Foto: Antara

Setelah sebulan melaksanakan ibadah puasa, hari kemenangan Idul Fitri bagi umat Islam pun tiba. Prosesi dimulai sejak sepekan ini. Jutaan warga bergerak nyaris bersamaan untuk satu tujuan: mudik alias pulang ke kampung halaman. Sebagian besar kini sudah tiba di kampung halaman. Sebagian lagi masih di perjalanan atau tak bisa mudik lantaran tugas mesti dijalankan. Ritual tahunan yang sayang untuk dilewatkan.

Di minggu yang sama, umat Hindu juga tengah berhari raya. Hari raya Galungan yang jatuh pada Rabu ini sebagai perayaan atas kemenangan  dharma atas adharma. Kemenangan kebaikan atas keburukan.

Seperti Galungan, hari raya Idul Fitri juga dimaknai sebagai hari kemenangan. Selama sebulan menuntaskan kewajiban menahan hawa nafsu lewat ibadah Ramadan, tibalah hari kemenangan. Kemenangan dari hawa nafsu. Kembali kepada asal. Kembali kepada fitrah kemanusiaan.

Kemenangan ini mestinya terus dijaga. Tak ada lagi tempat untuk hawa nafsu keserakahan, baik harta atau kekuasaan. Mengendalikan diri dari tindak yang merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Karena perang yang sesungguhnya belum lagi usai.

Masih kita lihat di sekitar kita praktik korupsi merajelela. Masih tampak kekuasaan dalam berbagai bentuk menunjukkan arogansinya di negeri ini. Lihat aksi segerombolan orang bersenjata pentungan  yang tiga hari  lalu menggeruduk  Gereja Baptis Indonesia (GBI) di Bantul, Yogyakarta. Atau segerombolan aparat bersenjata yang menyerbu markas Brimob di Semarang, Jawa Tengah di akhir pekan lalu.

Arogansi semacam itu mestinya tak lagi muncul. Ada alat bernama hukum bisa dipakai masyarakat modern menyelesaikan konflik yang timbul.  Tentu saja hukum yang berkeadilan. Bukan hukum yang bisa dibeli. Tapi hukum yang sungguh-sungguh jadi  tempat orang-orang teraniaya mendapatkan keadilan.

Kemenangan kecil  kini sudah dicapai. Kemenangan yang lebih besar masih perlu kita upayakan sebagai bangsa. Selamat hari raya Idul Fitri, maaf lahir dan batin. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!