Perkebunan teh Gunung Mas, kawasan Puncak yang rusak, hilangnya teh terbaik

Saya baru menyadari akibat pemanasan global dan perubahan iklim itu bagi kehidupan saya sehari-hari ketika saya  kehilangan teh terbaik yang bisa dibeli murah di pabrik teh Gunung Mas. Saya tidak akan lagi memperoleh kemewahan teh terbaik dunia dengan harga murah di Gunung Mas, Puncak, Bogor.

Makna pemanasan global dan perubahan iklim kembali menguat dalam benak saya ketika pembantu saya datang berkunjung ke rumah. Sejak berhenti bekerja di tempat saya, pembantu saya kembali tinggal di desanya, Cimulang, yang jauh dari kota Bogor. Saya ingat rumahnya dulu dikelilingi hutan dan perkebunan karet. Sembari dia membuatkan makanan kesukaan saya, Tahu Berontak, dia bercerita mahalnya hidup di desa.

Dia harus membeli air setiap hari satu galon seharga Rp 3,000 plus ongkos ojeknya Rp 3,000. Total setiap hari dia harus mengeluarkan uang Rp 6,000 dari gaji harian dia sebagai buruh yang Rp 15,000 per hari. Nyaris separuh pendapatannya dipakai untuk membeli air.

Tentu saja saya heran, bagaimana mungkin hidup di desa bisa kesulitan air. Setiap mendengar kata desa di Tatar Sunda, yang muncul dalam benak saya adalah sebuah lukisan indah. Sebuah kampung di pinggir hutan yang menyediakan banyak daun dan buah sebagai makanan. Sebuah kampung yang dialiri sungai-sungai kecil berair bening dengan bunyi bergemericik, yang menyediakan air gratis.

Dengan logat Sundanya yang kental, pembantu saya bercerita dulu dia memang tidak kesulitan memperoleh air. Dulu banyak mata air di hutan. Namun, sejak hutannya diubah jadi perkebunan kelapa sawit, penduduk desa kesulitan memperoleh air. Hutan hilang, air hilang. Tidak ada lagi mata air yang menyediakan air minum gratis. Mereka harus membeli air setiap hari untuk minum dan masak. Dan, malangnya, penduduk desa tidak menyadari bahwa mereka kehilangan air karena hutan telah hilang.

Pembantu saya tidak menyadari makna hutan bagi ketersediaan air yang dia butuhkan sehari-hari. Saya juga tidak menyadari makna hutan di Puncak ketika saya menikmati susu di restoran wisata tujuh tahun lalu. Saya tidak menyadari saya minum susu di restoran susu, yang dibangun di areal hutan, sementara sapi-sapinya membutuhkan banyak air yang disediakan oleh hutan di sekitar Puncak.

Kenikmatan saya menggigit Tahu Berontak juga sejenak tercekat ketika saya melihat kilau minyak goreng yang dihasilkan perkebunan kelapa sawit. Saya melirik kulit saya yang memakai lotion berbahan dasar minyak kelapa sawit. Saya mencium aroma lulur teh hijau di kulit saya yang baru saya peroleh dari salon kecantikan. Saya juga teringat rekan saya yang membeli areal hutan di Papua untuk dijadikan kebun kelapa sawit. Padahal, Papua bersama Kalimantan adalah dua pulau yang mempunyai sumber air tawar terbesar di Indonesia karena kedua pulau itu memiliki hutan terbesar di Indonesia.

Apakah air tawar yang segar juga akan lenyap dari Papua ketika hutannya hilang, berganti kelapa sawit seperti di desa pembantu saya?

Pikiran saya penuh benang-benang pikiran yang perlu saya telusuri. Saya tidak bisa membayangkan hidup saya susah air. Selama ini air Bogor sangat bening dan segar. Setiap saya mandi saya bisa merasakan kesegaran air itu meresap di kulit, yang tidak akan saya temukan ketika saya mandi dengan air Jakarta, Bekasi, atau Tangerang. Saya tidak ingin anak saya kekurangan air di masa sekarang dan masa depan.

Pemerintah Bogor konon mendapat dana internasional untuk mewujudkan kota Bogor rendah karbon untuk mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim. Sayangnya, saya belum mendengar aksi kota Bogor rendah karbon tersebut.

Namun, saya berpikir sepertinya kita, tiap individu, perlu menelusuri terus menerus efek pilihan hidup kita pada alam. Komitmen semacam ini terasa klise karena sudah dikampanyekan dengan segala cara dan arah.

Tetapi, kenyataannya, kita masih santai sekali menanggapinya. Perubahan iklim sudah terjadi di depan mata. Kita sudah kehilangan teh terbaik, bahan kosmetik terindah dan sumber air tawar yang murah.

Ah ekosistem Puncak yang rusak. Dan kami harus membayarnya dengan kehilangan kenikmatan mencecap rasa teh terbaik yang pernah ada dari kawasan ini.

Johanna Ernawati, jurnalis, tinggal di Bogor


Tujuh tahun lalu, saya membawa anak-anak....(kembali ke tulisan 1)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!