Ilustrasi

Ilustrasi

Ranni, Ayu, Tissa, Aida. Kami adalah gadis-gadis yang dipertemukan pertama kali saat masa orientasi mahasiswa baru di kampus. Cerita klasik, memang, tapi kami memiliki alur kisah kami sendiri. 

Kami bertemu sebagai sesama orang baru di lingkungan baru dengan latar belakang keluarga, adat istiadat, dan agama yang berbeda. Saya dan Tissa beragama Islam, Ranni dan Aida beragama Kristen. Ranni berasal dari keluarga yang kuat agamanya dan sangat taat. Aida memiliki komposisi yang sedikit berbeda, ibunya seorang Muslim dan ayahnya seorang Kristen. Dia dibesarkan dengan dua agama itu sepanjang hidupnya. Kebebasan diberikan kepada Aida untuk memilih agama yang mana. 

Suatu hari Aida pernah cerita kepada kami tentang seorang temannya yang Kristen dan akhirnya memilih untuk memeluk Islam. Dia bertanya pada temannya tersebut “Kenapa pindah agama?” lalu temannya itu hanya menjawab “Perasaan waktu aku masuk masjid dan mulai mengamati orang-orang ibadah di Masjid, Da. Susah dijelasinnya.” Dan Aida cuma tersenyum lalu menambahkan “Aku tau kok perasaan itu. Perasaan yang sama seperti perasaanku saat aku masuk gereja. Waktu kecil, aku diajarin ibu untuk sholat dan ngaji, ke masjid. Ya, beribadah selayaknya umat muslim pada umumnya. Tapi perasaan saat aku masuk Gereja itu lain. Gak bisa dijelasin dengan kata-kata. Seolah-olah bahwa memang di sinilah tempat aku. Dan saat aku disuruh milih, aku milih gereja sebagai tempat mengaduku”.

Aku hanya bisa terdiam dan menyimak cerita itu. Aku memang tidak tahu perasaan itu, tentang rasa nyaman yang dirasakan, tempat dimana seharusnya aku berada. Aku terlahir dengan agama ini. Dari dulu hidup atas dasar agama Islam. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan bila aku terlahir dari keluarga Kristen, apakah aku juga akan menanyakan hal yang sama? Yang aku percayai dan imani, Tuhan itu hanya satu dan mereka juga setuju. 

Selama ini kami tidak pernah kesulitan dengan perbedaan agama ini. Saya pernah mengantarkan Ranni untuk ibadah pagi-pagi sekali ke gereja yang letaknya lumayan jauh. Dan saat kami sedang pergi bersama, Ranni dan Aida pun akan bersedia menunggu saya dan Tissa sholat bila masuk waktu sholat. 

Di daerah asal saya, kerusuhan akibat perang agama sering terjadi. Orang Muslim dibunuh orang Kristen, kampung Kristen diserang kampung Muslim adalah kejadian yang sudah sering saya dengar dulu. Mereka bilang atas dasar persaudaraan, atas dasar kemanusiaan, dan membela saudara seagama mereka, tapi cara mereka membela saudara mereka dengan membunuh saudara agama yang lain. Apakah dengan saling membunuh dan menghancurkan agama lain akan membuat agamamu terlihat lebih baik? Akan membuat saudaramu yang telah tiada kembali? Yang saya tahu dan rasakan, kerusuhan hanya membawa ketakutan dan kekhawatiran satu sama lain. Hal ini membuat kondisi tatanan kehidupan bermasyarakat yang rapuh dan mudah diadu domba. 

Dalam kitab suci yang saya imani, ada firman yang bunyinya “Agamamu agamamu, agamaku agamaku...”. Agama saya akan selalu terlihat sempurna di mata saya, dan agama mereka juga akan terlihat sempurna di mata mereka. Kami bisa hidup dengan saling melengkapi selama ini. 

Saya rasa kita tidak perlu menganggap agama siapa yang lebih baik dan berhenti saling mencaci. Iman, menurut saya, ada di dalam diri kita. Biar kita dan Tuhan sajalah yang tahu berapa besar. Terhadap manusia lain, kita bisa bersikap selayaknya kita bersikap terhadap sanak saudara kandung kita sendiri. Apalagi untuk saya yang anak rantau, kehadiran Ranni, Tissa, Aida adalah pengganti keluarga saya yang ada di ujung Timur sana. 

Saya bangga memiliki sahabat-sahabat Kristen saya. Kami Muslim dan kami Kristen. Kami untuk masing-masing dari kami. Karena kami tahu, selain agama kami yang berbeda, hal lain masih bisa disamakan. Karena kami percaya, Tuhan kami hanya satu, hanya cara mengimani kami yang berbeda.


Diambil dari buku “Dialog 100: 100 Kisah Persahabatan Lintas Iman” (penerbit: Jakatarub & Interfidei, 2013).

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!