Triomacan2000, Ulin Yusron, akun anonim, pemerasan Raden Nuh, triomacan

Sudah lama aku tak memantau akun #3Macan2Ribu. Alasan utamanya karena kerjaanku bukan tukang pantau akun anonim. Meski harus diakui bukan hanya #3Macan2Ribu yang gemar menebar fitnah tapi banyak akun anonim lain yang sama biadabnya. Sebut saja akun @lawanmafia. Akun terakhir ini akhirnya sudah mati suri setelah gagal memfitnah beberapa kawan Aliansi Jurnalis Independen Jakarta.

Aku jelas-jelas tak akan follow akun-akun anonim itu dan sebaiknya penduduk negeri twitter sebaiknya juga tak perlu follow akun fitnah. Lagipula tanpa follow Anda tetap bisa stalking untuk mengetahui isu apa yang sedang digoreng. Tanpa follow akun anonim pun, pembicaraan mereka akan lalu lalang di tapak waktu Anda. Akun anonim gemar meretweet topik pembahasan yang dianggap mendukungnya, dengan begitu memudahkan Anda mengetahui isi pembicaraan.Biasanya juga banyak tweemans yang baik hati memention isu-isu yang sedang dibahas akun-akun anonim.

Termasuk di satu pagi dini hari tiba ada kawan baik hati yang memberitahu ada artikel Raden Nuh di Kompasiana (“Pengalaman difitnah berita satu” dan “Berbagi pengalaman difitnah media) dan Beritasatu yang menyeret namaku.

Ahai, inilah pertama kalinya aku membaca tulisan salah satu admin akun #3Macan2Ribu. Buat aku inilah kali pertama ia menampakkan diri dan berbicara ke publik, dalam sebuah artikel. Bahkan saat situs vivanews menurunkan laporan khusus tentang akun #3Macan2Ribu, Raden Nuh justru menolak diwawancarai.

Sekedar mengingatkan buat yang baru mengikuti perkembangan akun #3Macan2Ribu silahkan lahap artikel tentang #3Macan2Ribu di Beritasatu (“Terkonfirmasi triomacan2000 adalah Raden Nuh”, “Wawancara eksklusif dengan Raden Nuh”, “Jejak triomacan2000 menguangkan kicauan”, “Akun triomacan2000 bisa atur polisi”)

Juga artikel di rubric Sorot Vivanews (“Memburu triomacan2000”, “Fitnah ke meja hijau”, “Percakapan Umar Syadat dengan Raden Nuh”).

Buat yang belum tahu, investigasi akun #3Macan2Ribu aku kerjakan semasa aku masih bekerja di Beritasatu.com. Hari ini aku sudah tak lagi bekerja di sana dan sedang menyiapkan pekerjaan baru sambil mempersiapkan rencana sekolah.

Sebagai jurnalis ketertarikan untuk investigasi #3Macan2Ribu itu muncul sejak akun biang gosip itu mulai muncul ke permukaan. Persentuhan dengan banyak aktivis yang mengaku kenal dengan admin akun #3Macan2Ribu juga makin mendorong  investigasi ini. Apalagi #3Macan2Ribu menggunakan microblogging twitter sebagai landing page menyampaikan informasi. Alhasil tiap hari ia selalu bikin kultwit. Sesuatu yang tidak pernah disarankan untuk menggunakan microblogging yang cuma 140 karakter itu sebagai langding page laiknya menulis artikel. Microblogging diperkosa menjadi landing page dengan memotong-motong gagasan dalam bentuk yang kita kenal “kultwit”. Untuk menuliskan gagasan agar jernih, lengkap dan bertahan lama, pegiat sosial media selalu menyarankan menulis di web atau blog.

Di tengah rasa penasaran tentang keberadaan akun terseut kok ndilalah ada kegenitan admin akun #3Macan2Ribu yang pertama-tama muncul di situs Tempo. Sangat lucu! Sebuah akun anonim tiba-tiba saja ingin menjadi seleb dengan menampakkan diri dan menemui wartawan. Pasti ada pesan tersembunyi di balik kemunculannya.

Rencana investigasi pada akun #3Macan2Ribu utu sendiri itu pada awalnya tak pernah tuntas.Pengumpulan bahan sering tersandung oleh banyaknya urusan administrasi di Beritasatu, rapat, tugas ke luar kota atau ke luar negeri.

Apalagi dengan sumberdaya terbatas di Beritasatu maka investigasi itu tak berjalan mulus. Aku mengumpulkan sendiri informasi siapa admin #3macan2ribu itu dari berbagai pertemuan dengan nara sumber yang mengetahuinya. Reporter sibuk dg tugas harian, demikian juga editor. Ibarat mengumpulkan puzzle demi puzzle, suatu saat kelak akan menjadi gambar utuh. Demikianlah sebuah investigasi kadang memakan waktu lama.

Buatku mengalah sedikit dengan turun ke lapangan sendiri tak jadi soal, apalagi untuk tujuan mulia: memenuhi keinginan publik yang ingin mengetahui siapa  admin akun yang di dunia maya banyak disebut sebagai akun pemeras. Rupanya suara minor #3Macan2Ribu tak salah. Dalam perjalanannya akun #3Macan2Ribu isinya kian aneh dan banyak melakukan pembelaan berbau uang. Maka hipotesa investigasi akun #3Macan2Ribu adalah: benarkah akun #3Macan2Ribu menggunakan sosial media untuk memeras dan mencari uang secara tidak terpuji?

Hipotesa utama memang mengungkap siapa dan bagaimana akun tersebut bekerja. Itu dilakukan semata-mata untuk menyelamatkan kredibilitas sosial media yang sebenarnya bisa menjadi alat advokasi publik dan bukan untuk menebar fitnah atau memeras.  Di pihak lain investigasi ini juga untuk memenuhi rasa keadilan publik. Bagaimana tega melihat orang di Pasar Klewer Solo yang bekerja sebagai buruh panggul hanya mendapatkan penghasilan Rp 75.000 per hari, sementara di Jakarta ada akun yang menebar fitnah, menebar kebencian atas nama suku, agama dan ras, membela koruptor tapi bisa mendapatkan uang miliaran. Rasa keadilan kita seperti dipukul keras. Kita tak bisa membiarkan ketidakadilan ini terjadi.

Siapa jati diri #3Macan2Ribu?

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!