Orangutan. (Antara)

Orangutan. (Antara)

Bayangkan setelah seharian berpuasa, lalu tiba saatnya berbuka puasa. Hidangan disiapkan. Dan di piring tersaji... orangutan panggang.

Lutfi Alif Kurniawan, Dadun dan dua orang lagi yang masih buron memanggang satu orangutan untuk santapan berbuka. Mengunggah gambar-gambar mengerikan itu di akun Facebook mereka. Dengan wajah tersenyum. Mana yang lebih ngilu - melihat sajian orangutan panggang kecap atau pengakuan mereka tanpa dosa?

Berawal dari Facebook, orang yang diduga membakar orangutan ini sudah ditangkap Kepolisian Kotawaringin Barat bekerja sama dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah. Pelaku mengatakan bahwa memakan orangutan hanyalah upaya bertahan hidup. Sudah lama orangutan ini dianggap hama di kebun sawit. Mereka diburu, diberondong peluru, dipanggang, dibakar hidup-hidup.

Barangkali masih banyak yang tak tahu betapa pentingnya satwa ini sehingga dilindungi Undang-undang. Orangutan berperan penting dalam membantu penyebaran benih tumbuhan - seperti kupu-kupu yang bertugas serupa. Dan pembunuh orangutan bisa masuk penjara 5 tahun.

Keberadaannya di hutan menjadi kunci dan mencerminkan kesehatan ekosistem. Jika satu orangutan selamat, beragam spesies lain yang hidup di hutan juga dapat terselamatkan. Kita belum lagi mempertimbangkan manfaat kehadiran orangutan bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Jangan lupa, mamalia ini kerabat terdekat manusia dengan tingkat kesamaan DNA sampai 96,4 persen.

Dari hari ke hari, keberadaan orangutan makin terancam. The Nature Conservancy menyebut, 78 persen orangutan kini bertahan hidup di area yang tak terlindungi. Artinya: mereka rawan jadi sasaran. Karenanya pemerintah mesti lebih serius menjaga habitat orangutan, supaya tak makin banyak hutan yang mengalami alih fungsi. Sementara warga sekitar, seperti para pemakan orangutan itu, mesti tahu juga betapa berartinya orangutan bagi kehidupan manusia.   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!