Triomacan2000, Ulin Yusron, akun anonim, pemerasan Raden Nuh, triomacan

Kembali ke artikel terbaru Raden Nuh di Kompasiana, maka saya memerasnya menjadi beberapa hal yaitu: 


•    Wawancara tanpa izin?
Wawancara dilakukan dengan sangat jelas dengan menyebut identitas pewawancara dan maksud tujuannya. Tak ada jebakan sama sekali. Besar kemungkinan kenapa Raden Nuh begitu mudahnya membuka mulut menjelaskan jati dirinya, bisa jadi karena ia masih berharap proposalnya ke Beritasatu TV mendapat lampu hijau dengan pengakuan tersebut. Apa lacur justru kedoknya terbuka dari wawancara itu. Perilaku baik selalu bermula dari niat baik.

•    Reportase kantor dedengkot #3macan2Ribu tidak sesuai?
Reportase di kantornya dilakukan sesuai kartu nama yang diberikannya kepada petinggi Beritasatu TV. Kita jelas tidak bisa mereka-reka liputan tanpa petunjuk. Soal kantor itu adalah anak perusahaan grup konglomerat dengan omset triliunan per tahun dan laba ratusan miliar, bukanlah urusan kami. Yang utama apakah benar keberadaan Raden Nuh, admin #3Macan2Ribu di kantor tersebut dan apakah kantor itu masih beroperasi. Biarkan pembaca mengambil kesimpulan sendiri bagaimana bonafiditas perusahaan tersebut, tempat Raden Nuh berkantor.

•    Keluar dari Beritasatu
Aku memang sudah tidak di Beritasatu lagi. Apakah karena dipecat, dikeluarkan atau apa itu juga bukan urusan publik. Aku masuk dan keluar secara baik-baik. Hidup yang sekali jadikan berarti!

•    Aku telah diperiksa polisi?
Ini contoh pernyataan khas admin #3Macan2Ribu yang biasa membual. Sejak membongkar operator akun fitnah #3Macan2Ribu hingga hari ini tidak ada satu pun polisi yang memeriksaku. Mengarang cerita memang biasa dilakukan #3Macan2Ribu saat menyebut keterkaitanku dengan Adam Wahab. Bagaimana bisa dikaitkan sementara mengenal Adam saja tidak? Contoh karangan cerita #3Macan2Ribu yang masih dipakai sampai sekarang adalah saat ia berusaha membela habis-habisan Anas Urbaningrum dengan menyebut aku ikut rapat di kantor Menpora untuk membelokkan opini.

•    Difitnah media? Kebebasan pers disalahgunakan?
Media tidak memfitnah #3Macan2Ribu. Justru #3Macan2Ribu yang memfitnah banyak orang demi imbalan uang yang nyata. Liputan Tempo, Beritasatu, Vivanews tak ada yang memesan dan membayar. Menuduh Beritasatu.com membuat laporan khusus #3Macan2Ribu dengan motif “mendapatkan rupiah yang tidak seberapa dengan tanpa malu dan ragu rela menghamba dan melacurkan diri”, adalah pernyataan bumerang yang kembali pada diri #3Macan2Ribu sendiri. Bukankah polah dan tindak tanduk yang selama ini ditunjukkan mereka adalah menghamba pada uang? Mari kita segarkan ingatan kita! Masih hangat dalam ingat kita pernyataan #3Macan2Ribu “kalau Jokowi menang akan makan tai kuda sebanyak 10kg”. Kita juga menunggu kapan janji itu direalisasikan supaya kita semua bisa menambahkan bumbu masak dan gula agar tai kuda tak terlalu masam dan memberi rasa nikmat bagi admin #3Macan2Ribu dalam menyantap. Pernyataan serampangan yang dilakukan#3Macan2Ribu itu semata-mata untuk membuktikan pada kliennya, Foke, bahwa mereka serius membela Foke, bahkan kalau perlu sampai tahi kuda penghabisan. Kebebasan pers apa yang dilanggar oleh media yang membongkar kebusukan #3Macan2Ribu? Coba suruh lapor sesuai mekanisme yang ada di UU Pers Nomor 40 Tahun 1999.(Istilah yang benar adalah UU Pers bukan UU Pers Nasional, seperti dalam tulisan Raden Nuh). #3Macan2Ribu tidak paham bagaimana menyelesaikan persengketaan berita. Mana mungkin #3Macan2Ribu berani datang ke Dewan Pers atau mengambil langkah ekstrim, mengkriminalisasi pers, dengan melapor ke polisi? Beranikah mereka melaporkan ke lembaga-lembaga resmi? Dengan melapor maka berarti membuka jati diri subyek yang selama ini ditutup-tutupi.

Jika kemudian sekarang dedengkot #3Macan2Ribu berani muncul dengan membuat tulisan di Kompasiana itu peristiwa menarik. Kenapa menarik? Sebab kalau ada laporan pencemaran nama baik ke polisi atas kicuauan fitnah yang dilakukan #3Macan2Ribu, maka polisi bisa menelusuri keberadaan admin akun #3Macan2Ribu lainnya dengan mencokok Raden Nuh.

Berlindung di balik anonimitas dan kebebasan pers, seperti yang ditunjukkan akun #3Macan2Ribu dan akun anonim lainnya, itulah sesungguhnya penumpang gelap sosial media. Akibat polah #3Macan2Ribu maka ribuan akun anonim lainya menjadi terkena imbasnya. Akun anomin seperti #3macan2ribu itu memang berbeda dengan media massa. Akun anonim bekerja untuk melayani seseorang atau kelompok, sementara media massa bekerja untuk mengabarkan kepada audiens, memberi tempat kepada public untuk bersuara, mendidik dan menghibur audiensnya.

Sekedar menyebut contoh, #3Macan2Ribu sengaja menumpang dalam isu orang hilang. Kasus penghilangan paksa aktivis pada 1997/1998 yang melibatkan Prabowo Subianto dan jenderal ABRI pada masa Orde Baru itu oleh #3Macan2Ribu dipakai untuk menyerang Jokowi Ahok yang didukung PDIP dan Gerindra. Akun #3Macan2Ribu dan akun-akun bentukannya semua meretweet tweet tentang orang hilang. Semua dilakukan semata-mata untuk menghamba pada Foke mati-matian. Mereka berjuang tidak tulus, mereka menunggangi isu agar isu utama yang ia usung tetap mendapat tempat. Retweet kasus orang hilang hanyalah dilakukan untuk mengarahkan agar warga Jakarta tak memilih Jokowi-Ahok sebab di belakang mereka berdua ada Prabowo.

Mereka juga menunggangi kasus Munir. Bayangkan saja, bahkan untuk kasus orang hilang  dan kasus Munir, dua kasus yang keluarganya masih terus mencari keadilan, akun #3macan2ribu tega menungganginya demi segepok duit. Rasa kemanusiaan dan keadilan telah ditukar dengan uang. Di mana letak kejujuran dan perangi kemunafikan yang menjadi tagline #3macan2ribu? Sama sekali #3Macan2Ribu tak memiliki tendensi penuntasan kedua kasus tersebut.Mereka seakan gagah berdiri bersama aktivis kemanusiaan, padahal rekening mereka telah terisi dari dagangan tersebut. Kasus orang hilang dan kasus Munir yang tak beranjak, tidak pernah terbersit di kepala #3Macan2Ribu.

Contoh lain: bagaimana mau perangi koruptor kalau lembaga paling kredibel pemberantasan korupsi, KPK, justru dinista #3macan2ribu? Lantaran membela Anas Urbaningrum, #3Macan2Ribu menebar dan mengutip ayat-ayat Qur’an untuk menegaskan agar tagihan ke klien bisa terus berjalan.

Tips Memakan Tahi Kuda

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!