prabowo subianto marah, majalah sabili, capres pemarah, ulin yusron

Mari kembali ke 2009, flash back sejenak ke belakang....

Syahdan, kantor majalah S lagi punya gawe besar. Mereka sedang menggelar peringatan hari ulang tahun. Majalah S adalah majalah Islam yang pernah punya tiras cukup besar.

Nah, salah satu acara besarnya diisi dengan mengundang sejumlah tokoh nasional. Para pesohor negeri diundang sebagai tamu kehormatan. Ada menteri, ketua ormas, tokoh masyarakat, dan ketua partai politik.

Di antara petinggi partai politik yang cukup menyedot perhatian adalah Mr P dan Mr W. Ini karena semua tahu, ada rivalitas dan ‘dendam’ tersembunyi antara kedua bekas petinggi serdadu itu.

Dalam rentetan peristiwa reformasi 1998, Mr P dituding sebagai sosok yang bertanggung jawab atas penculikan sejumlah aktivis.

Sejak kasus itu bergulir, konon kabarnya, Mr P dan Mr W tak pernah bertemu muka atau bertegur sapa. Momen ulang tahun majalah S itu bisa menjadi momentum yang heboh.

Namun momen pertemuan keduanya ternyata tak terjadi. Pada hari H, hanya  Mr P yang kelihatan batang hidungnya. Sementara Mr W tidak muncul hingga acara usai. Padahal, beberapa hari sebelumnya ia sudah mengonfirmasi bakal hadir.

Seperti lazimnya acara ulang tahun, acara sebagian diisi dengan pidato dan makan-makan. Namun buat majalah S, momen ulang tahun juga menjadi kesempatan untuk membuat wawancara khusus dengan tamu penting yang hadir.

Secara kebetulan pula, laporan utama majalah S pada waktu itu adalah mengupas persiapan pilpres 2009. Seandainya Mr P dan Mr W jadi bertemu, tentu itu menjadi magnet paling menarik karena masing-masing bakal bersaing sebagai capres. Tapi lantaran Mr W batal hadir, maka magnit yang menyedot khalayak itu hanyalah Mr P.

Wawancara dengan Mr P disepakati dilakukan di sebuah ruang khusus di kantor majalah S. Yang hadir dalam ruangan itu: reporter, pemred dan seorang direktur majalah S.

Direktur majalah S lantas membuka percakapan. Ia memulai dengan menanyakan kondisi terkini bekas komandan pasukan elit itu, terutama yang terkait dengan bisnis yang ia jalankan. Maklum sang direktur dan Mr P sudah lama saling mengenal.

Setali tiga uang, pemred majalah S juga demikian. Ketika mendapatkan kesempatan bertanya, ia hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan standar yang jawabannya sudah ketahuan, semacam visi misi, program dan sejenisnya. Pertanyaan membosankan dan jawabannya sudah sering muncul di media lain.

Hanya si reporter yang merasa kurang sreg dengan wawancara model begini. Pikirnya, ini adalah kesempatan langka bertemu sosok semacam Mr P, apalagi mendapatkan jatah wawancara eksklusif. Sayang kalau dilewatkan.

Sembari menyimak tanya jawab antara pemred dan Mr P, reporter itu menulis beberapa pertanyaan yang akan ia ajukan nanti jika mendapatkan kesempatan bertanya.

Ada tiga pertanyaan yang ia tulis waktu itu. Pertama, tentang dana kampanye. Kedua, kasus Munir. Dan ketiga, tentang pelanggaran HAM pada masa reformasi dulu.

Ketika pertanyaan pemred sudah habis dan giliran si reporter mendapatkan kesempatan bertanya, tanpa babibu ia pun langsung tancap gas.

“Terima kasih Pak P atas kesempatan ini. Pertama, saya ingin bertanya tentang dana kampanye. Selama ini saya, juga masyarakat Indonesia sudah mengetahui bahwa Bapak sering muncul di media terutama televisi. Kalau boleh tahu, dari mana dana kampanye Bapak?”

Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba roman muka Mr P berubah merah. Sorot matanya menusuk tajam ke arah si reporter. Mr P langsung berdiri.

Braakkkkk!!

Sambil menggebrak meja, ia membentak dan menuding ke arah si reporter. “Kamu ini! Saya ini pengusaha. Keluarga saya kaya. Perusahaan saya banyak. Dana kampanye itu kecil buat saya!”

Direktur dan pemred majalah S tentu saja kaget bukan kepalang melihat reaksi yang menggelegar dan penuh emosi itu.

“Sabar, Pak. Tenang, Pak!” kata sang Direktur, mencoba meredam Mr P sambil mencoba meraih pundaknya.

Apa lacur, Mr P yang kadung marah sudah tak peduli. Tanpa basa-basi lagi, ia ngeloyor pergi dari ruangan sambil terus ngedumel.

Usai wawancara separo jalan itu, si reporter didekati dan ditegur oleh sang Direktur. “Kamu kok nanyanya melenceng dari yang sudah disepakati?”

Sang reporter enggan menanggapi pertanyaan itu. Ia cuma diam sambil manggut-manggut, lantas ngeloyor pergi.

* Ulin Yusron, pegiat media sosial

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!