Pemandangan di Greewich Peninsula Ecology Park (Foto: Nita Roshita)

Pemandangan di Greewich Peninsula Ecology Park (Foto: Nita Roshita)

Sabtu yang dicurahi cahaya matahari adalah waktu yang tepat untuk jalan-jalan melihat pemandangan sambil menghangatkan diri. Itu yang saya lakukan bersama kawan hari ini, menyusuri Sungai Thames, menyisir dari Thames Barrier menuju ke Greewich Peninsula Ecology Park (Taman Ekologi Semenanjung Greenwich) dengan jarak kurang lebih 2,5 kilometer.

Lokasi sepanjang perjalanan adalah kawasan industri di sebelah tenggara kota London yang berdampingan dengan permukiman, Greenwich Millenium Village. Kami melewati pabrik pengelolaan pasir, gudang bahan bangunan, tempat lelang mobil bekas, sampai ke lokasi pengelolaan sampah. Kami berjalan menuju daerah North Greenwich yang merupakan kawasan pemukiman lengkap dengan pusat perbelanjaan yang megah. Di antara pabrik pengelolaan pasir, Yacht Club dan apartemen mewah, “nyelip” 121 hektar area lahan basah, rawa air tawar yang dijadikan sebagai lahan konservasi untuk melindungi ekosistem rawa yang tersisa di wilayah ini.

Dahulu, semenanjung Greenwich adalah lahan pertanian dan rawa tapi daerah ini “diperkosa” menjadi area perindustrian sejak 1880-an sampai sekarang, dengan industry gas, baja dan bahan kimia di perusahaan pembuat kapal. Tahun 1970-an, industri melemah dan kawasan ini menjadi terbengkalai. Tapi di 1997 perubahan terjadi dan mengubah 121 hektar lahan ini menjadi lebih hidup menjadi habitan ekosistem air tawar. Dibuka gratis untuk umum sejak Februari 2002 di bawah manjamen Trust for Urban Ecology yang sekarang menjadi bagian dari The Conservation Volunteers. Lahan ini menjadi kawasan lahan basah yang terintegrasi dengan kehidupan perkotaan.

Keanekaragaman Hayati Lahan Basah Semenanjung Greenwich

Dalam survey keanekaragaman hayati terakhir di taman ini, ditemukan beragam spesies ngengat yang langka dan 37 spesies lebah.  Ada juga kadal air, kodok sampai kumbang dan kupu-kupu dan burung-burung yang sebagian besar datang berkunjung untuk berkembang biak di musim panas.

Untuk memantau burung, kawasan ini dilengkapi dengan dua ruang pemantauan di sebelah barat dan timur yang langsung menghadap ke rawa. Di ruang ini terdapat buku tentang jenis burung di kawasan Inggris Raya, lengkap dengan binocular dan papan informasi tentang jenis burung yang datang di musim tertentu.

Kawasan ini dilengkapi jalur pemanduan dari kayu dan diberi pembatas jerami yang  ke arah rawa agar tidak mengganggu kehadiran burung di sana. Di lengkapi dengan lokasi pertemuan terbuka yang lengkap dengan informasi tentang ekosistem rawa.  Setiap sudut jalur pemanduan, diselipkan informasi tentang beberapa jenis hewat seperti capung dalam bentuk yang sederhana dan singkat.

Taman ekologi semenanjung Greenwich ini ditutup untuk umum jika ada kunjungan anak-anak sekolah yang akan melakukan aktivitas mempelajari jenis hewan rawa, berburu serangga dan pemantau burung, juga prakarya bertema lingkungan.

Buat saya, berkunjung ke Taman Ekologi Semenanjung Greenwich ini seperti belajar lagi tentang bagaimana kawasan lahan basah sebaiknya dikelola dan dirawat bersama. Taman ini bersih dan ramai dikunjungi oleh keluarga dengan membawa anak-anak dan sejak dini anak-anak dikenalkan pada ekosistem yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.  Ingatan saya seperti dibawa ke Suaka Margasatwa Muara Angke yang nasibnya sekarang terbengkalai, dengan jalur pemanduan rusak parah dan penuh sampah. Kalau semua pihak mau bekerjasama dengan baik, Suaka Margasatwa Muara Angke yang menjadi sabuk hijau tersisa di Jakarta itu pun bisa menjadi lebih baik dan akan ramai menjadi tempat tujuan wisata keluarga.

Penulis adalah mahasiswa Pasca Sarjana di Goldsmiths, University of London, berbekal beasiswa Chevening. Ikuti penulis di akun Twitter @nroshita  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!