Cendekiawan Muslim, Prof. Azyumardi Azra, mengajak publik Australia untuk melihat Islam Indonesia secara optimis dalam membangun dialog Islam-Kristen dan meningkatkan hubungan antara Indonesia- Australia. Ia menegaskan bahwa keberislaman masyarakat Indonesia sangat berbeda dengan kawasan Arab dalam upaya mengkonsolidasikan demokrasi.

“Jika pada Arab Spring berjalan penuh kekerasan, demokratisasi di Indonesia selama ini berjalan baik tanpa guncangan berarti, sangat smooth,” kata Azyumardi dalam Dialog Nasional bertema Can Christianity and Islam Co-Exist? di University of South Australia, Adelaide, Rabu malam (2/9/2015).

Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu menjelaskan, masuknya Islam ke Indonesia berjalan damai dan sampai saat ini ekspresi-ekspresi keagamaan berkembang bersama kebudayaan di Nusantara yang berbeda-beda, meskipun ritual utamanya tetap sama dengan Islam di Arab Saudi dan kawasan Arab lainnya.

“Islam di Indonesia tidak mungkin diambil alih oleh Wahabbisme yang primitif!” tegas Azyumardi di hadapan sekitar 400 audiens dialog yang mayoritas warga negara Australia.

Hal tersebut ia tunjukkan lantaran harmonisme Islam dan budaya Nusantara terjadi dalam berbagai praktik agama yang demokratis dan melibatkan masyarakat. Sehingga, Islam Indonesia berbeda sekali dengan ideologi keagamaan resmi Arab Saudi, Wahabbisme, yang sangat kaku.

Ia lantas menyebutkan ritual memanjatkan doa dan rasa sukur seperti walimatus safar (upacara pergi haji), walimatul khitan (upacara sunatan), dan walimatul hamli (upacara tujuh bulan kehamilan), dan seterusnya yang dianggap tidak sesuai dengan keyakinan Wahabbi.

Ketua Dewan Nasional SETARA Institute itu menggambarkan betapa Islam di Nusantara mengamalkan agama secara moderat, washathiyah Islam, baik dalam kehidupan pribadi maupun ketika dihidupkan dalam ranah publik. Sebab, Islam tidak mengenal pemisahan ruang prifat dan publik.

Karena alasan-alasan di atas Azyumardi berkeyakinan, melalui karakter Islam Indonesia, dialog Kristen-Islam terutama dalam konteks hubungan dua negara Indonesia-Australia akan terus berjalan dan dapat kekerjasama dengan semakin baik.

Namun begitu, ia menambahkan, diperlukan ruang-ruang dialog yang lebih konstruktif di kalangan pemimpin agama dan di tingkat elit politik atau pemimpin dua negara untuk mengembangkan ke-saling-sensitif-an dengan lebih mengangkat kesepahaman dan kesamaan ketimbang menonjolkan perbedaan.

Sehingga, hubungan yang selama ini baik di tingkat masyarakat kedua negara, Indonesia-Australia, dengan latar agama dan budaya yang berbeda, didukung pula iklim politik yang santun dalam menciptakan ke-saling-menghargai dan ke-saling-memahami.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!