air, petani bawang, bantul, irigasi

Wajah Subandi (55 tahun) ceria ketika menceritakan pengalamannya mewakili petani bawang dan cabai di lahan pasir pesisir pantai selatan Kabupaten Bantul, DIY. Subandi yang adalah  Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) lahan pasir "Manunggal" Desa Srigading, Bantul, Subandi, bercerita kehidupannya berubah sejak pengelolaan lahan pasir ditanam palawija dengan menggunakan saluran irigasi air yang ditampung dalam sebuah embung, yang airnya berasal dari bendungan Samas dan disalurkan lewat pipa-pipa ke 116-an hektar.

“Ini berkat air yang disalurkan lewat embung atau penampung air dari Bendungan Samas kemudian dikirimkan lewat pipa dan sehingga lahan pasir yang tadinya tandus dan tidak bisa ditanami menjadi produktif. Kami bisa menghasilkan panen bawang dan palawija lainnya tiap tiga bulan dan hasil panennya bisa menyekolahkan anak kami hingga S2,” kata Subandi yang lulusan UGM tahun 1971.

Subandi menambahkan, tanaman yang ditanam di lahan berpasir adalah tanaman organik. “Semua palawija termasuk bawang, cabai hingga kacang tidak menggunakan pestisida, semua organik dan sehat. Yang terpenting dalam penglohan ini adalah airnya. Dan kami percaya hasil panen yang sehat ini juga berdampak sehat bagi pasir tanah di tempat kami ini,” tambahnya.

Sistem irigasi air yang dibangun pemerintah di daerah minim air itu sudah dilakukan sejak 2001 lalu. Menurut Direktur Sungai Dan Pantai, Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Pitoyo Subandrio, petani di kawasan lahan pasir tidak lagi kesulitan air untuk bertani. Yang menarik lahan yang digarap adalah lahan milik Sultan dan tidak dibebani pajak apapun.

“Kami hanya mengelola tanah yang sudha dipercayakan Sri Sultan pada kami. Pernah satu waktu kami datangi Sri Sultan dengan membawa hasil panen bawang dan lainnya. Tapi Sultan hanya mengambil sedikit saja dan meminta hasil papen itu dibawa pulang kembali untuk keluarga kami,” aku Subandi. 
Keberhasilan petani di daerah itu membuat Subandi diundang ke daerah Kupang dan Kalimantan untuk mengajarkan petani di daerah tandus.

“Ini merupakan contoh dari keberhasilan dengan adanya proyek irigasi di kawasan ini sehingga air yang ditampung di embung di desa in bisa mengairi seluar lebih dari 110 hektar,” kata Pitoyo.

Pitoyo menambahkan, Kementerian PU khususnya Bidang Sumber Daya Air terus melakukan pengawasan dan evaluasi dari sejumlah proyek-proyek irigiasi di daerah minim air.

Salah satu yang juga menjadi perhatian serius KemenPu adalah Waduk Sermo yang luasnya 21,5 km persegi itu mengairi 7, 152 ha mencakup 6 daerah yaitu Kaliabang, papah, Clereng, kamal, Pengasih, Pekikjamal yang dibangun sejak 1994 dan selesai 1996.

Waduk Sermo menurut Pitoyo Subandrio adalah waduk terbaik di seluruh Indonesia. “Karena airnya bersih dan wilayah disekitarnya jadi subur dan hijau dan sedimentasinya juga sedikit, ini yang membuat Waduk Sermo terbaik di seluruh Indonesia,” kata Pitoyo.

Fungsi Waduk Sermo, kata Pitoyo, selain untuk mengairi sejumlah daerah di sekitar Kulonprogo dan Bantul juga sebagai lahan konservasi. “Petani atau warga di daerah sini dilibatkan untuk memelihara waduk sehingga hutannya terjaga dan juga menambah penghasilkan secara ekonomi,” tambahnya.

Kawasan Bantul dan Kulonprogo adalah daerah marjinal yang sebelum adanya system irigasi yang baik, petani kesulitan untuk mengembangkan pertanian. Sistem pengolahan irigasi di kawasan berpasir, Bidang Sumber Daya Air Kemen PU  akan dikembangkan di wilayah pesisir selatan lainnya.

Perbaikan Sabo

Wilayah rawan yang juga menjadi fokus perhatian Bidang Sumber Daya Air (SDA) Kemen PU adalah lereng Gunung Merapi. Sejak letusan besar tahun 2010, Kemen PU telah membangun lebih dari 277 Sabo atau tanggul atau dam pengendali untuk material akibat letusan Merapi.

“Pasca letusan besar Gunung Merapi lalu kami telah membangun 277 Sabo. 47 di antaranya rusak akibat letusan 2010 lalu. Fungsi Sabo in sangat penting jika tidak ada Sabo ini lahan bisa sampai ke keratin. Untuk itu kita akan terus membangun sabo-sabo lainnya khususnya di kawasan Merapi ini dan di daerah-daerah di gunung api-gunubg api lainnya,” kata Pitoyo.

Fungsi Sabo bukan hanya sebagai penahan sedminen atau material akibatan letusan gunung api tapi juga sebagai penjaga dan dan memelihara kelesatrian sumber daya alam dan meningkatkan pengembangan daerah melalui multipurpose-use dari bangunan Sabo itu sendiri.

“Hasil material yamg tertahan di sekitar bangunan sabo itu pasirnya atau batuannya bisa diambil oleh masyarakat untuk dijual atau digunakan untuk bangunan,“ kata Pitoyo.

Di seluruh Indonesia bangunan Sabo saat ini ada sekitar 600 bangunan dan diperlukan lagi banyak sabo untuk mengantisipasi dampak dari letusan gunung api. Selain di Gunung Merapi, sabo juga dibangun di Gunung Kelud, Gunung AGung, Gunung Galunggung, hingga di kawasan gunning api lainnya di luar Jawa.      

Penulis adalah jurnalis Green Radio

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!