Jokowi

Saya pertama kali bertemu dengannya di bulan puasa dua tahun lalu. Di bantaran kali Ciliwung. Waktu itu sore hari, mendung tampak menggantung di pinggiran Sanggar Ciliwung Merdeka. 


Sore itu menjelang berbuka puasa, dia hadir untuk mendengarkan pendapat warga. Juga masukan para ahli tata kota tentang penataan warga yang tinggal di pinggiran kali Ciliwung. 


Kampung deret adalah usulannya. Warga tak akan digusur. Kampungnya dirapihkan. Bangunan dibuat  2 lantai. Warga tetap bisa hidup dan bekerja seperti yang ada saat ini. 


Di penghujung pertemuan, dia menjawab dengan sederhana.


"Saya tidak mau janji, saya sudah dengar masukannya.  Apabila nanti saya terpilih, saya akan datang ke sini lagi."


Sehari setelah dilantik, dia datang lagi ke bantaran kali itu. Kali ini dia hadir sebagai Gubernurnya warga. Tak ada yang berbeda, dia tetap sederhana. Dia penuhi janjinya kepada semua warga. 


Besok, dia kembali akan dipilih. Dia dicalonkan sebagai calon presiden Republik Indonesia. Dia tetap sederhana. Dia berjanji, rakyat akan dijamin kesehatannya. Juga pendidikannya. Rakyat Indonesia harus sehat dan pintar. Karena Rakyat adalah sumber daya bangsa. 


Minggu (6/7/2014) Kemarin, di Gelora Senayan kami semua hadir menyambutnya. Lagu Indonesia Raya kami nyanyikan bersama. Dengan haru, dengan tetesan air mata. Banyak yang menangis. Dada ini sesak menahan haru dan bangga mendengar dia berpidato.


"Anda semua adalah pembuat sejarah dan sejarah baru sedang kita buat. Kita semua adalah penyala harapan untuk Indonesia. Kekuatan kita adalah pada kerelaan."


Dia pemimpin baru Indonesia. Orangnya sederhana, merakyat, apa adanya. Kita letakkan harapan kita bersama padanya. Indonesia  yang sejahtera. Indonesia dengan rakyat yang sehat dan pintar. Karena Rakyat adalah sumber daya bangsa. 


Dan saya rela berjuang untuknya, harapan, mimpi dan cita-cita itu. Untuk kemenangan Jokowi. Untuk anak-anak kami. Kemenangan Rakyat Indonesia. 


Salam 2 Jari. 



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!