Triomacan2000, Ulin Yusron, akun anonim, pemerasan Raden Nuh, triomacan

Inti dari tawaran #3Macan2Ribu adalah akan memasok sejumlah data dan informasi secara rutin ke BeritasatuTV untuk dijadikan bahan liputan investigasi. Nilai uang yang diajukan sangat fantastis, setahun Rp1 Miliar. Karena kaget mendapat tawaran sebesar itu, Don Bosco meminta tim Beritasatu TV menghitung kelayakannya. “Dana sebanyak itu cuma mendapat data. Sementara kita masih harus verifikasi data, liputan, mengambil gambar, editing dan seterusnya, tawaran itu jelas tak layak”. Kelanjutan proposal itu pun tidak jelas karena petinggi Beritasatu TV membiarkan tawaran itu menggantung.

Tapi gambaran pertemuan itu telah menjadi bukti tak terelakkan siapa sesungguhnya akun fitnah #3Macan2Ribu yang selama ini direka-reka tanpa ada bukti tertulis. Berbekal kartu nama yang dilengkapi dengan nomor telepon dan alamat kantor itu, penyusunan puzzle investigasi dilakukan.

Keberadaan kartu nama yang jika dilihat dicetak secara kurang bonafide itu meyakinkan kesumiran siapa sesungguhnya admin akun tersebut. Sebenarnya di antara ribuan jurnalis dan aktivis di Indonesia, beberapa di antaranya sudah mengenal siapa pemegang akun #3Macan2Ribu. Tapi kebenaran jurnalistik, sebagaimana diajarkan dalam rumus-rumus investigasi, tetap membutuhkan bukti bukan cuma pengakuan.

Jadinya sejak beberapa hari aku oprek-oprek internet, buka chirpstory, aku stalking akun yang banyak membicarakan #3macan2ribu. Dari kartu nama Raden Nuh alias #3macan2ribu itu aku minta Liberty alias @kakalibersky, untuk wawancara Raden Nuh.

Aku sendiri memverifikasi data yang masuk dari beberapa sumber. Aku uji informasi yang masuk , termasuk modus operandi cara menguangkan kicuan. Dari semua klien yang coba didekati maupun yang sudah deal, rupanya ada benang merah yaitu: mulut #3Macan2Ribu menganga menunggu duit datang. Proses mendatangkan duit bisa dengan cara marketing jasa investigasi, memukul, menghajar lalu menawarkan damai.

Buat yang pernah belajar jurnalisme, #3macan2ribu itu punya news value yang sangat tinggi. Semua unsur kelayakan berita terpenuhi. Bagaimana tidak, ada akun anonim yang bukan hanya teriak di tapak waktu secara online tapi juga aktif mengajak pertemuan demi mempertebal kantong, meskipun itu dengan menjual fitah dan bualan.

Apa yang dipertontonkan #3Macan2Ribu bukanlah contoh tentang perjuangan atas dan bawah secara konsisten. Yakni sebuah metode perjuangan dalam menegakkan kebenaran melalui sebuah kombinasi strategi bawah tanah dan strategi publikasi.Di mana strategi atas dan bawah (strategi terbuka dan strategi tertutup) sama-sama bekerja tanpa publik mengetahui keduanya saling terhubung.

Sebenarnya akun anonim sudah lama dipakai di masa perjuangan dulu. Sejak di zaman penjajahan Belanda, banyak penulis anonim yang menulis di media-media lokal untuk mengkritik penjajah. Sekedar menyebut penulis seperti Ronggowarsito, Mas Marcokartodikromo bahkan Ki Hajar Dewantoro, Multatuli pun pernah menggunakan identitas anonim. Demikian pula strategi anonim juga dipakai sewaktu kalangan aktivis menerbitkan pers bawah tanah demi menghindari represi rezim orde baru. Kita mengenal majalah Independen, Pembebasan, Kabar dari Pijar, bahkan forum diskusi “apakabar” juga banyak menggunakan anonimitas untuk menutupi jati diri penulis tanpa menutup substansi informasi yang hendak disampaikan.  

Ketika rezim represif orde baru membredel Tempo, Editor dan Detik yang memicu lahirnya Aliansi Jurnalis Independen (AJI) sebagai perlawanan wadah tunggal organisasi wartawan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), banyak aktivis AJI yang terpaksa bekerja di media umum dengan menggunakan nama samaran. Strategi ini dilakukan karena PWI melarang media massa mempekerjakan jurnalis yang menentang wadah tunggal organisasi pers. Ada beberapa media yang bersedia menampung jurnalis anggota AJI untuk bekerja meski nama aslinya tidak tercantum di box. Sekedar menyebut nama media yang menaungi jurnalis AJI, tanpa mengecilkan media lain yang tidak disebut, seperti Media Indonesia, Kontan, D&R, Jakarta Jakarta dan sebagainya.

Dalam teori jurnalistik juga dikenal anonimitas nara sumber, yaitu menutup penyebutan nara sumber demi melindungi jati diri nara sumber yang membocorkan informasi penting yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Contohnya skandal Gedung Putih, rekening gendut Polri dan banyak lagi. Syarat jurnalisme seperti itu sangat ketat: ukurannya adalah menyangkut kepentingan publik seperti patgulipat, korupsi, penggelapan pajak dan sebagainya. Jadi bukannya sebuah isu antah berantah yang tidak jelas narasumbernya lalu dengan mudah disebut: kabarnya, alkisah, publik pun mempertanyakan, sumber anonim untuk isu-isu selebritas yang tak ada kaitan dengan kepentingan publik yang diciderai lembaga pemangku kepentingan.

Kepanikan #3Macan2Ribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!