Liston P Siregar, antre tiket, kejuaraan tenis Wimbledon, London

Kejuaraan tenis Wimbledon, bagi orang Inggris, bukan sekedar kejuaraan tenis lagi, tapi sepertinya sudah menjadi semacam institusi dengan beragam tradisinya. 


Para petenis, misalnya, harus mengenakan pakaian dominan warna putih. Roger Federer,  beberapa hari lalu dilarang mengenakan sepatu putih yang tapaknya berwarna oranye.  Kejuaraan ini juga punya waktu satu hari istirahat, hari Minggu yang terletak di tengah dua pekan. Jika biasanya akhir pekan justru banyak yang nonton pertandingan olahraga, Wimbledon malah istirahat.


Juga ada strawberry dan cream yang menjadi jajanan khas Wimbledon, yang disebut-sebut berasal dari sejak kejuaraan pertama tahun 1877. Waktu itu orang nonton sambil makan strawberry yang pas sedang musim dan diteruskan ke warga Inggris pada abad ke-21.


Tradisi lainnya adalah antrean Wimbledon, dan ini saya alami pada Sabtu 29 Juni lalu. Ini mungkin tradisi yang relatif baru, yang muncul setelah minat penonton Wimbledon jauh lebih tinggi dari kapasitas. Salah satu jalan mendapat tiket adalah mengikuti undian di internet kecuali Anda termasuk klien dari perusahaan-perusahaan besar yang harus diservis. Kalah undian, ada peluang untuk antri langsung karena selalu dialokasikan tiket harian.


Maka setiap hari ada saja orang yang tidur di tenda semalaman demi jaminan akan dapat tiket, baik untuk nonton di lapangan utama yang harus bayar ekstra atau nonton bareng lewat layar lebar di halaman Wimbledon maupun di lapangan-lapangan kecil gratis dengan para petenis junior atau peringkat bawah.


Setelah riset kecil-kecilan tentang antrian Wimbledon, maka saya dan istri bangun subuh pukul 05.00 untuk mengejar kereta pertama menuju Wimbledon, dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam. Setibanya di stasiun Wimbledon, ada pilihan menuju stadion dengan berjalan kaki sekitar 35 menit atau naik bus ulang alik yang disediakan atau taksi patungan bersama penumpang lain.


Kami pun memilih taksi, yang untuk kepentingan Wimbledon dimodifikasi menjadi seperti bemo di daerah Bendungan Hilir. Tunggu penuh dengan lima penumpang baru jalan.


Setibanya di tempat antrean, barisan mengular panjang. Puluhan petugas mengatur antrean dan sekitar pukul 07.00-an, kami berdua sudah mendapat kartu antrian bernomor 7.335 dan 7.336.  Ragu karena akan sia-sia menanti, saya tanya seorang petugas, yang menjawab santai "Kami akan berusaha untuk menampung sebanyak-banyaknya, sebisanya." Itu tampaknya tradisi Inggris dalam menjawab pertanyaan.


Berkat riset kecil-kecilan, maka kami juga sama dengan peserta antrean lain: membawa tikar, sarapan, teh, kopi, buah. Di antrean paling depan, terlihat barisan puluhan tenda, yang pastilah mendapat nomor antrean 01 hingga puluhan. Suasana antrean riang dan bersahabat. Saling ngobrol dengan calon penonton yang di depan atau di belakang.


Sambil menunggu dua setengah jam lebih, saya juga menemukan antrean amat internasional. Di depan adalah seorang pemuda dari Australia, di belakang tiga ibu dari London utara, di belakangnya lagi pasangan dari kota pantai Southampton. Sedangkan teman naik taksi patungan dari stasiun terdiri dari satu orang Amerika serta dua orang Skotlandia. Bahasa Jepang terdengar, juga  Cina, India, maupun berbagai bahasa Eropa seperti Italia, Spanyol, dan sudah tentu Bahasa Indonesia.


Iseng-iseng saya pergi ke ekor antrean dan nomornya sudah 9.300-an ketika loket belum buka dan masih saja ada kelompok yang berdatangan.


Setelah loket buka, antrean beranjak amat perlahan. Ternyata tetap saja beberapa orang menerobos antrean. Syukurlah, mereka tertangkap. Soalnya di dekat pintu masuk, ada petugas yang memeriksa nomor kartu antrean dan mereka yang nomornya melompat diminta minggir menunggu sampai urutannya tiba. Itu dia tadi gunanya sistem kartu antrean, pikir saya.


Dan pemeriksaan dilakukan dua kali. Ketika mau memasuki pos pemeriksaan barang, sekelompok petugas kembali melihat nomor kartu antrean dan meminggirkan para penerobos antrian. Saya dengan rasa kemenangan melototin para penerobos yang disuruh menunggu di pinggir. Saya yakin mereka rada malu juga: nyolong, ketangkap, dan disaksikan banyak orang.


Sebenarnya orang Inggris tergolong amat patuh antre. Kate Fox, seorang antropolog yang menulis buku Watching The English, mengutip lelucon, "Orang Inggris, biarpun sendirian, dia akan membuat antrean satu orang." Fox kemudian melakukan pengamatan sistematis dan berpendapat lelucon itu ada benarnya karena seorang Inggris yang sedang menunggu sesuatu akan berdiri dengan posisi dan postur untuk menjadi pemimpin antrean. Seorang Inggris itu, menurut Fox, berdiri dengan kerangka berpikir, "Dari posisi saya ini lah antrean dimulai."


Cuma di Wimbledon, banyak warga dari belahan dunia lain yang mungkin tidak terbiasa dengan antrean. Jadi perlu dibuat sistem agar antrean berjalan baik untuk menjamin keadilan bagi semua orang. Sistem yang sudah dibangun itu kemudian ditegakkan dengan disiplin tegas.


Saya anak Medan asli dan masih menyempatkan pulang ke Medan jika sedang tugas ke Indonesia. Dan setiap kali check-in di Bandara Polonia Medan, pasti harus menegur orang yang menerobos antrean, seperti akhir Mei lalu.


Celakanya cara itu tidak selalu berhasil karena petugas malah melayani satu dua orang yang menerobos, entah dengan alasan apa.


Jadi mungkin bukan orang antre yang perlu ditertibkan tapi petugas yang melayani antrean. Jika saja setiap orang yang menerobos antrean tidak dilayani, apa yang terjadi? Di Indonesia, umumnya itu belum terjadi.


*Liston P Siregar, editor www.ceritanet.com, tinggal di London.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!