Papan Indeks Standar Pencemaran Udara di Kota Pekanbaru ini memancarkan tulisan warna merah dengan h

Papan Indeks Standar Pencemaran Udara di Kota Pekanbaru ini memancarkan tulisan warna merah dengan huruf kapital.

Papan Indeks Standar Pencemaran Udara di Kota Pekanbaru ini memancarkan tulisan warna merah dengan huruf kapital. Satu kata saja: BERBAHAYA!! Peringatan ini paling tidak berlangsung sampai sore nanti, mulai berlaku sejak kemarin sore di ibukota. Untuk kota kabupaten, peringatan ini sudah datang 2-3 hari lalu.

Bandara Sultan Syarif Kasim II lumpuh. Jarak pandang hanya 200 meter. Pesawat tak bisa mendarat dan terbang. Sekolah diliburkan sampai besok. Masa status siaga darurat kebagakaran lahan dan hutan diperpanjang sampai akhir bulan ini.

Tanda-tanda apa lagi yang kita ingkari dari Riau? 

Kebakaran hutan di Riau sangat mengerikan. Sepanjang tahun ini saja, sudah hampir dua ribu hektar hutan yang terbakar. Dan ini artinya 10 persen dari total area yang terbakar tahun lalu. Dan sialnya, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan kalau 99% kebakaran hutan adalah akibat kesalahan manusia.

Di tengah kondisi asap yang melumpuhkan Riau, banyak pejabat terkait yang justru tengah berada di luar kota. Ini jelas keliru - karena aparat pemerintahan mestinya bisa kasih solusi untuk situasi gawat seperti ini. Karenanya tak perlu berpangku tangan. Warga mesti bergerak. 

Sejumlah kelompok di Pekanbaru dan Riau pasang kuda-kuda untuk beraksi. Beberapa sudah mulai duluan dengan membagi-bagikan masker. Tapi langkah parsial begini tak cukup. Perlu langkah masif dan bersama-sama dari warga Riau untuk mendesak Pemerintah melakukan sesuatu. Hak warga untuk hidup sehat dengan kondisi bebas asap, serta bisa beraktivitas sesuai kebutuhan sehari-hari, sudah diinjak-injak dengan kondisi seperti ini. Dan ini tak boleh dibiarkan berkelanjutan.

Salah satu dirjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah diminta untuk berkantor di Riau selama sebulan. Tapi berkantor saja tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ditunggu adalah langkah konkrit dari Pemerintah. Sembari mengajak warga berbuat sesuatu demi Riau yang bebas asap. Untuk hal-hal mendesak seperti ini, tak perlu tunggu Pemerintah berbuat sesuatu bagi warga. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!