premiere league, alex ferguson, manchester united, david moyes

Premier League merupakan kasta tertinggi dalam kompetisi sepakbola di Inggris. Usianya masih muda, 21 tahun. Sebelum berganti nama menjadi Premier League, kompetisi paling bergengsi di Inggris adalah Divisi Satu. Besok, Premier League musim 2013/14 akan dimulai. Ada 20 klub yang akan bersaing untuk meraih trofi juara. Setiap klub akan memainkan 38 pertandingan, kandang dam tandang mulai 17 Agustus 2013 hingga Mei 2014.

Ada yang berbeda dari Premier League musim depan. Tidak ada lagi sosok pria yang mengunyah permen karet di sepanjang pertandingan sambil menyaksikan anak asuhnya berjuang di lapangan hijau. Sosok itu – Sir Alex Ferguson – sudah pensiun sebagai manajer setelah hampir 27 tahun menjadi arsitek Manchester United.

Premier League adalah era Alex Ferguson dan juga Manchester United. Sebelum ada Premier League, Manchester United baru tujuh kali menjadi juara liga Inggris. Jumlah itu kalah jauh dari Liverpool yang sudah 18 kali juara dan Arsenal yang sudah 10 kali juara. Bahkan, jumlah gelar juara Man United sebelum era Premier League masih kalah dibandingkan Everton yang sudah 9 kali juara.

Semuanya berubah ketika manajemen Manchester United menunjuk Alex Ferguson, bekas pelatih Aberdeen sebagai pengganti Ron Atkinson pada November 1986. Pria asal Skotlandia itu adalah seorang pemenang. Dia berhasil mendobrak dominasi dua klub Glasgow yaitu Celtics dan Rangers dengan membawa Aberdeen juara liga Skotlandia pada 1984 dan 1985.

Namun, Fergie perlu waktu cukup lama untuk bisa mencuri hati fans Manchester United. Tiga musim pertama di stadion Old Trafford, yang diterimanya lebih banyak olok-olok daripada pujian. Man United memang sempat menjadi runner up pada musim 1987-88. Setelah itu, klub dengan julukan Setan Merah itu terpuruk di posisi 11 dan 13 pada dua musim berikutnya. Bahkan, fans Man United sempat membawa poster ke stadion yang isinya mendesak manajemen klub memecat Fergie. Tuntutan itu mereda ketika Man United bisa juara Piala FA pada 1990. Pada musim 1990-91, Fergie berhasil membawa Man United ke posisi 6 dan menjadi juara Piala Winners.

Fergie hampir menorehkan sejarah pada musim 1991-92 ketika anak asuhnya nyaris merengkuh trofi juara. Akan tetapi, gelar juara yang sudah di depan mata itu itu lenyap dan direbut Leeds United yang ketika itu diperkuat pemain kontroversial Leeds United. Bagi Fergie, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Ketika format Divisi 1 berubah menjadi Premier League, Fergie membuat kejutan dengan menjual sejumlah pemain topnya yang mulai dimakan umur dan mengandalkan para pemain muda yang dikenal dengan Class of 92.

David Beckham, Ryan Giggs, Gary dan Phil Neville dan Nicky Butt adalah fondasi kesuksesan Man United di era Premier League. Keputusan Fergie menurunkan pemain muda memang tidak langsung membuahkan hasil. Pada pertandinga perdana Premier League 1992-93, Man United kalah dari Aston Villa. Kekalahan inilah yang membuat pemain legendaris Liverpool Alan Hansen mengkritik keputusan Fergie tersebut dengan mengatakan,”You’ll Never Win Anthing with Kids (Anda tidak akan bisa meraih gelar juara apa pun dengan anak-anak).

Kita semua tahu bagaimana akhir dari perjudian Fergie tersebut. Man United menjadi juara Premier League. Sejak itu, Fergie dan Man United telah berubah menjadi kekuatan yang menakutkan di Inggris. Gelar demi gelar juara terus diraih Fergie. Puncak kejayaan Man United terjadi pada musim 1998-99 ketika merebut treble winners yaitu liga Inggris, Piala FA dan liga Champions. Kerajaan Inggris memberi penghargaan gelar kebangsawanan Sir kepada Fergie. Sejak itu, namanya berubah menjadi Sir Alex Ferguson.

Pada 2002, Fergie sempat mengumumkan niatnya untuk pensiun sebagai manajer. Pernyataan itu dilontarkan ketika kompetisi masih berjalan. Dampak dari pengumuman itu langsung terasa. Man United tidak meraih satu gelar juara pun. Gelar juara Premier League jatuh ke tangan Arsenal dan Man United harus puas menempati posisi tiga, posisi terburuk sejak Premier League dimulai.

Fergie membatalkan niatnya untuk pensiun. Dia meneruskan pekerjaannya sebagai manajer dan kembali membawa Man United meraih gelar juara demi juara. Trofi Premier League, Piala FA, Piala Liga hingga Liga Champions direbutnya setelah membatalkan niat pensiun. Pada akhir musim 2012/13, Ferguson kembali melontarkan niatnya untuk pensiun.

Bedanya, keputusan itu diumumkan saat Man United telah meraih gelar juara ke-20, ke-13 di era Ferguson. Kali ini, tekadnya sudah bulat dan tidak ada pembatalan. Sang pengganti David Moyes – yang sama-sama orang Skotlandia – mempunyai tugas berat untuk melanjutkan kejayaan Fergie.

Selain brilian dalam menerapkan taktik, Fergie juga dikenal punya insting yang bagus dalam mengorbitkan pemain yang tidak terkenal. Sebut saja nama kiper Peter Schmeichel, Roy Keane, Ruud Van Nistelrooy, Cristiano Ronaldo hingga Wayne Rooney. Semuanya mencapai puncak kejayaan setelah dilatih oleh Ferguson di Man United.

Fergie juga bukan tipe manajer yang gemar membeli pemain bintang dengan harga mahal. Dua pemain paling mahal yang pernah dibelinya adalah Rio Ferdinand dan Dimitar Berbatov di angka 30 juta poundsterling. Ketika membeli Cristiano Ronaldo dari Sporting Lisbon, Fergie hanya mengeluarkan uang 12 juta pounds. Dan, ketika Madrid membajak Ronaldo pada 2009, klub ibu kota Spanyol itu harus mengeluarkan uang 80 juta poundsterling, rekor termahal dalam transfer pemain sepakbola.

Kini, David Moyes hanya tinggal meneruskan kerja keras Fergie selama 27 tahun. Manchester United memiliki pemain yang hebat, di tim inti dan juga di tim yunior. Akan tetapi, bukan hal yang mudah bagi Moyes untuk bisa mengikuti jejak seniornya itu. Masalah sudah menghadang Moyes ketika penyerang Wayne Rooney ingin pindah klub. Masalah yang hingga kini belum juga selesai. Padahal, Ferguson bisa dengan mudah meredam keinginan Rooney itu ketika dia ingin pindah ke Manchester City pada 2010.

Hambatan lain yang dihadapi Moyes adalah membeli pemain baru. Baru satu pemain yang bisa dibeli yaitu Guillermo Varela dari Uruguay. Dua pemain yang jadi incarannya yaitu Thaigo Alcantra dan Cesc Fabregas menolak. Bursa transfer pemain akan ditutup 2 September nanti. Bukan tidak mungkin, Moyes akan gagal dalam menambah pemain baru.

Namun, fans Manchester United mungkin tidak perlu khawatir. Sekolah akademi Manchester adalah salah satu yang terbaik di dunia. Di sekolah akademi itulah lahir salah satu pemain terbaik di Inggris yaitu David Beckham dan Paul Scholes. Dalam pertandingan pra musim ke Asia, Moyes mulai memberi kepercayaan kepada Adnand Januzaj dan Jesse Lindgard tampil sebagai pemain inti.

Dua pemain itu memang masih minim jam terbang di Premier League. Akan tetapi, skuad Manchester United tidak banyak berubah yang tentunya para pemain sudah bisa mengerti satu sama lain di lapangan. Moyes memang sudah 11 tahun wara-wiri di Premier League bersama Everton. Namun, dia belum sekalipun merasakan trofi juara.

Di tangan Moyes, nasib Manchester United digantungkan. Sebagai perbandingan, Fergie perlu waktu empat tahun untuk memberikan trofi juara bagi Man United yaitu Piala FA dan tujuh tahun meraih juara Liga. Fans Manchester United di seluruh dunia tentu berharap, Moyes tidak harus menunggu selama itu untuk kembali memberikan gelar juara demi juara bagi The Red Devils.

Penulis adalah pecinta liga Inggris dan fans Manchester United

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!