Perkebunan teh Gunung Mas, hilangnya teh terbaik, rusaknya ekosistem Puncak

Tujuh tahun lalu, saya membawa anak-anak dan keponakan berlibur ke perkebunan teh Gunung Mas, Puncak, Bogor. Sebagaimana umumnya keluarga yang  berlibur, pikiran kami hanya dipenuhi senangnya menikmati  segarnya udara dingin Puncak, membawa anak-anak berkuda di perkebunan, dan menikmati minuman teh yang wangi.  Tak lupa – ini bawaan saya yang tukang cerita ke anak-anak – saya bercerita ke anak-anak kecil itu sejarah perkebunan teh yang dulunya hutan.

Saya mengajak mereka naik kuda sambil bercerita orang-orang zaman dulu naik kuda dari Jakarta ke Bogor. Ketika pulang kami mampir ke restoran susu, untuk makan dan beli oleh-oleh susu segar. Lagi-lagi, saya bercerita ke anak-anak tentang peternakan sapi yang menghasilkan susu yang mereka minum setiap hari.

Saya bercerita bagaimana sapi-sapi itu butuh minum air banyak sekali untuk menghasilkan susu. Sehari itu, kami senang sudah berlibur ke restoran susu yang menarik dan perkebunan teh yang terkenal dengan tehnya kelas dunia.Saat itu tidak terbersit di benak saya bahwa saya akan menemukan benang-benang kusut dari wisata yang saya nikmati itu di tahun-tahun mendatang.

Bulan Juli 2013 saya kembali mengunjungi perkebunan teh Gunung Mas. Seperti biasa, jalanan padat dengan kendaraan keluarga yang berwisata ke Puncak. Faktor macet ini pula yang membuat saya malas wisata ke Puncak.

Setiba di Puncak, betapa terkejutnya saya ketika mendapati pabrik teh Gunung Mas sudah tutup. Bu Yanti, Manager Quality Control Perkebunan Gunung Mas, menyampaikan pabrik teh Gunung Mas telah tutup sejak setahun lalu karena produksi teh Gunung Mas merosot. Suhu udara di Puncak sudah berubah hangat sehingga ranting-ranting teh enggan menghasilkan pucuk-pucuk daun terbaik.

Air yang diperlukan untuk membasahi akar-akar teh juga sulit diperoleh karena hutan di sekitar kebun teh telah rusak dan diubah menjadi tempat wisata. Akibatnya, akar-akar tanaman teh kekeringan dan meranggas di musim kemarau. Lebih dari itu, sampah-sampah yang dibuang para wisatawan di kebun teh secara sembarangan, telah menimbulkan hama penyakit teh.
 
Telusur punya telusur, asap kendaraan wisatawan telah meningkatkan jumlah gas karbondioksida di Puncak. Gas karbondioksida ini mengikat panas sinar Matahari sehingga suhu udara di Puncak menghangat. Suhu udara yang hangat juga telah menghambat pembentukan kabut di Puncak. Sebenarnya, karbondioksida bisa diserap oleh pohon-pohon seandainya hutan di Puncak tidak ikutan rusak. Runyam, kan?

Lebih lanjut, Bu Yanti berkeluh kesah, sekarang kabut jarang muncul di Puncak. Sebagai penduduk asli Puncak, dia ingat dulu Puncak selalu diselimuti kabut di sore hari. Penduduk Puncak harus memakai jaket dan selimut saat tidur. Sekarang jaket dan selimut tidak diperlukan lagi karena udara Puncak sudah hangat. Penelitian Institut Pertanian Bogor juga menemukan suhu permukaan tanah Puncak sudah terlalu panas untuk tanaman teh. 

Dengan semua keadaan itu, tidak heran, produksi perkebunan teh Gunung Mas telah merosot. Pucuk-pucuk daun teh Gunung Mas tidak lagi menyuplai kemasan-kemasan teh termahal dunia, seperti kemasan teh dengan label terkenal Earl Grey.

Teh kualitas terbaik dunia telah hilang dari perkebunan Gunung Mas, Puncak, Bogor. Teh terbaik kini hanya bisa ditanam di daerah lain yang masih memiliki suhu dingin dan banyak air seperti Cianjur, Lembang dan Malabar.

Kebetulan saya tertarik pada isu pemanasan global dan perubahan iklim. Para ilmuwan menyampaikan adanya ancaman kehilangan pangan jika kita mengabaikan pemanasan global dan perubahan iklim. Sayangnya,makna pemanasan global dan perubahan iklim kadang masih kabur dalam kehidupan saya sehari-hari.


Saya baru menyadari...(ke bagian 2)




Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!