blus Zara, tas Chloe, commuter line, tarif kereta murah, stasiun Tanah Abang

Sejak dulu saya punya hobi mengamati gaya penumpang kereta, terutama para perempuan di gerbong perempuan jurusan Sudirman. Penumpang kereta jurusan Sudirman kebanyakan elegan dan wangi-wangi. Perempuannya memakai riasan yang halus dan anggun. Baju-bajunya penuh gaya, baik yang model jilbab maupun rok mini berblazer, lengkap dengan sepatu tumit tinggi dan tasnya yang mahal. Tidak sedikit dari mereka duduk di kereta dengan laptop terbuka, menyempatkan diri bekerja selama perjalanan. Beberapa lelaki yang menyukai bike to work sering membawa sepeda lipatnya, untuk dinaiki dari stasiun ke kantor. Itu dulu sebelum kereta Pakuan yang bertarif Rp 11,000 dan commuter yang bertarif Rp 8,000 ditiadakan. 


Tepat sebulan sebelum kereta commuter bertarif Rp 8,000 ditiadakan, saya sempat iseng bbm sobat saya, “Dikha, prejengan perempuan di depanku kali ini, blus Zara Rp 1,5 jutaan, rok Zara Rp 1 jutaan, tas Chloe, Samsung Galaxy S3, jam tangan Guess, dan sepatu Zara. Total jendral prejengannya sampailah 11 juta.” Teman saya ngakak. Kebetulan saya sedikit tahu koleksi Zara.


Lalu terjadilah satu hari yang mengejutkan bagi penumpang kereta. Hari Senin, 1 Juli 2013 saya berangkat kerja, seperti biasa saya diantar suami sampai stasiun kereta Bogor. Kami punya kebiasaan tidak sempat mengamati lingkungan sekitar karena buru-buru. Betapa terkejutnya saya ketika menginjakkan kaki di jalan pedestrian lebar, yang baru dibangun pihak stasiun selama 6 bulan, sudah dipenuhi antrean penumpang kereta yang mengular sampai 250 meter. 


Saya panik. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa penuhnya penumpang kereta. Tanpa antrean sepanjang itu pun, tiap hari penumpang kereta seperti tumpukan ikan sarden, sejak tarif kereta menjadi Rp 8,000.


Hari itu tarif kereta turun luar biasa, hanya Rp 5,000 sampai Jakarta Kota. Tidak heran penumpang membludak.  Saya sungguh tidak berani naik kereta hari itu. Apalagi ketika melihat dandanan saya: pakai sepatu tumit tinggi, rok mini, dan menjinjing laptop. 


Saya ngeri dan terpaksa memutuskan lewat jalur tol Jagorawi. Saya harus pasrah tidak bisa sampai di tujuan tepat waktu karena macetnya jalanan Jakarta di Senin pagi paling lucu-lucunya. Semua kendaraan tumplek blek dengan tujuannya masing-masing. 


Survival selection bagi commuter Jakarta yang sesungguhnya bernama sistem transportasi. Tidak semua orang akan bisa bertahan dengan sistem transportasi Jakarta.


Saya baru berani naik kereta commuter bertarif baru itu ketika jadwal saya di Jakarta tidak padat dan ketika saya tidak memakai rok atau sepatu tumit tinggi. Dan ternyata betul, penumpang commuter luar biasa padatnya sejak tarifnya murah. Duduk adalah sebuah kemewahan. Tidak semua orang rela berbagi tempat duduk bahkan untuk perempuan hamil, ibu dan anak kecil, atau bahkan untuk orang yang jelas-jelas disable. Penumpang banyak yang memilih tetap duduk dan pura-pura merem meskipun di depannya ada ibu menggendong anak. Tidak laki-laki, tidak juga sesama perempuan. Tidak perempuan berbusana rok mini, tidak juga perempuan berjilbab. Semua sama saja. Enggan menyerahkan kenyamanan commuter bernama tempat duduk. Pelajaran etika seperti menguap tak berbekas di commuter yang penuh sesak. Karena berdiri di commuter adalah sebuah siksaan luar biasa, apalagi jika kereta mengalami gangguan. Jangan harap bisa membuka laptop mencicil pekerjaan. Apalagi bagi bikers untuk membawa sepeda. Sudah tidak ada ruang untuk sebuah laptop dan sepeda. Gadget dan gaya hidup harus beradaptasi dengan padatnya kereta.


Herannya, commuter tetap padat meskipun sudah pukul 21.00. Peluang duduk  bagi perempuan di gerbong perempuan memang lebih banyak ketika hari semakin malam. Satu ketika terjadi peristiwa kereta ekonomi mengalami gangguan. Penumpang ekonomi diperbolehkan naik kereta commuter line yang ber-AC. Sayangnya, malam itu AC commuter mengalami gangguan sehingga udara semakin gerah dengan penumpang yang semakin padat. Jendela terdekat kebetulan juga ngadat, tidak bisa dibuka. Di tengah kegerahan, beberapa penumpang punya ide memecahkan kaca jendela sambil menggedor-gedor jendela yang ngadat itu. Astaga! Luar biasa negeri ini. 


Sepanjang perjalanan saya memikirkan bagaimana bisa ide vandalisme tersebut keluar. Saya kembali membayangkan pemandangan sehari-hari di stasiun Tanah Abang. Para pekerja yang sudah kelelahan bekerja itu, masih harus menjadi ikan sarden di kereta Jakarta Bogor. Mereka berebut posisi duduk dan posisi berdiri di kereta ekonomi – sebenarnya, kereta commuter line juga sama -- seperti rebutan hidup dan mati. Saat kelaparan dan kehausan, penumpang kereta ekonomi ramai membeli makanan dan minuman yang dijajakan pedagang asongan.


Begitu lapar dan dahaga terpuaskan, mereka terlalu lelah untuk menggenggam pembungkus makanan sampai mereka menemukan tempat sampah. Sampah pun mereka buang sejauh tangan dapat melempar. Lalu, ketika kereta ekonomi itu bergerak meninggalkan jalur relnya, sampah yang bertebaran menjadi jejak keberadaan penumpang dan penjaja asongan di kereta ekonomi. Petugas stasiun pun akan dengan sabar menyapunya kembali agar pemandangan kotornya rel kereta ekonomi tidak kontras dengan pemandangan rel kereta commuter line yang bersih.


Sebenarnya, pihak stasiun kereta sudah berusaha membuat stasiun dan gerbong menjadi nyaman dan bersih. Penyapu rel, peron dan gerbong tidak henti-hentinya menyapu. Tapi sepertinya usaha mereka sia-sia. Ada mata rantai mendasar yang hilang dari usaha pemerintah membangun budaya transportasi yang rapi, tertib, bersih dan nyaman. Dari segi kebersihan, penumpang commuter bisa menjaga kebersihan secara sadar itu karena pendidikan mereka. Sepertinya, pemerintah perlu membuat pendidikan etika bertransportasi sejak dini.  Pendidikan menjaga fasilitas publik, kebersihan, dan empati. Terutama empati kepada penumpang berkebutuhan khusus.

 

Sayang sekali jika stasiun dan sistem commuter yang sudah dibenahi justru kehilangan minat penumpang kelas menengah. Mungkin perlu dipikirkan  membuat kelas kereta dengan tarif berbeda-beda sehingga kelas menengah yang bersedia membayar kenyamanan tetap dapat diakomodasi. Semakin banyak ruang di kereta bagi bikers to work akan mendukung upaya gaya hidup hijau. Harapan mengatasi kemacetan sepertinya sulit dituai ketika para Zara hilang dari kereta dan memilih menyetir lagi mobil pribadi. Seberapa pun macetnya Jakarta akan dilakoni jika pilihannya berjejalan dan sulit bernapas di kereta.


*Johanna Ernawati, pengguna kereta, tinggal di Bogor

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!