Faisal Basri, kenaikan BBM, Catatan si Boy, demonstrasi mahasiswa, Soe Hok Gie

Boy adalah antitesa dari Soe Hok Gie. Tanggal 22 Januari 1962 seusai mengantar anjingnya ke Perhimpunan Penyayang Binatang, Gie menulis kutipan dari filsuf Yunani: “… nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.” Kutipan ini diduga disadur secara tidak konsisten dari Friedrich Nietzsche, The Birth of Tragedy, dari sebuah adegan ketika Midas bertanya kepada Silenus: nasib manakah yang terbaik bagi manusia, Silenus menjawab, “Hai bangsa malang, anak-anak bencana dan duka, mengapa aku mengucapkan sesuatu yang sebaiknya dipendam dan tak dikatakan? Yang terbaik berada di luar jangkauan—tidak dilahirkan, menjadi tiada. Nomor dua adalah mati muda”.


Boy membuktikan Gie nyaris keliru. Lahir, mengalami masa muda dan (bahkan) umur tua, tidak selamanya sial. Si Boy atau bernama lengkap Raden Mas Probo Aryo Djojodiningrat, seorang Aquarius, ketika berusia 21 tahun terkenal, tidak mati muda dan selanjutnya hampir tak pernah sial. Boy sangat terkenal dan dipromosikan sebagai teladan anak muda, terutama lelaki. Suatu anjuran yang sulit dicapai mayoritas lelaki karena tidak semuanya bisa ‘seberuntung’ Boy. Ia ganteng, kulit bersih, tubuh atletis, otak pintar, keluarga kaya raya sehingga bebas mau menggunakan mobil sport mewah atau sedan klasik yang berjejer di garasi luas, berpakaian mahal, dompet tak pernah kering, juga rajin beribadah (!). Ia juga pelanggan tetap Ebony, sebuah diskotek di Jakarta tahun 1980an. Boy memang anak muda yang melejit pada dasawarsa itu.


Mobil-mobil Boy tipe boros bahan bakar minyak (BBM). Dan ia segera saja masuk dalam daftar penerima subsidi dari negara untuk urusan BBM. Menurut ekonom Faisal Basri, 70 persen subsidi BBM lari ke orang-orang kaya. Angka ini mestinya berubah karena dari tahun-ke-tahun, kadang berurut kadang meloncat, harga jual BBM telah dinaikkan. Termasuk rencananya tahun 2013 ini. Setelah sidang paripurna DPR mengesahkan perubahan anggaran pendapatan dan belanja negara (ABPN-P) 2013. Harga BBM premium untuk mobil Boy akan naik menjadi Rp 6.500. Buat orang sekaya dia, angka ini tak masalah. Apalagi beberapa mobil mewahnya sudah diisi dengan jenis pertamax.


Boy tak mengalami dampak langsung. Tapi, tidak bagi—tak perlu jauh-jauh dulu—salah satu atau beberapa pacarnya. Begini, kombinasi sempurna yang dimiliki Boy membuatnya digandrungi banyak cewek. Mari kita catat nama-nama perempuan yang pernah menjadi pacarnya: Grace, Martini, Dewi, Virya, Inka, Antharini, Dinarza, Penny, Sinta, Titi, Rika, Sylvi, dan Aidini (www.catatansiboy.com) adalah perempuan yang sempat singgah sekelebatan di hati—atau lebih tepatnya—di pelukan Boy. Ada pula yang lebih lama dan terus menjadi teman, seperti Jackie. Adik Jackie, bernama Raymond (dipanggil Emon), bahkan dianggap sebagai bagian dari ‘keluarga sendiri’. Total pacar Boy sebanyak 16 orang. Dua nama yang berumur lebih panjang adalah Nuke dan Vera.


Dari 16 pacar Boy, tak semuanya kaya. Nuke bahkan terlampau sederhana. Ia makan mie di pinggir jalan, naik mobil tanpa pendingin, kadang juga bus kota. Nuke bisa jadi mengalami dampak langsung bila harga BBM naik. Kelas di bawahnya menjadi lebih mengalami lagi. Harga BBM belum diumumkan naik saja, harga kebutuhan pangan sudah mendahului. Masih menurut Faisal Basri dalam dialog dengan presenter ternama di Indonesia, Rosiana Silalahi, 19/6, gejolak di masyarakat sudah pasti timbul. Ini akibat pemerintah tak beres mengambil keputusan. “Sebenarnya kenaikan harga BBM sudah disiapkan sejak 2011,” ujar Faisal.


Gejolak itu sudah kelihatan sebelum sidang DPR digelar. Buruh, mahasiswa, dan kelompok miskin kota berdemonstrasi. Mahasiswa di Salemba membakar ban di jalan hingga memacetkan lalu lintas. Meski Jakarta tanpa demonstrasi saja sudah macet. Di Cawang berlangsung bentrok antara polisi dan mahasiswa. Di Ternate, polisi sampai menembakkan peluru. Di Riau, seorang wartawan terkapar kena samber gas airmata. Saban ada rencana penaikan harga BBM, aksi unjuk rasa pasti muncul. Rumusnya jadi sangat gampang: pasti ada demo, dan pasti tetap naik.


Saya tak tahu apa reaksi Boy. Ia sedang galau karena hubungannya dengan Nuke tak disetujui orang tuanya. “Boy harus konsentrasi pada studi,” begitu alasan orang tuanya. Jawaban standar orang tua.


Tapi saya terpana pada reaksi teman-teman saya di kelas tengah. Mereka mengumpat dan kesal pada aksi-aksi mahasiswa dan buruh yang berlangsung. “Mereka main kekerasan dan memacetkan jalan.” Ada usul lain: mengapa demonstrasi hari gini masih di jalan, tuangkan aspirasi lewat cara lain. Media sosial atau petisi online jadi salah satu—atau salah dua, tepatnya—usul.


Ada yang dilupakan teman-teman kelas tengah saya. Demonstrasi itu memang menguasai jalan. Damai atau tak damai, tetap di jalanan. Media, apapun namanya—sosial atau antisosial—dipakai untuk penyadaran dan—akhirnya—mobilisasi. Arab Spring memberi bukti soal itu. Adapun kekerasan sesungguhnya soal pilihan, seperti juga ketakutan. Dan keduanya bisa dihindari, bisa tidak dipilih. Tapi, yang jelas—mengutip dialog Will Smith dalam film After Earth—“bahaya itu nyata.”


Bahaya yang tak dianggap atau belum dirasakan teman-teman kelas tengah saya, juga si Boy, adalah daya tahan bangsanya menghadapi kesulitan yang bakal datang. Dalam hitungan Prof. Dorodjatun Kuntjara-Jakti, kalau saya tak salah mengingat, kita cuma punya waktu 5-6 tahun untuk bersiap sehingga menjelang sepertiga millenium ketiga ini, Indonesia tidak terkapar. Tahun 2030, menurut Dorodjatun, Indonesia akan mengalami pertumbuhan nol, sebab angka usia produktif seimbang dengan angka usia nonproduktif. Mereka butuh pangan, selain juga aneka kebutuhan pokok, yang tak bisa dicukupi oleh stok dalam negeri. Sekarang saja kita impor berbagai bahan pangan dan menelan biaya sampai Rp 125 triliun.


Rencana belanja negara, mestinya mencerminkan berbagai persiapan menghadapi kesulitan. Tapi anggaran 2013 menunjukkan pemerintah lebih suka menurunkan pendapatan dan menaikkan pengeluaran. Pemerintah pun tak begitu peduli dengan urusan perut warganya. Faisal Basri menunjukkan bahwa subsidi untuk benih hanya 0,2 persen dari total subsidi. “Padahal itu sektor produktif, begitu juga tidak ada subsidi untuk obat generik, dan kedelai,” kata ekonom UI itu.


Faisal bukanlah pengkritik kenaikan harga BBM. Tapi postur APBN-P 2013 yang dengannya harga BBM menjadi naik, juga mengundang pertanyaan. Kepada siapa sebenarnya pemerintah dan DPR berpihak, dan ke mana mau dibawa sebetulnya kapal bernama Indonesia ini berlayar?


Saya bisa mengerti kekesalan teman-teman kelas tengah saya kepada aksi-aksi yang dianggap merugikan kepentingan publik itu. Mereka adalah kelompok yang tergencet dari atas dan terdesak dari bawah. Mereka tak boleh memegang Kartu Jaminan Sehat (KJS), tapi juga kelimpungan harus bayar tambahan biaya rumah sakit yang tak ditanggung asuransi. Mereka harus bayar cicilan rumah, kendaraan, berhimpitan di kereta sebagai commuter, pusing dengan tagihan kartu kredit, dihajar biaya sekolah, juga kadang karena kecerewetan atasan. Di sisi lain si atasan sebagai kelas tengah mengalami kesulitan serupa.


Tapi saya tak bisa membenarkan kekesalan mereka kepada aksi buruh dan mahasiswa. Pertama, karena mereka adalah buruh. Kedua, mereka bekas mahasiswa. Ketiga, mereka bukan si Boy.


Si Boy sendiri meski patah hati tak lantas sibuk dengan dirinya. Ia mendapat pelajaran dari berbagai tempat. Salah satunya ajaran feminisme. Begini, Boy memiliki konsep cinta pada pandangan pertama (love at the first sight). Setelah patah hati dari Nuke, ia berpetualang dari satu cewek ke cewek lain. Seorang perempuan yang diincar Boy, dan menolak: Sadya, mematahkan teori Boy dengan cukup keras, “Kalau kamu mendasari cinta kamu dengan perasaan jatuh cinta yang seperti itu (pada pandangan pertama), you will never stop looking! Hari kemarin kamu jatuh cinta sama mantan-mantan kamu, hari ini sama saya, dan besok atau tahun depan kamu jatuh cinta sama yang lain. It will never end! Pada akhirnya perempuan yang akan menjadi pihak yang dirugikan.”


Boy terpana. Satu kalimat kunci mengguncang Boy: “pada akhirnya perempuan yang menjadi pihak yang dirugikan”. Ia tak pernah berbuat jahat kepada para perempuan yang pernah dipacarinya. Tapi, gugatan itu ia terima dan mulai memahami bahwa ‘korban’ tak melulu berarti kerugian secara materi atau tubuh. Ada perasaan yang telah dilucuti, lalu terluka. Belum lagi ditambah kenyataan perempuan kerap dianggap serupa ‘barang’ hingga muncul istilah ‘bekas orang’ (lelaki). Mantan pacar-pacar itu oleh orang-orang dikenali sebagai “bekasnya si Anu” sedangkan si Anunya (lelaki) tak pernah menjadi bekas siapa-siapa. Dialog mereka menandai persentuhan Boy dengan gagasan feminisme.


Giliran berikutnya, Boy mungkin akan bersentuhan dengan gagasan ‘korban’ kebijakan pemerintah. Untuk lebih gampang memang Boy harus menjadi korban lebih dulu agar bisa mengatakan “tidak” kepada suatu kebijakan kekuasaan. Ini tipikal kelas tengah dan atas masyarakat memang. Tapi, sesungguhnya tak perlu. Karena Boy dianugerahi nalar (ingat, ia anak pintar). Ia mungkin bisa menanyakan berbagai kerancuan logika yang diajukan dalam postur anggaran pemerintah, misalnya. Tentu saya tak membayangkan ia mengajukan pertanyaan secerdas Faisal Basri. Setidaknya bertanya saja. Sebab, faktanya, meski subsidi BBM dikurangi, subsidi terhadap energi secara keseluruhan meningkat Rp 35 triliun, yakni menjadi 309,8 triliun untuk BBM, elpiji, dan listrik. Pengeluaran itu masih ditambah dengan pemberian bantuan langsung sementara kepada masyarakat sebesar Rp 9,3 triliun.


Saya tak terlalu berharap kepada Boy, tapi kepada teman-teman kelas tengah saya. Mereka memang dihadapkan pada dilema: mengakui bahwa harga BBM memang harus naik karena pemborosan dan agar masyarakat belajar berhemat energi, serta mendorong pemerintah mencari sumber energi alternatif, tapi juga harus ikut menanggung dampak bila harga-harga naik, sementara belum tentu perusahaan tempat mereka bekerja menaikkan gaji. Sebab, biasanya gaji sudah dinaikkan di awal tahun mengikuti ketetapan upah minimum. Saya berharap bahwa mereka-lah yang mampu mendorong dan mendesak pemerintah untuk memikirkan kompensasi yang lebih serius guna mengatasi krisis yang dialami oleh orang-orang miskin. Juga untuk ketahanan pangan dan energi pada masa depan.


Mahasiswa-mahasiswa itu, biarlah. Mereka memang sudah sepatutnya turun ke jalan. Tak perlu dimarahi atau dikesali. Mereka benar. Mahasiswa tak mungkin salah. Kalau pun salah, masa mahasiswa memang masa bereksprerimentasi. Namanya eksperimen, kegagalan itu pasti sebelum berhasil. Tapi, kita tahu niat mereka baik.


Sedangkan Boy, sesungguhnya ia tak berniat menjadi antitesa dari kutipan Soe Hok Gie. Ia “hanya” beruntung. []


*penulis adalah wartawan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!