Foto: Antara

Tewasnya Angeline sungguh membuat kita sedih, lantas marah. Media sosial kebanjiran ungkapan duka cita – termasuk dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise dan Menteri Pendayagunaan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Yuddy Chrisnandi. Dua menteri yang sempat ditolak masuk ke rumah Angeline ketika bocah kecil itu dinyatakan hilang. Hashtag #RIPAngline sempat menjadi trending topic di Twitter.

Tapi marah dan sedih tak cukup. Apalagi kalau kita melongok daftar hitam kekerasan anak di Indonesia yang kian panjang. Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat setiap tahun terjadi 3.700 kasus kekerasan terhadap anak. Artinya, 13 sampai 15 kasus kekerasan setiap hari. Se-ti-ap ha-ri.

Ini PR kita semua. Jangan berhenti dengan membagikan, me-like atau berbincang di media sosial. Bersama kita bisa mencegah kasus serupa terulang. Caranya mudah: bersikaplah lebih peduli. Peduli pada anak-anak di sekitar kita – tidak hanya anak sendiri. Kita telah begitu lama menganggap kekerasan terhadap anak orang lain sebagai urusan privat. Padahal menurut Undang-undang Perlindungan Anak dan UU Penghapusan KDRT, kita wajib melaporkan, bahkan ikut mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak. Tentu sesuai batas kemampuan kita, sesuai apa yang kita lihat, dengar atau ketahui.

Kalau kita lebih peduli, maka jejak kekerasan pada anak bisa dengan mudah dilihat. Lebam, bekas luka, kebersihan atau penampilan si anak bisa jadi penanda. Atau sikap anak yang berubah jadi murung atau justru sangat agresif. Kalau kita ingat lagi kasus Angeline, tanda-tanda itu sudah terpampang di depan mata. Guru-guru di sekolah pun tahu. Tapi ya itu, berhenti di situ – tidak lantas berupaya mencegahnya.

Polisi masih menangani kasus kematian Angeline. Kita perlu terus mengawal polisi sehingga kasus dibongkar tuntas dan pelakunya, mudah-mudahan, jera.

Orang dewasa mesti lebih jeli, juga peduli. Jangan diam, ini pesan utama yang digaungkan setelah kematian Angeline. Tindakan kita mungkin bisa menyelamatkan nyawa anak itu.
  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!