miss world, miss Indonesia Vania Larissa, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Shampoo merang, hutan tropis

Saya tergelitik dengan status yang dibuat teman saya di sosial media. Dia menulis status begini: "Tidakkah kau lihat, betapa kayanya budaya kita? Lihatlah kini pakaian adat kita dipakai oleh gadis-gadis cantik dari berbagai penjuru dunia di ajang Miss World 2013. Tidakkah engkau bangga sebagai bangsa Indonesia, apapun agama dan mashabmu?"

Status teman saya itu membangkitkan memori terdalam saya tentang konsep kecantikan yang sudah lama tidak dapat perhatian saya sebagai perempuan. Status tersebut juga mengingatkan pertemuan saya dengan Vania Larissa, Miss Indonesia 2012.

Waktu itu di acara Indogreen, Pameran Kehutanan Indonesia di Jakarta Convetion Center, Vania mendampingi Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan berdialog dengan anak-anak. Acara dialog ini diselenggarakan setiap tahun. Anak-anak antusias mengerumuni Miss Indonesia yang cantik itu. Vania menceritakan pengalamannya diajak ibunya merawat tanaman obat milik mereka.

Saya sebetulnya berharap Vania menyampaikan lebih banyak pesan yang berkesan buat anak-anak Indonesia. Terutama tentang hubungan kecantikan Miss Indonesia dengan sumber daya hutan. Karena  bagi saya hal tersebut penting mengingat bombardir konsep kecantikan dan produk kecantikan yang bukan asli Indonesia. Misalnya, wanita Indonesia tidak pernah bangga dengan warna kulit asli mereka. Banyak sekali wanita Indonesia yang terpikat untuk memutihkan kulit mereka dengan produk-produk kosmetik berlabel barat, Timur Tengah, ataupun Korea.

Jika di drama-drama Korea, orang Korea bisa dengan bangga berkata kulit mereka bagus karena memakai tanaman ginseng produk Korea. Bangsa Timur Tengah yang memiliki tanaman sangat minimal pun bisa sesumbar kulit wanita akan sehat jika memakai bahan kurma dan susu produk Timur Tengah. Bagaimana dengan orang Indonesia yang memiliki kekayaan tanaman obat dan kosmetik yang mencapai jutaan di hutan tropisnya yang terancam punah?

Seandainya Miss Indonesia bersedia belajar lebih banyak dia akan bisa menyampaikan kaitan kecantikan dirinya dengan isu bahan kosmetik dan obat yang diperoleh dari tanaman hutan tropis Indonesia yang terancam punah.

Anak-anak saat itu terpukau kecantikan Miss Indonesia. Saat itu sungguh saya berharap dia bilang ke anak-anak Indonesia bahwa dia bangga berkulit asli Indonesia. Kulit sawo matang yang seperti warna madu keemasan. Sebagai orang Indonesia, memiliki kulit sawo matang adalah anugerah yang luar biasa. Karena kulit sawo matang memiliki pigmen melanin  yang bisa mengolah sinar ultra violet dari Matahari tropis yang ganas sehingga orang Indonesia bisa terbebas penyakit kanker kulit.

Berbeda dengan bangsa berkulit putih. Orang kulit putih tidak memiliki pigmen melanin sehingga mereka berusaha mati-matian melindungi diri dari panas sinar Matahari. Penyakit kanker kulit adalah momok bagi bangsa berkulit putih.

Rasa minder memiliki kulit sawo matang sudah menjadi masalah akut wanita Indonesia karena bombardir standar kecantikan dan produk kosmetik ala barat di era kolonial hingga 2000an. Kini produk kosmetik dengan label Timur Tengah dan Korea juga membombardir wanita Indonesia dengan standar kecantikan baru ala Timur Tengah dan Korea. Saya pun jadi bertanya-tanya, kapan wanita Indonesia akan merdeka menentukan standar kecantikan alami khas kekayaan alamnya sendiri? Bukan standar kecantikan khas alam negeri barat, Timur Tengah, atau Korea.

Kita sering lupa kelebihan yang dimiliki sebagai bangsa sendiri.  Nenek moyang kita mempunyai banyak sekali ramuan tradisional dari tanaman asli Indonesia. Kata-kata ini mungkin terdengar klise, tapi itu kenyataan yang saya lihat selama masa kecil saya.

Oma saya membuat shampoo sendiri dari rendaman merang (batang padi) yang sudah dibakar. Shampoo merang itu membuat rambut Oma saya hitam legam sampai akhir hayatnya. Ibu saya sendiri juga rajin membuat lulur dari kunyit dan rempah-rempah lainnya. Ibu teman saya membuat wewangian dari bunga melati dan berbagai rempah-rempah yang harum yang diperoleh dari kebunnya dan hutan Indonesia.

Namun ingatan yang paling kuat dalam benak saya adalah pemandangan ritual pagi seorang wanita paling cantik di kota kecil saya, Bojonegoro. Ketika masih anak-anak, saya selalu melewati rumah Ibu tersebut. Setiap pagi ketika embun masih basah dan harum kue serabi yang dijual pedagang kaki lima meruap di dekat rumah Ibu cantik itu, si Ibu memulai ritual memetik bunga melati di kebunnya. Ibu cantik idola saya ini selalu membuat wewangian dari bunga melati dan rempah-rempah yang dikirim simbok-simbok dari desa di tepi hutan jati.

Sosok keanggunannya memetik bunga melati itu demikian indahnya sehingga saya sampai berjanji akan menanam bunga melati jika saya dewasa nanti agar ayu seperti beliau. Sedangkan, dari Ibu saya sendiri, saya mendapat kenangan beliau rajin membuat masker wajah penghilang kerut dari tumbukan beras segar. Dia juga rajin membuat lulur dari kunyit dan rempah-rempah lainnya untuk merawat kulitnya.

Wanita-wanita Indonesia zaman dulu memiliki pengetahuan tanaman Indonesia yang berguna bagi kecantikannya. Sayangnya, kini saya jarang sekali menemukan perempuan Indonesia yang memakai kekayaan tanaman kosmetik Indonesia. Padahal, jika dilakukan secara rutin, tanaman asli Indonesia itu juga bisa membuat kulit sawo matang Indonesia jadi bening dan kinclong. Tidak kalah indahnya dengan tawaran kinclong dari kosmetik non Indonesia itu.

Saya percaya menjadi wanita cantik itu tidak mudah. Kecantikan sering merepotkan para wanita karena tidak sedikit para pria memiliki persepsi yang beraneka ragam tentang kecantikan mereka. Oleh karena itu, saya berharap wanita-wanita cantik Indonesia yang berkompetisi dalam acara-acara kecantikan juga bisa menyampaikan nilai lebih Indonesia dari sisi dunia orang cantik.

Bagaimanapun, para perempuan cantik juga berhak menunjukkan perannya sebagai warga negara seperti warga negara lainnya di dunia politik, kecerdasan, olahraga, dan lainnya. Syukur-syukur bisa mendapat pengakuan secara internasional. Dan, karena pengaruh orang-orang cantik sering lekat di benak banyak orang, alangkah indahnya jika mereka merumuskan konsep kecantikan Indonesia secara mendalam dan positif.

Kembali ke status teman saya tentang penyelenggaraan Miss World 2013 di Bali, saya pun menulis komentar di status tersebut. Saya bilang, saya bangga baju bangsa saya dipakai bangsa-bangsa lain di dunia dalam perhelatan Miss World 2013. Para desainer kita akan terpacu untuk membuat desain yang diakui dunia. Para penenun kain Indonesia, yang tidak punya penerus ketrampilan menenun lagi, dikenal orang dunia.

Indahnya kecantikan suku-suku Indonesia juga dikenal dunia tanpa harus berpikiran yang negatif. Syukur-syukur jika orang ayu Indonesia menang, mereka bisa bilang bahwa orang Indonesia bangga dengan kulit sawo matang mereka, yang dirawat dengan kosmetik yang diperoleh dari tanaman hutan tropis Indonesia yang terancam punah. Maka, saya pun berharap dunia internasional berbondong-bondong ingin memiliki kulit warna madu keemasan khas Indonesia sembari menyerukan penyelamatan tanaman hutan tropis di Indonesia.

*Johanna Ernawati, wartawan, tinggal di Bogor.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!