Sungguh membanggakan prestasi atlet penyandang disabilitas Indonesia. Di ajang Special Olympics World Summer Games (SOWSG) 2015 di Los Angeles, Amerika Serikat mereka mampu merebut 19 emas. Naik empat emas dari olimpiade empat tahun lalu di Athena, Yunani. Total medali yang diperoleh Indonesia dalam ajang internasional disabilitas kali ini 36 buah. Diperoleh dari cabang bulu tangkis, sepak bola, renang, atletik, bocce atau melempar bola, dan tenis meja.

Prestasi ini jelas penting. Apalagi ini ajang internasional yang diikuti diikuti ribuan atlet dari 177 negara. Prestasi yang diperoleh adalah buah dari ketekunan dan kerja keras. Apalagi di tengah minimnya prestasi negeri ini di ajang olahraga internasional. Juga masih ditambah  masih seringnya terjadi diskriminasi dan  kurangnya perhatian  terhadap penyandang disabilitas.

Di negeri ini para penyandang disabilitas masih sulit mendapat hak mereka. Hak akses ke berbagai layanan publik misalnya. Diskriminasi bahkan dilakukan oleh negara. Setahun silam Kementerian Pendidikan didemo lantaran persyaratan seleksi penerimaan mahasiswa mendiskriminasi siswa berkebutuhan khusus.

Diskriminasi yang masih terjadi inilah yang membuat para pemerhati membuat petisi online untuk mendesak segera disahkannya RUU Penyandang Disabilitas. Bagi membuat petisi, UU bukanlah jawaban cepat untuk keseluruhan problem penyandang disabilitas. Tapi adanya undang-undang ini dipercaya akan menjadi titik awal pembebasan diskriminasi yang masih kerap terjadi dan dialami para penyandang disabilitas.

Prestasi yang diperoleh para penyandang disabilitas itu telah mengharumkan bangsa. Apreasiasi terbaik adalah dengan segera mengesahkan RUU Penyandang Disabilitas. Tentu bukan undang-undang yang asal jadi, tapi yang  berpihak dan melindungi para penyandang disabilitas.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!