Ilustrasi

Ilustrasi

Ini pengalaman pribadi saya terkait dengan interaksi saya sebagai umat Buddha dengan para penganut agama lain yang saya rasakan sejak kecil.

Saya lahir dari sebuah keluarga penganut Buddhis tradisional. Mengapa dikatakan tradisional? Karena anggota keluarga saya meskipun beragama Buddha, sebenarnya kurang paham akan ajaran agama Buddha itu sendiri. Walau demikian, anggota keluarga saya seperti ayah, ibu, nenek, dan lainnya selalu rutin melaksanakan ritual persembahyangan pada waktu-waktu tertentu seperti setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek, atau pada saat tibanya hari kebesaran Boddhisatva Avalokitesvara alias Dewi Kuan Im.

Menginjak usia 7 tahun, saat saya mulai memasuki Sekolah Dasar, seorang kerabat menyarankan agar saya disekolahkan di sekolah Buddhis "Dharma Bhakti" yang lokasinya berada di area Kelenteng. Namun uniknya, pihak keluarga saya malah menolak saran tersebut dengan alasan bahwa meskipun itu sekolah Buddhis, namun dari segi mutu pendidikan masih kalah dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang dikelola oleh Yayasan-yayasan Kristen. Akhirnya saya pun disekolahkan di SD Kristen.

Inilah yang menjadi awal pengalaman saya berinteraksi dengan penganut agama lain. Jika biasanya di rumah saya diajarkan untuk berdoa dengan membakar hio atau dupa di depan altar leluhur dan para suci, maka di sekolah ini saya diajarkan untuk berdoa dengan cara memejamkan mata sambil melipat tangan. Di sini pula saya baru mengenal sosok Yesus Kristus.

Karena bersekolah di sekolah Kristen, maka pendidikan agama yang saya terima secara formal pun adalah agama Kristen. Setiap hari Minggu saya diwajibkan untuk mengikuti kegiatan sekolah minggu di gereja. Semua itu saya ikuti justru dengan hati senang, tanpa ada paksaan.

Ketika mengikuti sekolah minggu, saya malah senang karena para guru selalu bercerita tentang tokoh-tokoh dalam Alkitab seperti Yesus, Abraham, Musa, Daud, dan lain-lain. Cerita-cerita itu bagi saya malah sangat mengasyikkan untuk diikuti, tanpa sedikitpun ada rasa untuk tertarik menjadi seorang Kristen. Setiap selesai dengan segala aktivitas di sekolah, maka saya akan kembali menjadi seorang Buddhis yang taat, yang tidak melupakan ritual sembahyang di depan altar leluhur dan para suci.

Hal ini terus berlanjut hingga saya tamat SMP. Ketika SMA saya pindah ke sekolah Katolik. Dan kembali saya pun mendapatkan suasana baru dalam hal nuansa keagamaan. Pendidikan agama yang diajarkan di sini adalah agama Katolik. Di sini pula untuk pertama kalinya saya mendengarkan untaian doa salam Maria setelah sebelumnya saya hanya mengenal doa Bapa Kami. 

Satu hal yang berkesan selama 3 tahun saya bersekolah di sana, para frater (calon pastur) yang mengajar agama Katolik di sekolah itu tidak pernah mempermasalahkan soal agama yang saya anut. Bahkan mereka terkesan sangat toleran kepada saya maupun kepada beberapa teman saya yang beragama Islam. 

Beberapa rekan di Jaringan Kerja Antarumat Beragama (Jakatarub) sempat menanyakan kepada saya “Sebenarnya agama kamu itu apa sih? Katanya Buddhis, tapi kok tahu banget soal agama Kristen?”

"Ya, iyalah... Saya kan dulu sejak kecil sekolah di sekolah Protestan dan Katolik. Masa nggak tahu?" jawab saya.

Lalu sempat pula ada salah seorang yg bertanya kepada saya, "Kenapa nggak masuk Kristen sekalian?”

Saat itu saya hanya menjawab bahwa itu adalah masalah keyakinan yang tidak dapat dipaksakan. Meskipun saya banyak mendapat pengetahuan tentang agama lain di sekolah, namun untuk hal keyakinan saya tetap yakin bahwa hanya agama Buddha yang cocok dengan jiwa dan pemikiran saya. Saya teringat akan sebuah ayat yang terdapat dalam Perjanjian Baru. Pada ayat itu disebutkan bahwa iman adalah dasar dan keyakinan akan sesuatu yang tidak kita lihat.

Diambil dari buku “Dialog 100: 100 Kisah Persahabatan Lintas Iman” (penerbit: Jakatarub & Interfidei, 2013).

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!