Berbuka puasa di taman di Inggris. (Foto: Dewi Safitri)

Berbuka puasa di taman di Inggris. (Foto: Dewi Safitri)

Di negara dengan mayoritas pnduduk Muslim, kegiatan puasa, berbuka, tarawih dan sahur adalah hal yang lumrah dipahami semua kalangan, termasuk warga non-Muslim. Tetapi di negara sekuler seperti Inggris, mayoritas warganya tak paham apa arti Ramadan dan kenapa Muslim harus bersusah-susah berpantang makan-minum sepanjang hari.

Berbagai kelompok Muslim di Inggris menggunakan Ramadan untuk memperkenalkan tradisi di bulan mulia ini melalui kegiatan buka bersama dengan mengundang kehadiran warga non-Muslim.


Ramadan Tent Project (Proyek Tenda Ramadan - RTP) diprakarsai sekelompok lulusan SOAS (School of Oriental and African Studies – sebuah universitas yang terletak di pusat kota London) tiga tahun lalu. Kegiatannya adalah menggelar buka puasa bersama di bawah tenda di tempat terbuka.

Setiap sore selama bulan Ramadan siapa saja boleh datang bergabung duduk diantara lajur-lajur kain panjang yang sudah dilengkapi dengan hidangan sederhana: biasanya ada kurma, air minum botolan, pisang dan plum atau apel. Kalau sedang banyak donasi, ada juga burger, yoghurt atau samosa, gorengan khas Timur Tengah.

Sebelum saat berbuka, peserta akan mendengar seorang tamu berbicara: biasanya pegiat kemanusiaan dari berbagai lembaga amal yang punya kiprah membantu korban perang atau kemiskinan di Gaza, Suriah, Yaman, Rohingya, atau di Afrika. Kadang ada juga anggota parlemen atau pejabat Kedutaan negara asing di Inggris. Seruan mereka biasanya memperkaya pemahaman tentang perlunya membantu sesama saudara (Muslim atau bukan) di tempat-tempat yang sedang berkonflik.

Banyak mahasiswa

Saat adzan dikumandangkan oleh seorang sukarelawan RTP, peserta dipersilakan makan-minum sekedarnya dan langsung diajak untuk menunaikan shalat Magrib berjamaah, sebagian di atas rumput taman tanpa tikar. Tidak ada paksaan baik bagi warga Muslim-bukan untuk ikut shalat. Setelah shalat makanan berat dikeluarkan: nasi atau kentang dengan kari kambing atau ayam. Untuk mereka yang tak makan daging/telur alias vegetarian, panitia RTP juga menyediakan menu non-daging.


Untuk hidangan penutup ada kue-kue manis serta kopi khas Timur Tengah dalam cawan mini yang rasanya cukup aneh buat yang tidak terbiasa. Biasanya peserta sudah kekenyangan lebih dulu karena makan hidangan nasi atau kentang yang cukup berat.

“Makanannya enak dan saya suka melihat bagaimana Muslim nampak menikmati sekali kegiatan ini,” komentar Simone Smith, seorang mahasiswa asal Kentucky, AS di London yang datang karena diajak rekan mahasiswa Muslim.

“Saya tahu Muslim harus berpuasa, tapi my God, 19 jam sehari? Itu berat sekali,” tambahnya kagum.

“Di Reading (sekitar 30 menit dari London) ada juga agenda seperti ini. Tapi masyaallah, di sini ramai betul,” puji Abdul Khaleq, mahasiswa pasca sarjana asal Zambia.

Mahasiswa nampaknya jadi bagian paling besar dari komunitas ini, karena lokasi Russel Square yang memang diapit sejumlah universitas di Inggris, dengan ratusan ribu mahasiswa. Selain SOAS ada UCL (University College London) yang punya jumlah mahasiswa asing terbesar di Inggris, sekolah ilmu kedokteran London School of Hygiene and Tropical Medicine, Universitas Birkbeck, Royal Academy of Drama and Arts, dan London University.

Komunitas Muslim di Inggris (sekitar 3,8 juta jiwa) terutama ditopang oleh imigran dan mahasiswa Muslim asing.

“Kalau di Baghdad  buka puasa adalah saat yang istimewa bersama keluarga, jadi di London saya ingin ketemu ‘keluarga’ sesama Muslim juga untuk buka,” kata Rania Ahmed, mahasiswi asal Irak yang mengaku sudah beberapa kali datang ikut berbuka.

Berbagai kelompok mahasiswa juga menggelar acara buka bersama di tempat terbuka: di taman-taman kota yang tak terhitung jumlahnya. Masing-masing yang hadir membawa makanan sekedarnya untuk dinikmati ramai-ramai (potluck). Suasana yang berubah menjadi gelap pun tak menyurutkan minat untuk menggelar buka puasa di taman.

Tantangan Islamofobia

Komunitas Muslim dunia, terutama di Eropa, menghadapi tantangan besar setelah serangkaian aksi teror yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dengan mengatasnamakan Islam.

Di Inggris, baru pekan lalu korban serangan teroris mengatasnamakan ISIS di resor pelesir di Tunisia dipulangkan untuk dimakamkan.

Serangan-serangan itu membuat upaya menyebarkan pemahaman dan toleransi terhadap Islam menjadi lebih menantang.

Yang menarik adalah bagaimana tantangan ini dihadapi dengan berbagai prakarsa mirip RTP. Di Manchester, kota dengan penduduk Muslim cukup banyak di Inggris, misalnya Masjid Cheetham Hill menyebar ratusan undangan berbuka dan ‘tur keliling masjid’ kepada warga sekitar.


Selain diajak melihat lokasi ibadah umat Muslim, peserta akan dijamu dengan hidangan khas buka puasa termasuk dengan kurma, kue, kopi dan kari. Menurut situs Manchester Evening News pegawai kantor pos, guru dan polisi setempat sudah mendaftar untuk meramaikan kegiatan ini. Masjid Makkah di kota Leeds (@LeedsMosque) menggelar acara serupa. Imam Masjid ini, Qari Asim, yang juga berprofesi sebagai pengacara menyambut tamu non-Muslim ini dan menjadi  ‘tour guide’ mereka.

Kegiatan mirip yang agak berbeda bisa ditemukan di Facebook misalnya, dimana kelompok Islamic Society of Britain memprakarsai Dine@Mine, sebuah gerakan untuk mengundang tetangga berbuka bersama. Idenya sama: memperkenalkan Islam dan tradisi Ramadan untuk menjalin silaturahmi (interfaith-Iftar).

Caranya mereka yang bersedia mengundang (keluarga Muslim) dan mereka yang ingin merasakan buka puasa (non-Muslim) mendaftar untuk kemudian dipasangkan.  Dari banyak publikasi, nampak baik tuan rumah maupun tamunya menikmati momen ini.

Menurut website kampanye ini, tahun lalu acara serupa sukses diselenggarakan di Los Angeles, Johannesberg, New Delhi dan London.

Mengutip Dine@Mine: apa yang lebih baik untuk mengakrabkan diri dengan tetangga (meski bukan sesama Muslim) selain lewat makanan lezat masakan sendiri? Untuk Muslim tanah air yang masih kerap beradu debat soal mengucap Selamat Natal, kegiatan-kegiatan ini barangkali cocok juga diselenggarakan di Indonesia.

Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana penerima beasiswa Chevening 2014 di UCL London dan menggunakan nama @pendekarsilat11 di Twitter.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!