Ilustrasi rokok (foto: Antara)

Ilustrasi rokok (foto: Antara)

Pantauan Yayasan Pengembangan Media Anak menunjukkan 85 persen sekolah dikepung oleh iklan dan promosi rokok. Utamanya lewat warung-warung yang ada di sekitar sekolah. Selain itu dari tiga sekolah, satu di antaranya terdapat spanduk atau papan promosi rokok di dekat sekolah.

Ini jelas menunjuk siapa target utama industri rokok: anak muda. Mereka coba dipengaruhi dan bisa jadi kelak jadi pecandu rokok. Rokok yang bisa dibeli eceran jadi cara ampuh untuk membuat anak mencoba lantas kecanduan. Dari sebatang, lantas menjadi berbatang kala kecanduan nikotin mulai menjerat anak. Kalau ada aturan larangan menjual rokok per batang, maka anak bisa berpikir ribuan kali untuk membuang uang. 

Upaya mendorong anak mengkonsumsi rokok sedari dini bukan cuma di sekitar sekolah. Iklan di sepanjang jalan sampai di dalam rumah melalui layar kaca televisi gencar dilakukan untuk membuat orang mau mencoba merokok. Dan harus diakui, pesannya diolah dengan canggih. Tanpa memperlihatkan sebatang rokok pun, imaji anak muda yang keren ditancapkan. Seolah tak asik kalau tak merokok.

Padahal artinya, asap dihisap sedikit demi sedikit, hingga kelak menuai penyakit akibat kebiasaan buruk yang dilakukan sejak dini saat usia sekolah.

Sepatutnya iklan zat adiktif semacam rokok itu dilarang. Suka tidak suka iklan digelar ditujukan untuk menambah jumlah perokok. Mereka yang sudah telanjur mencandu rokok, tentu tak butuh iklan. Tanpa ada iklan, para pecandu rokok toh akan tetap membeli rokok. Mereka yang sudah dewasa dan tak merokok, kecil kemungkinannya untuk menjadi perokok. Maka disasarlah anak dan remaja, yang karena usianya masih labil dan cenderung ikut-ikutan. 

Pilihannya terbatas. Melarang iklan dan menjual rokok secara eceran, demi mencegah anak dan remaja menjadi pecandu rokok. Atau membiarkan iklan dan rokok dijual eceran, sehingga anak dan remaja mencoba lantas kecanduan rokok. Pilihan ini akan menentukan kelak. Jadi bangsa yang sakit-sakitan karena generasi mudanya pecandu rokok atau bangsa sehat gilang gemilang karena anak dan remajanya bebas dari asap rokok. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!