Melihat ke Dalam

Kita harus menolak diadu domba kalau ingin Indonesia tetap damai dalam keberagaman.

Selasa, 21 Jul 2015 09:00 WIB

Doa damai di Papua. (Antara)

Doa damai di Papua. (Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Hari ini, Komnas HAM akan bertolak ke Kabupaten Tolikara untuk menyelidiki insiden yang terjadi di tanah Papua itu. Agenda pertama adalah mencari tahu apa yang sebenar-benarnya terjadi di sana. Termasuk soal penembakan aparat yang mengakibatkan 11 warga cedera dan seorang lainnya meninggal dunia. Selain itu Komnas HAM juga hendak mencari tahu apa akar penyebab ketidakharmonisan antarumat beragama di Tolikara.

Tapi, tunggu sebentar. Apa iya Papua erat dengan intoleransi antarumat beragama?

Konflik antar agama seperti yang terjadi di Ambon pada 1999 lalu adalah salah satu catatan penting bangsa ini. Dari situ kita belajar bahwa konflik berdarah yang berjalan bertahun-tahun bisa terjadi hanya karena masalah sepele. Masalah yang kebetulan melibatkan dua kelompok agama yang berbeda. Lantas duar... konflik pun pecah.

Kita tidak ingin Tolikara jatuh terpuruk seperti Ambon dulu. Butuh waktu, energi, upaya yang panjang dan berliku untuk mendatangkan damai kembali ke sana. Dan salah satu solusi terpenting bagi Ambon justru berasal dari dalam – yaitu kearifan lokal bernama ‘pela gandong’. Ini adalah falsafah orang asli Ambon yang bermakna ‘kita semua bersaudara’.

Sembari menyelidiki, Komnas HAM juga bisa mendorong warga Papua untuk menemukan kembali kearifan lokal dari diri sendiri untuk mengembalikan damai. Apalagi Menko Politik, Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan, apa yang terjadi di Tolikara adalah insiden berbau agama pertama di Papua. Selama ini, kata dia, kehidupan beragama berjalan baik-baik saja.

Di media sosial, banyak orang yang langsung angkat bicara soal damainya hubungan antarumat beragama di Papua. Misalnya soal Masjid Al Aqsha yang berdiri megah di Merauke, sama megahnya dengan bangunan Katedral di sana. Atau sebuah radio di Sentani yang dikelola kelompok Nasrani, tapi menyediakan jam khusus untuk pengajian setiap kali Ramadhan tiba. Di Sentani ada juga masjid yang berdiri berdampingan dengan gereja.

Damai. Inilah yang ingin kita lihat di Papua, juga di daerah-daerah lainnya. Dan kita berharap betul, warga Tolikara bisa membuktikan soal ini kepada tanah air. Kita harus menolak diadu domba kalau ingin Indonesia tetap damai dalam keberagaman.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.