Waisak dan Doa untuk Rohingya

Semangat kedamaian yang dibawa Buddha Gautama semoga meredakan ketegangan dan kemarahan.

Selasa, 02 Jun 2015 07:45 WIB

Api Dharma Waisak tiba di Candi Mendut. (Antara)

Api Dharma Waisak tiba di Candi Mendut. (Antara)

Hari ini, jutaan umat Buddha di seluruh dunia merayakan tiga peristiwa penting yang disebut Trisuci Waisak. Peringatan lahirnya seorang anak raja bernama Siddharta, lalu ketika Siddharta yang meninggalkan keduniawian mendapat pencerahan menjadi Buddha serta peringatan wafatnya Buddha Gautama.

Di Indonesia, puncak perayaan Waisak digelar sejak pagi ini, dimana umat Buddha berjalan kaki dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur sepanjang 3,5 kilometer.

Ritual peribadatan digelar hingga tengah malam nanti. Di tengah suasana terang bulan purnama, umat Budha akan melepas ribuan lampion sebagai simbol pencerahan bagi seluruh alam semesta. Inilah hari tertinggi dari semua perayaan dalam kalender umat Buddha.

Hari Raya Waisak hari ini diperingati dalam suasana yang agak berbeda. Ini terutama karena beberapa hari sebelumnya muncul ancaman teror. Teror itu muncul terkait memanasnya isu muslim Rohingya yang mengungsi karena konflik di Myanmar. Sekelompok orang di Indonesia pun mencari sasaran dengan meneror umat Buddha di dalam negeri. Informasi dari Majelis Budhayana Indonesia menyebut ada banyak demo dan ancaman penyegelan terhadap vihara di Indonesia. Bahkan sekitar 17 vihara mendapat ancaman bom. Belum lagi komentar-komentar panas di media sosial yang ikut memperkeruh suasana.

Kita berharap peringatan Waisak tahun ini berjalan lancar, penuh kedamaian. Semangat kedamaian yang dibawa Buddha Gautama semoga meredakan ketegangan dan kemarahan. Rencana umat Buddha menyelipkan doa khusus untuk warga etnis Rohingya di peringatan Waisak hari ini semoga juga membawa perdamaian bagi semua dan bisa tetap hidup berdampingan. Hentikan semua provokasi dan ucapan yang memanaskan hati.

Selamat Hari Raya Waisak. Semoga semua mahluk hidup berbahagia. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Korupsi Alat Kesehatan, Ratu Atut Divonis 5,5 tahun penjara

  • Korupsi E-KTP, Jaksa Apresiasi Hakim Akui Peran Setnov
  • Pansel Klarifikasi Temuan Masyarakat Kepada Calon Komisioner Komnas HAM
  • Polisi: Tidak Ada Gejolak Sosial Pasca Pembubaran HTI di Solo

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.