piala AFF, Ravi Murdianto, adu penalti, eddy harto

Gelar juara terakhir yang diraih timnas sepak bola Indonesia di kompetisi internasional terjadi pada Sea Games 1991. Ketika itu, Indonesia mengalahkan Thailand 4-3 melalui adu penalti setelah kedua tim bermain imbang tanpa gol selama 120 menit. Kiper Eddy Harto berhasil menepis satu tendangan penalti pemain Thailand.

22 tahun berselang, adu penalti juga yang membawa Indonesia menghentikan paceklik gelar juara. Kali ini di ajang Piala AFF di bawah usia 19 tahun. Timnas Indonesia melakukan revans atas Vietnam – yang mengalahkan Garuda Muda 2-1 di penyisihan grup – melalui adu penalti.

Sosok Ravi Murdianto di bawah mistar gawang yang tampil tenang selama 120 menit seperti menjadi titisan Eddy Harto pada final Sea Games di Manila. Dari sembilan kali tendangan penalti yang dilakukan pemain Vietnam, Ravi berhasil dua kali menggalkan upaya pemain lawan mencetak gol. Kemenangan Indonesia ditentukan oleh Ilham Udin.

Sejarah kembali berulang. Timnas sepak bola Indonesia menjadi juara dengan cara yang paling “kejam” yaitu adu penalti. Adu penalti dalam pertandingan sepak bola adalah drama. Tidak ada jaminan pemain yang menjadi eksekutor bisa dengan mudah memasukkan bola ke gawang dari titik putih. Sejumlah nama besar di sepak bola sudah pernah merasakan kegagalan menjadi eksekutor dalam adu penalti.

Zico gagal mencetak gol dari titik putih saat Brasil dipaksa kalah dari Prancis di perempat final Piala Dunia 1986. Pemain yang dijuluki Pele Putih itu tidak bisa menaklukkan kiper Prancis Joel Bats. Selang empat tahun kemudian, giliran pemain terbaik yang pernah dimiliki Argentina, Diego Maradona gagal menceploskan bola dalam adu penalti melawan Yugoslavia di babak 16 besar.

Pada Piala Eropa 1992, penyerang terbaik Belanda Marco Van Basten juga gagal menjebol gawang Peter Schmeichel sehingga Denmark menang adu penalti dan lolos ke final. Sejarah mencatat, final Piala Dunia 1994 sebagai final terburuk di sepanjang perhelatan turnamen itu. Italia gagal menjadi juara setelah penyerang terbaik mereka pada masa itu, Roberto Baggio melepaskan bola di atas mistar gawang Claudio Taffarel daalam adu penalti. Brasil keluar sebagai juara dunia untuk kali keempat.

Lalu, Inggris menjadi negara yang paling sering kalah dalam urusan adu penalti. Pada semifinal Piala Dunia 1990, St George Cross dikalahkan Jerman lewat adu penalti. Bek Stuart Pearce menjadi pesakitan saat tendangan penaltinya tidak bisa membobol gawang Tony Schumacher. Ketika Piala Eropa 1996 di Inggris, tim tuan rumah belum bisa keluar dari kutukan adu penalti. Alan Shearer dkk tersisih di semifinal lewat adu penalti dari Jerman.

Lalu pada Piala Dunia 1998, Inggris kembali angkat koper setelah kalah adu penalti dari Argentina di babak 16 besar. Portugal menjadi negara yang memperpanjang mimpi buruk Inggris lewat adu penakti di Piala Eropa 2004 dan Piala Dunia 2006, semuanya di babak perempat final.

Kembali ke Ravi Murdianto, refleks yang dilakukannya dengan menepis tendangan penalti kesembilan yang dilakukan pemain Vietnam telah mengukir sejarah baru bagi dunia sepak bola Indonesia. Paceklik gelar juara itu pun berakhir. Tidak ada lagi air mata kesedihan seperti ketika timnas kalah adu penalti dari Thailand di final Sea Games 1997. Adu penalti juga yang memupus impian Indonesia menjadi juara Piala Tiger 2002 setelah kalah dari Thailand di final.

Kerja keras Ravi, Evan Dimas dan seluruh pemain timnas U-19 yang tampil di Piala AFF menjadi setetes air segar bagi seluruh pendukung timnas. Penantian panjang selama 22 tahun sudah berakhir dan tidak ada salahnya untuk berpesta sejenak merayakan sukses timnas U-19. Eddy Harto pasti bangga melihat Ravi Murdianto menjalankan tugasnya dengan baik sebagai kiper yaitu menepis tendangan penalti.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!