Vicky Prasetyo, bahasa media, bahasa Indonesia, Liston P Siregar, Heru Hendratmoko

Campuran kata Inggris atau yang keInggris-inggrisan dan Indonesia tiba-tiba jadi tertawaan orang Indonesia. Memang video Vicky di YuoTube sungguh lucu, bukan hanya karena gado-gado katanya saja , juga lancar dan mulusnya ketika dia berbicara plus tampangnya meyakinkan. “Konspirasi kemakmuran” atau “labil ekonomi,” tutur pria 29 year my age itu.

Tapi sebenarnya dari sejak dahulu kala banyak kali Vicky-Vicky lain, di mana-mana di Indonesia. Dan makin tambah banyak dengan makin suburnya internet dan media sosial. Begitu banyak dan amat biasa, sampai diperlukan seorang Vicky Prasetyo untuk membuatnya lucu, dan semoga sekaligus menyadarkan Vicky-Vicky lain tadi.

“Semua proyeksi, semua estimate, di semua negara bagus, global economy will grow,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, suatu waktu.Di sebuah bangsa yang presidennya suka mencampur-campur bahasa, pastilah gejala itu menyebar kemana-mana. Tinggal kadarnya saja yang berbeda, dan mungkin banyak orang yang sekarang ini sepakat kalau Vicky di peringkat paling bawah.

Kalau Vicky pakai bahasa gado-gado biar keren seperti Presiden SBY –yang mungkin ingin sekeren Sekjen PBB- ada juga gado-gado yang, menurut saya, mungkin juga disebabkan kemalasan mencari kata Indonesia yang tepat. Pelakunya sekelompok wartawan, yang seharusnya ikut melindungi bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kenyataannya, mereka ikut merusak bahasa Indonesia, karena banyak menerjemahkan berita dari Bahasa Inggris. Tentu ada pula wartawan yang ngotot karena, katanya, ingin memperkaya Bahasa Indonesia.

Pilihan merusak atau memperkaya itu bisa jadi debat kusir. Tapi dalam liputan langsung MotoGP di sebuah stasiun TV nasional, misalnya, seorang komentator menggunakan rider untuk menyebut pembalap. Sok keren?

Ada juga selebrasi gol, yang sepertinya diambil begitu saja dari goal celebration.  Kenapa bukan perayaan gol, misalnya, yang jumlah hurufnya lebih sedikit dan maknanya sama. Sekali waktu media nasional lain menggunakan partisi untuk pemisah ruangan padahal jelas ada kata Indonesia: sekat. Lebih sedikit hurufnya dan maknanya sama.

Bagaimana pula dengan normalisasi Waduk Ria Rio tapi revitalisasi Waduk Pluit? Jelas kedua wartawannya, atau pejabat Pemda DKI-nya, setali tiga uang dengan Mister Vicky. (Apakah Anda tahu makna setali tiga uang?) Kalau memang niatnya penghalusan dari kata penggusuran tentu menggunakan satu kata, tapi ala Mister Vicky tentu seenaknya.

Dan ketika di Bali saat ini berlangsung pemilihan Miss World, ada judul berita ‘FPI akan sweeping kontestan Miss World’. Di halaman yang sama media nasional tersebut,berita lain diberi judul ‘Polri razia pengguna narkoba’. Yang satu nginternasional dan yang satunya ngendeso. Coba dibalik: FPI akan razia calon Miss World’ dan ‘Polri sweeping user narkoba.’

Bahasa, apa pun, diperkaya dengan masuknya kata-kata baru. Badan Bahasa –yang dulu disebut Dewan Bahasa- punya cara baku untuk menyerap kata-kata baru. Mengunduh dan mengunggah, misalnya, adalah salah satu bukti dari peran media menyebarkan kekayaan baru Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Kegiatan yang belum pernah ada saja ternyata bisa ditemukan kata Indonesianya. Jadi jika sudah ada kata Indonesia untuk makna sama, kok repot dengan kata Inggris. 

Keren dan malas?

Apa pun, semoga Mister Vicky juga mencoreng muka kita semua, dan –lebih penting lagi- menyadarkannya.

*Liston P Siregar, editor www.ceritanet.com, tinggal di London

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!