Foto: Antara

Foto: Antara

Belum beres urusan gawat darurat akibat cuaca ekstrem di Papua, kini giliran satu per satu wilayah di Indonesia berteriak soal kemarau panjang. Keluhan tak hanya di tanah Jawa, tapi juga sampai ke NTB dan NTT. Sejumlah warga mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih untuk minum serta untuk mengairi sawah mereka. Sumur kering, tanah retak. Kering kerontang.

Situasi ini bukannya datang tiba-tiba. Sejumlah lembaga sudah menyodorkan prakiraan, termasuk Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, LAPAN. Sejak jauh hari LAPAN menyebutkan kalau kemarau tahun bakal jadi yang terparah dalam lima tahun terakhir. Ini terjadi akibat pengaruh El Nino. Terjadi anomali suhu permukaan air laut di Samudera Pasifik yang mengakibatkan kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia. Bahkan LAPAN sudah menyebut kekeringan bisa berlangsung sampai Maret tahun depan.

Meski kemarau rutin datang tiap tahun, apakah kali ini kita sudah siap? Apakah respons kita sudah makin baik?

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengaku tidak libur di tengah masa Lebaran. Ketika yang lain cuti, dia memantau ancaman kekeringan di banyak daerah. Meski kekeringan meluas, Amran mengklaim situasi aman. Ada 20 ribu pompa yang siaga, tangki air pun siap diterjunkan ke lokasi yang kekeringan. Tapi ini adalah respons yang sama dari tahun ke tahun. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi apa suplai air bersih bisa dengan cepat menjangkau daerah yang sulit dijangkau?

Pemerintah mesti membuat terobosan untuk mengatasi kekeringan. Ada pilihan seperti membangun tempat penampungan air atau pipanisasi untuk memaksimalkan distribusi air bersih. Bisa juga dengan membangun sumur artesis di daerah rawan. Intinya adalah sebuah rencana jangka panjang ketimbang pusing setiap kali kemarau datang dan menyebabkan kekeringan. Alam sudah memberi pertanda, menunggu kita untuk menyusun strategi.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!