capres psikopat, kasus penculikan, prabowo bengis dan kejam, beda antara tegas dan kejam

Tak usah berdebat apakah cerita ini fiktif atau faktual.  Nama-nama tokoh mungkin rada nyerempet, mungkin juga tidak. Anda punya imajinasi yang bisa Anda mainkan sendiri. Juga pengetahuan. Begitu juga soal tempat, waktu, dan peristiwanya. Yang jelas, cerita ini saya tulis berdasarkan sumber-sumber kelas wahid. Semoga menghibur.

Nono membuat geger. Dua hari sesudah Komite Pemilihan Raya menetapkan nomor urut pasangan calon raja dan patihnya untuk bertanding, mantan kepala telik sandi negara itu membuat suhu politik memanas. Nono menyebut ada calon raja mengidap psikopat dan sedikit gila.

Nono membeberkan kondisi kejiwaan calon raja tersebut."Saya tidak negative campaign atau black campaign. Di tentara kalau mau naik pangkat, harus mengikuti pra kesehatan jiwa. Nah, dia dapat nilai G4 paling bawah," kata Nono dalam acara sebuah diskusi.
 
Nilai G4 itu sudah dekat dengan schizophrenia. Tapi reklame dan media sudah begitu hebat sehingga masyarakat termakan dengan kemasan yang dibuat.

(Menurut Wikipedia, schizophrenia adalah kelainan mental yang ditandai oleh gangguan proses berpikir dan respon emosi yang lemah. Keadaan ini pada umumnya dimanifestasikan dalam bentuk halusinasi pendengaran, paranoid atau waham yang ganjil, atau cara berbicara dan berpikir yang kacau, dan disertai dengan disfungsi sosial dan pekerjaan yang signifikan).

Jika ada prajurit dengan kondisi kejiwaan demikian, lanjut Nono, biasanya sangat temperamental dan mudah terpancing amarahnya. "Ini bukan hanya emosional, tetapi sudah psikopat, (bahkan) dekat-dekat gila," tuturnya.

Selang sehari sesudah pernyataan itu dilontarkan, Nono dilaporkan ke polisi oleh Komunitas Floradanfauna. Nono disangka melanggar pasal tentang fitnah dan pencemaran nama baik. Kasus tersebut sampai kini tidak jelas penanganannya.

Meski masih belum jelas penanganannya, pernyataan Nono itu memantik beribu tanya. Apakah benar si calon raja itu memang pribadi yang temperamental, emosional dan cenderung mengidap psikopat?

Babak Belur

Tidak mudah mencari nara sumber yang mau bercerita secara detil peristiwa kekerasan yang dilakukan si calon. Maklum yang dibicarakan bukan orang biasa, tapi orang yang punya rekam jejak menculik dan menghilangkan aktivis. Tapi beruntung masih ada saksi mata yang mau berbagi cerita.

Pemilihan Raya 5 tahun sebelumnya ternyata masih menyisakan cerita pilu. Waktu itu si calon gagal maju sebagai calon raja. Perolehan suara partainya jeblok dan tak mencukupi untuk maju sebagai capres. Ia merelakan diri sebagai calon patih saja.

Saat masih memproklamasikan sebagai calon raja, ia sempat bergerilya mencari dukungan suara, termasuk dari Partai Kotak. Tersiar kabar cukup kencang kalau si calon raja memberi duit mahar sebesar Rp 20 miliar kepada ketua umum Partai Kotak dkk. Apa lacur meski sudah terima duit, Partai Kotak malah mengalihkan dukungan ke gerbong biru.

Hal inilah yang membuat si calon raja marah. Ia dikabarkan mengamuk sejadi-jadinya. Kabar burung itu akhirnya terkuak. Dalam laporan tulisan di sebuah majalah pewarta, peristiwa itu terjadi di rumah adiknya, di kawasan ibukota bagian selatan, pada hari Minggu dini hari, 10 Mei lima tahun lalu. Ketika itu, Ketua Umum Partai Kotak bersama tiga koleganya, menemui sang kandidat. Hadir pula ketua umum partai matahari ketika itu dan satu orang kolega lainnya.

Mereka semua duduk di sebuah meja persegi panjang. Sang kandidat di kepala meja, di seberangnya duduk adiknya dan para tamu. Partai Kotak menjelaskan hasil keputusan rapat konsultasi Partai Kotak yang telah digelar di sebuah penginapan mewah, sehari sebelumnya. Bahwa meskipun sebelumnya Partai Kotak menyatakan mendukung sang kandidat sebagai calon raja, tetapi ternyata hasil rapat itu memutuskan lain. Secara resmi Partai Kotak memutuskan mendukung calon lain untuk maju sebagai calon raja.

Letusan Cetbang

Perubahan sikap politik Partai Kotak itulah yang membuat sang kandidat berang. Apalagi, partai matahari  juga mengambil sikap serupa. Sang kandidat tidak bisa mengendalikan emosinya, dia meraih kentongan yang ada di dekatnya, lalu dilempar ke arah pejabat teras Partai Kotak. Untung pejabat teras Partai Kotak masih bisa menghindar secara refleks, dan kentongan itu pun berantakan membentur tembok.

Sang kandidat lalu bergegas meninggalkan ruangan pertemuan, tak lama kemudian terdengar suara keras seperti bunyi cetbang. Apakah itu memang bunyi letusan yang berasal dari senjata cetbang? Mungkinkah saat itu si kandidat meluapkan kemarahannya dengan melontarkan cetbang ke udara? Tidak ada yang bisa memastikan, karena tidak ada yang melihatnya. Mereka yang hadir di ruangan itu hanya mendengar suara letusan keras, serupa bunyi letusan cetbang.

Rupanya kisah tragis pemilihan raya lima tahun lalu masih ada yang belum terkuak. Partai Kotak dipaksa mengembalikan seluruh uang yang telah diberikan. Apa lacur setelah semua uang refund diterima, sang tokoh kaget karena jumlahnya tak sesuai. Ada selisih uang sebesar Rp 4 Miliar. Uang itu diduga ditilap dua pejabat teras partai Garuda, yakni sekjen dan salah satu ketuanya.

Dikibuli

Syahdan suatu sore di kantor Partai Garuda terjadi peristiwa mendebarkan. Si sekjen masuk ke ruangan si calon raja dengan kondisi segar bugar. Tapi begitu keluar kondisi terhuyung, mulut berdarah dan tiga kancing baju lepas. Sebelumnya sempat terdengar suara bak bik buk dari dalam ruangan si calon raja. Beberapa pengurus Partai Garuda  yang menyaksikan peristiwa itu melongo. Sang kandidat keluar dari ruangan menuju mobil pribadi dan meninggalkan kantor. Sementara si sekjen ditinggal begitu saja dengan darah segar masih mengalir. Almarhum M, salah satu pendiri Partai Garuda menghampiri si sekjen sambil memberi nasihat. “Kamu yang sabar ya,” kata M.

Pak M geleng-geleng karena melihat sendiri peristiwa tersebut. Mantan petinggi Orde Anyar itu pun memberi wejangan kepada pengurus lain yang sedang duduk di ruang tamu kantor. “Kalian anak muda kok masuk partai ini?” kata M seperti ditirukan pengurus teras Partai Garuda. “Lha bapak sendiri kenapa juga mau?” salah satu pengurus balik bertanya. “Saya ini dikibuli Aliyon. Aliyon mengajak bergabung ke Partai Garuda karena bilang sang kandidat sudah berubah tabiatnya. Lha kalau yang barusan, di mana berubahnya,” kata M.

M juga bercerita, tabiat yang gampang marah itu sudah lama melekat pada sang kandidat. Bahkan M katanya pernah mau diculik oleh sang kandidat. Pangkal soalnya adalah sang calon raja menduga M bersekongkol dengan petinggi telik sandi untuk menggulingkan sang mertua.

Kembali ke kisah tragis si sekjen. Setelah kejadian tersebut, si sekjen melapor ke kolega yang juga sahabat sang kandidat, yaitu Aliyon. Tentu saja maksudnya selain curhat juga untuk mendapat dukungan. Maklum peristiwa itu kalau diketahui publik bakal jadi aib yang tak berkesudahan. Cilaka tiga belas, Aliyon malah memiliki ide gila, yang oleh si sekjen sendiri tak terpikirkan.

“Kamu lapor saja ke jagabaya, minta divisum. Bukti laporan itu bisa kita uangkan ke bapak. Nanti tinggal kita bagi,” kata Aliyon.

Untungnya usulan Aliyon itu bertepuk sebelah tangan, sang sekjen enggan memperpanjang perkara. Kasus ini pun seperti sudah dianggap selesai.

Uang Damai


Di tahun 2010, Partai Garuda memutuskan pindah kantor, dari kawasan tengah kota ke pinggiran selatan ibukota. Sepantasnya gedung baru berlantai lebih dari satu, Partai Garuda juga memasang tangga otomatis. Pengurus harian beranggapan tangga otomatis itu dipasang di depan untuk memudahkan pengunjung, pengurus maupun kader berkomunikasi. Rupanya jalan pikiran awam ini tak berkenan bagi si calon raja. Ia kecewa karena tangga yang dibelinya ternyata dipasang untuk umum di depan. Ia mau tangga itu dipasang di tengah dan diperuntukkan khusus untuk dia dan tamu penting. Nah, saat tukang tangga sedang bekerja tiba-tiba sang kandidat yang baru datang ke kantor baru itu langsung menghajarnya.

Seperti adatnya, prahara kekerasan selalu diselesaikan dengan damai. Korban diberi sejumlah uang untuk berdamai.

Bebarengan dengan pemasangan tangga otomatis tersebut, Partai Garuda juga memasang wifi, fasilitas internet nirkabel. Namun entah apa yang terjadi, wifi yang dipasang tak memuaskan si pemberang. Internet lambat. Sang kandidat kecewa dengan cara memasang dan provider yang dipilih. Tukang pasang wifi itu pun menjadi sasaran pukulan. Kasus yang sempat disaksikan pengurus rumahtangga kantor itu pun selesai dengan damai. Sejumlah uang digelontorkan oleh si kandidat kepada korban.


* Ulin Yusron, pegiat media sosial

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!