 

Lokasi kemah di tengah-tengah kompleks vihara Buddha juga menggelitik rasa penasaran. Budaya Thailand yang kental di sini mengajak peserta menepis mitos-mitos agama Buddha yang masih mengundang penasaran. Saya pun dapat pelajaran berharga. Siapa sangka bahwa banyak sekali penganut agama Buddha berasal dari penduduk asli Indonesia, tidak melulu orang Tionghoa yang menjadi strereotype selama ini. Hal ini tidak selalu menguntungkan para penganut Buddha Indonesia. Kemudian mengalirlah cerita penganut Buddha yang dipaksa atau diperdaya mengganti agamanya dengan agama lain. Untuk menghindari hal tersebut mereka terpaksa mengungsi ke daerah yang lebih terpencil. Kompleks vihara yang begitu tenang ini pun sempat mengalami penolakan masyarakat setempat, di mana aktivitas di sini tidak boleh dilakukan secara mencolok.

Pertemuan itu sungguh membuka mata tentang bagaimana kekerasan dan diskriminasi yang dialami penganut agama dan kepercayaan di Indonesia. Para muslim Ahmadiyah dan Syiah menuturkan langsung kekerasan yang mereka alami. Mereka mengisahkan penolakan masyarakat hanya karena tata cara ibadah mereka, bukan karena apa yang mereka lakukan.

Para penganut Kristen di HKBP Filadelfia mengisahkan bagaimana tempat ibadah mereka ditutup dan dipaksa untuk dipindahkan, dipersulit bahkan saat dokumen-dokumen pendiriannya sudah lengkap. Betapa mereka merasa tidak diperlakukan sebagai manusia saat penduduk setempat melempari mereka dengan kotoran sapi dan air rendaman jengkol. Para penganut Orthodox mengisahkan bagaimana gereja mereka tidak boleh memiliki kubah sesuai tradisi karena dianggap menistakan agama lain. Para penganut Baha’i dan Sapto Dharmo menuturkan sulitnya mendapatkan KTP yang mencantumkan agama mereka. Beberapa bahkan memilih mencantumkan strip pada KTP mereka daripada dipaksa mengakui agama yang tidak mereka percayai. 

Cerita mengenai larangan-larangan dari keluarga untuk berinteraksi dengan penganut agama lain pun mengalir. Anak-anak muda ini merasa bahwa akhirnya ada yang mengerti, ada yang memahami bahwa mereka tidak mempermasalahkan bahwa teman mereka berdoa dengan cara yang berbeda dengan mereka. Kebingungan akan larangan tersebut merupakan hal yang tabu dalam keluarga mereka, semata karena alasan mematuhi perintah orangtua. 

Mudah untuk merasa kasihan bila cerita-cerita ini kita baca dan dengar dari berita. Tetapi butuh interaksi nyata dari penutur yang mengalami kebencian semacam itu, untuk menumbuhkan empati dan kemauan untuk mengubah kondisi. Prasangka-prasangka dalam masyarakatlah yang harus diubah. 

Saya tidak merasa ada satupun dari mereka membuat saya melupakan keimanan saya, atau memaksa untuk mengikuti agama mereka. Yang saya rasakan malah Tuhan memberikan saya jalan untuk membuktikan cinta saya pada-Nya dengan jalan mengubah keadaan untuk mereka.  Saya semakin mencintai Tuhan karena memberikan saya kesempatan itu. Terus, kenapa banyak yang takut dengan perbedaan kalau perbedaan tidak menghancurkan apapun?

Sebuah catatan pengingat dari Youth Interfaith Camp 2013, Vipassana Graha, 27-29 September 2013

Diambil dari buku “Dialog 100: 100 Kisah Persahabatan Lintas Iman” (penerbit: Jakatarub & Interfidei, 2013).

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!