Perilaku Aparat

Bayangkan bila pada dini hari ada seratusan orang bersenjata laras panjang dan senjata berat pelontar mortir berkeliaran di sekitar rumah Anda. Pasti rasa was-was dan ketakutan muncul.

Rabu, 15 Jul 2015 09:00 WIB

Kebersamaan TNI-Polri. (Antara)

Kebersamaan TNI-Polri. (Antara)

Bayangkan bila pada dini hari ada seratusan orang bersenjata laras panjang, ada juga yang membawa senjata berat pelontar mortir berkeliaran di sekitar rumah Anda. Pasti rasa was-was dan ketakutan  muncul. Begitulah yang ada di benak warga di dekat markas Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian di Simongan, Semarang, Jawa Tengah. Ratusan orang itu lantas mengamuk dan menyerang  hingga mengakibatkan seorang anggota Brimob luka parah.

Penyebabnya sepele. Beberapa jam sebelum penyerangan, anggota TNI dipukul Brimob saat terlalu lama mengambil uang di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) pada Minggu dini hari itu. Pemukulan lantas berbalas serbuan. Sungguh tak  elok perilaku aparat kita itu. Ini pun bukan kali pertama. Hampir setahun silam, Markas Brimob di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, diserang puluhan anggota TNI, juga hanya gara-gara cek-cok antar aparat.

Aparat dari kedua institusi itu patut dihukum berat. Mereka lupa apa yang menjadi panduan dalam kerja mereka. Anggota kepolisian tentu harus hafal dan mengamalkan Tribrata dan Catur Prasetya.  Sumpah suci anggota itu salah satu isinya melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat. Juga memelihara perasaan tentram dan damai. Main pukul, jelas melanggar sumpah mereka.

Sedangkan untuk anggota TNI, mestinya hafal dan mengamalkan Sumpah Prajurit, Sapta Marga dan Delapan Wajib TNI.  Di antaranya berisi tentang bersikap ramah, menjadi contoh dalam sikap dan tidak menakuti dan menyakiti rakyat.  Dari penyerangan itu, contoh apa yang hendak diberikan selain unjuk kekuatan dan main hakim sendiri?

Petinggi TNI dan Polri mesti memberi perhatian serius pada perilaku aparatnya. Sanksi tegas dan keras harus diberikan. Agar jadi pelajaran, tak terulang peristiwa serupa. Jangan sampai karena nila setitik, rusak muruah alias kehormatan institusi.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Penunjkan Aziz untuk Gantikan Novanto Menuai Kritik

  • Kemensos Dirikan 15 E-Warung untuk Layani Kebutuhan Penerima PKH Cilacap
  • Duterte Minta Perpanjang Masa Darurat Militer di Selatan Filipina
  • Pep Guardiola Tegaskan City Belum Juara

PLN menggenjot pemerataan pasokan listrik dari Indonesia bagian barat hingga Indonesia bagian timur