Bagiku, ini situasi yang canggung. Seolah menjadi sebuah titik hitam di atas kertas yang sepenuhnya polos dan putih. Di tengah lautan perempuan-perempuan berjilbab dan berpakaian longgar, aku terjebak sendirian. Mengenakan kemeja dan jeans, tanpa kerudung, dengan kalung salib mengintip dari celah di atas kancing teratas kemejaku. Aku tersesat.

Sial! Seharusnya temanku sudah memberitahuku sebelum meminta tolong digantikan memenuhi undangan kalau seminar ini hanya khusus untuk perempuan dan sebagian besar pesertanya kemungkinan besar akan berkerudung. Atau seharusnya aku sudah tahu? Tema seminar ini “Perempuan dalam Islam”. Kampus yang menjadi penyelenggara memang kampus yang kental sekali dengan nuansa Islam, sebagian besar mahasiswinya berkerudung.

Aku mulai berpikir seharusnya tidak datang. Sedari tadi banyak mata memperhatikan. Aneh, mungkin itu yang mereka pikirkan. Sudah tidak berkerudung, berkulit terang, mata sipit, agak tipis kesempatanku untuk mengelak bahwa aku memang belum memutuskan berhijab saja. Aduh! Bagaimana kalau aku dianggap sebagai ancaman?

Aku jadi ingat pengalamanku beberapa waktu lalu ketika menghadiri diskusi bersama pemuda masjid di pelataran depan masjid. Saat itu matahari terik sekali, aku pergi bersama seorang teman dan kami sudah terlambat. Di tengah teriknya matahari, kami berlari-lari tanpa peduli bahwa berlari pada saat cuaca panas justru membuat panasnya terasa semakin menyiksa. Satu meter dari masjid, temanku tiba-tiba berhenti dan berbisik,

“Masukkan dulu kalungmu biar tidak terlalu mencolok.”

Aku meliriknya, mengernyitkan dahi, mengirimkannya sinyal-sinyal penuh tanda tanya. Kalau ini adegan film dengan subtitle berbaris rapi di bawahnya, pasti sudah tertulis, “Memangnya ada apa?”.

Siang ini sudah cukup panas. Sejak tadi aku sudah berlari terburu-buru dikejar waktu, kehausan, ingin cepat-cepat berteduh. Tapi kini, temanku tidak mau kami melangkah sebelum aku menyembunyikan kalungku. Apa yang salah dengan sebuah kalung?

Ya, di tengah rantainya memang tergantung sebuah salib. Lengkap dengan ukiran Yesus dan tulisan INRI di atas kepalanya. Ya, kami memang akan masuk ke dalam masjid dan bukannya gereja. Aku tahu masjid memang tempat beribadah umat Muslim, bukan Kristen, dan di masjid tidak ada salib. Tapi lalu kenapa?

Saat itu, antara tidak mau ribut dan ingin cepat masuk, kuturuti kata-kata temanku. Dan saat ini aku kembali terjebak dalam situasi yang sama. Menjadi minoritas di kalangan mayoritas, dan mencolok. Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku dilema.

Pembicara pertama mulai memaparkan materinya. Ia mulai memaparkan bagaimana posisi perempuan dalam Al Quran. Tapi aku tetap saja tidak bisa fokus. Kalung salib di leherku kini terasa seperti rantai panas yang membelit leherku. Satu dua mata masih melirik-lirik ke arahku. Beberapa berbisik pada teman di sebelahnya, sambil mengamatiku. Mungkin mereka bertanya-tanya darimana sebenarnya aku berasal dan kenapa aku bisa mendarat di aula ini?

Aduh, aku benar-benar salah tingkah. Kalau salibku sampai jelas tampak, apakah mereka akan menganggapku sebagai sebuah ancaman? Aku takut mereka jadi tidak nyaman. Seminar yang berlangsung selama tiga jam bagiku terasa seperti tahunan.

Sayup-sayup kudengar moderator di depan membacakan kesimpulan. Seminar yang menarik kalau saja aku bisa konsentrasi memperhatikan. Tapi persoalan identitas ini membuatku gerah. Tiba-tiba terdengar suara tepukkan tangan. Pembicara tersebut beranjak dari tempat duduknya, seminar ternyata sudah selesai. Rasanya aku ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan kalau saja tidak ada sebuah suara lembut yang menahan,

“Maaf, dari universitas mana?”

Aku menoleh memastikan. Ternyata yang menegur adalah seorang perempuan dengan kerudung lebar sedang tersenyum sopan. Aku membalas senyumnya kikuk dan menyebutkan nama universitasku.

“Oh, saya Fauziah. Saya juga bukan mahasiswi sini.”

Dan aku terkejut ketika mendengarnya menyebutkan nama salah satu universitas swasta Katolik. Aku memperhatikan tampilan perempuan ini. Berkerudung lebar dan berbaju longgar. Penampilannya sangat muslimah.

“Boleh saya tanya? Apakah sehari-hari kamu berpenampilan seperti ini?”

Ia tertawa. “Iya. Awalnya memang canggung. Saya takut dipandang aneh. Tapi lama-kelamaan cuek saja. Ini identitas dan pilihan saya. Kenapa harus malu menunjukkannya? Saya bangga mengenakannya. Ternyata teman-teman yang lain juga menanggapinya dengan santai. Malah kami bisa saling belajar.”

Aku kagum mendengar kalimat perempuan di hadapanku ini. Tiba-tiba aku jadi ingat kejadian di masjid tempo lalu. Juga mengingat tiga jam yang tadi kuhabiskan untuk meresahkan atribut identitasku. Aku jadi malu. Seharusnya aku tidak takut menunjukkan identitasku. Menunjukkan identitas bisa menjadi langkah awal dari sebuah hubungan. Dengan terbiasa, orang-orang tidak akan menjadi alergi lagi terhadap suatu identitas.

“Kamu Kristen?”tanyanya.

Aku mengangguk.

“Wah senang sekali. Maukah kamu menceritakan bagaimana pandangan Kristen soal perempuan?”

Aku tersenyum senang. Entah kenapa aku bisa merasakan denyut-denyut hadirnya persahabatan.

Diambil dari buku “Dialog 100: 100 Kisah Persahabatan Lintas Iman” (penerbit: Jakatarub & Interfidei, 2013).

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!