metallica, konser lebak bulus, kerusuhan, jakarta

Informasi itu saya baca dari Majalah HAI. Di era 90-an – ketika belum ada internet – majalah HAI menjadi acuan untuk mengetahui informasi seputar musik. Sejak duduk di bangku SMP hingga SMA, saya selalu rutin membeli majalah HAI. Bukan hanya untuk membaca informasi terbaru tentang musik, tetapi juga untuk mendapatkan gosip paling gres tentang musisi luar yang akan konser ke Indonesia.

Ketika itu, saya membaca artikel tentang grup musik Metallica yang akan konser di Jakarta, April 1993. Saya bukan fans berat Metallica. Namun, ketika itu momen kedatangan grup dengan vokalis James Hetfielfd itu sangat tepat. Lagu Enter Sandman yang merupakan single pertama dari Black Album tengah jadi hits. Hampir setiap hari, radio-radio di Jakarta memutar lagu itu (ketika itu, TV lokal masih jarang memutar video klip dari musisi luar).

Saya dan beberapa teman SMA langsung sepakat untuk menyaksikan penampilan James Hetfield dkk di stadion Lebak Bulus. Tiketnya lumayan mahal untuk ukuran saat itu. Rp 30 ribu untuk tribun dan Rp45 ribu di festival. Masih ada kelas VIP yang kalau tidak salah Rp100.000. Lupakan saja kelas VIP, saya dan beberapa teman memutuskan untuk membeli tiket Festival.

Beruntung, ada waktu sekitar 1-2 bulan sebelum Metallica benar-benar tiba ke Jakarta. Karena, saya harus menyisihkan uang saku tiap hari agar bisa membeli tiket itu. Setelah terkumpul, barulah saya mendatangi Ibu Dibyo di Cikini untuk membeli tiket. Dulu, hampir semua acara musik pasti tiketnya dijual di Ibu Dibyo, beda dengan sekarang yang bisa pesan secara online.

Ada empat teman SMA saya yang membeli tiket itu, Poltak, Okta dan dua lagi saya lupa (maaf yah temans ?). Seingat saya, tiket langsung diterima ketika sudah membayar secara tunai. Ada bonusnya, semua pembeli tiket Metallica mendapatkan album Setiawan Djody. Kenapa Setiawan Djody? Karena dia adalah promotor yang mendatangkan Metallica dan juga konglomerat yang suka musik. Jadi, biarlah dia narsis dengan membagikan gratis albumnya itu, toh saya juga tidak perlu mendengarnya.

Metallica menggelar konser selama dua hari, 10 dan 11 April. Saya memilih hari pertama. Alasannya sederhana, ingin jadi yang pertama melihat aksi personil Metallica menyanyikan lagu Enter Sandman secara live dan dari dekat. Kalau hari kedua, pasti penonton di hari pertama sudah akan ember untuk menceritakan konser itu. So, Sabtu siang 10 April 1993, saya menjemput tiga teman saya di jalan Batu, Gambir (tempat saya menuntut ilmu di SMA4) sebelum menuju Lebak Bulus.

Sekitar jam 4 sore, kami berempat sudah sampai di jalan Arteri Pondok Indah, Jakarta Selatan. Selama perjalanan, kami sempat berdiskusi – bukan soal konser Metallica – tetapi tentang dimana mobil akan saya parkir. Ada yang usul, parkir saja di dekat Lebak Bulus. Ada juga yang usul di PIM aja (itu nama beken Pondok Indah Mall di era 90-an). Saya memilih usul kedua, dengan pertimbangan untuk jaga-jaga kalau terjadi kerusuhan selepas konser.

Saya tidak menyangka pilihan itu merupakan salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya, he..he..he…. Saya kemudian memarkir mobil di tempat paling belakang di area parkir PIM.

Jarak antara Pondok Indah Mall dengan stadion Lebak Bulus lumayan jauh. Ternyata, banyak juga para penonton konser Metallica yang melakukan hal yang sama, memarkir mobil di PIM dan berjalan ke stadion Lebak Bulus. Kami berempat, ditemani dengan puluhan orang lainnya berjalan bersama-sama menuju lokasi konser. Di sepanjang perjalanan, saya melihat sejumlah mobil yang di parkir di pinggir jalan. Sepertinya, pemilik mobil ini juga akan menonton konser Metallica, kata saya dalam hati.

Setelah berjalan sekitar 20-30 menit, kami pun tiba di depan stadion Lebak Bulus. Meski konser baru dimulai jam  7 malam – ketika itu baru sekitar jam 5 sore – sudah banyak orang yang menggunakan bandana serta kaos hitam dengan gambar personil Metallica duduk di seputaran stadion. Penantian selama dua jam pun berakhir ketika panitia mengizinkan pemegang tiket untuk masuk ke stadion.

Ini bukan pertama kali saya masuk ke stadion Lebak Bulus untuk menonton konser. Pada pertengahan 1990, saya juga menyambangi stadion ini untuk menyaksikan konser penyanyi pop Richard Marx. Yup, vokalis yang pada masa itu tengah naik daun dengan lagu balada Right Here Waiting-nya itu. Namun, ada pemandangan yang berbeda ketia saya menyaksikan konser Richard Marx dengan Metallica. Pertama dari panggung dan kedua dari sound system. Panggung konser Richard Marx terkesan minimalis, hanya ada satu set drum plus piano. Sedangkan panggung konser Metallica begitu banyak dengan peralatan musik ditambah dengan sound system di pinggir panggung.

Konser dibuka dengan band pembuka Rotor. Saya sama sekali tidak tahu tentang grup ini kecuali vokalisnya adalah suami Ayu Azhari. Lagu yang dibawakan Rotor sama sekali tidak nyaman di telinga. Mereka hanya berteriak dengan musik kencang yang mengiringi lagu. Membosankan sekali. Ternyata, penonton sepertinya merasakan hal yang sama. Mereka mulai berteriak agar personil Metallica segera tampil di panggung.

Mimpi itu akhirnya terkabul juga. James Hetfield, Lars Ulrich, Kirk Hamlett dan Jason Newsteed tampil di atas panggung. Teriakan penonton memekakkan telinga ketika Hetfield sang vokalis melontarkan kalimat,”Selamat malam, Jakarta”. Karena bukan fans Metallica, tidak banyak lagu mereka yang saya hafal. Saya hanya punya dua album Metallica: And Justice for All dan Metallica (Black Album).

Jadi, saya hanya bersenandung ketika mereka membawakan lagu dari dua album itu. Karena menyaksikan di Festival – yang lokasinya tepat di depan panggung – para penonton bisa melakukan headbang (ini gerakan yang sering dilakukan penonton musik rock yaitu menundukkan kepala sambil menggoyangkan rambut). Lompat, teriak dan headbang, hanya itu yang dilakukan para penonton di kelas Festival.

Teman saya, Poltak, membawa tape recorder kecil. Dia merekam konser itu, entah apakah kasetnya cukup untuk merekam konser selama 2 jam lebih itu. Ada beberapa lagu di awal konser yang familiar di telinga, seperti Sad But True, Nothing Else Matters dan Wherever I May Roam, semuanya dari album Black yang dirilis pada 1991.

Yang paling saya nanti, dan mungkin juga penonton lain adalah lagu One dan Enter Sandman. Di tengah-tengah konser, kami dikagetkan dengan kobaran api yang terlihat dari dalam stadion. Saya tidak punya pikiran apa-apa ketika menyaksikan kobaran api tersebut karena pikiran tengah fokus melihat aksi Newsted dan Ulrich serta Kirk dan Hetfield.

Ketika intro lagu One mengumandang, tanpa diaba-aba para penonton mulai ikut bernyanyi. Merinding melihat aksi penonton secara kompak menyanyikan bait demi bait lirik lagu One. Personil Metallica sepertinya sudah paham cara memainkan emosi para penonton. Setelah menyanyikan lagu balada, mereka menggenjot lagi dengan memainkan lagu dengan irama cepat dan keras.

Ketika intro Enter Sandman mulai mengumandang, para penonton semakin histeris. Mereka terus melompat-lompat sambil memegang bahu teman di sebelahnya, ada juga yang melakukan headbang sampai menabrak penonton di sebelahnya. Saat Hetfield mulai menyanyikan lirik lagu itu, sekali lagi, tanpa diberi komando, para penonton ikut bernyanyi bersama sang vokalis.

Bahkan, ketika memasuki reffrain, Hetfield menyodorkan micropohone yang dipegangnya itu  ke arah penonton. Dia membiarkan penonton menyanyikan ref lagu tersebut.

Exit light, enter night
Take my hand
We’re off to never neverland

Tanpa terasa, konser selama 2 jam lebih itu selesai. Ada kepuasan di dalam hati saya. Ini adalah konser musik terbaik yang pernah saya tonton. Hal yang sama sepertinya juga tersirat dari wajah penonton lainnya.

Keluar dari stadion Lebak Bulus, kami melihat pemandangan yang sangat tidak diduga. Mobil-mobil yang ada di sekitar stadion hancur, kaca pecah, pintu penyok dan ada juga yang sudah berwarna hitam karena dilahap api. Ketika itu kami baru sadar, api yang terlihat ketika konser berlangsung adalah api dari kerusuhan yang terjadi di luar stadion. Setelah bertanya kepada petugas polisi yang masih berjaga, kerusuhan terjadi karena para penonton yang memegang tiket tidak diizinkan untuk masuk. Mereka berbuat onar dengan membakar semua yang ada di dekatnya.

Saya pun melanjutkan berjalan kaki menuju Pondok Indah Mall, tempat mobil diparkir. Di sepanjang jalan arteri, saya melihat pemandangan yang lebih menyedihkan. Serpihan kaca berserakan di sepanjang jalan. Mobil-mobil yang di parkir di sepanjang jalan hancur, rusak dan ada yang sudah tidak berbentuk lagi. Ketika itulah teman saya berkomentar,”Untung tadi kita gak jadi parkir disini, coba kalau parkir disini, pasti mobilmu akan bernasib sama”.

Ketika sampai di depan PIM, kami dan juga penonton lain kena semprot oleh satpam.

“Kalian ini gimana sih, nonton konser di Lebak Bulus, parkirnya disini. Tadi rusuh, mobil-mobil yang parkir disini nyaris dirusak juga,”kata Satpam itu.

Ternyata, karena adanya kerusuhan, PIM membatalkan pertunjukan Midnight Show dan menutup mal lebih cepat. Saya hanya bisa berpikir dalam hati,  para pemilik mobil yang dirusak massa itu pasti hanya merasakan senang sebentar setelah nonton konser Metallica.


Penulis adalah wartawan dan juga pecinta musik

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!