sarongge

Kabut melingkupi jalur perjalanan kami, awal Juni lalu. Gerakan udara horizontal itu menuruni lereng, seakan-akan ingin menyapa “Selamat pagi” kepada pohon-pohon berbunga, burung kenari, bahkan benalu. Kabut tak sedang memilih pagi. Bagi kabut, setiap pagi di Sarongge adalah saat-saat yang baik.

Tentu, sebagian hanya khayalan saya. Entah kenapa, pagi di tanah tinggi yang berkabut kerap membuat saya melamun dan tak jarang mengingat-ingat puisi. Begitu juga kabut di Sarongge. Kabut membawa saya pada “Nothing Gold Can Stay,” puisi karya penyair Robert Frost.

Saya membayangkan pagi, ketika matahari terbit di awal musim semi. Ia meninggi, lalu menyapu segala di bawahnya menjadi keemas-emasan. 




Emas, warna pertama di pagi hari.


Emas itu berubah menjadi warna-warni daun dan bunga yang menguarkan harum khas pegunungan. Seperti pagi itu, kala kami mulai meninggalkan perladangan Sarongge untuk berkenalan dengan hutan Legok Caur. Terasa sedang bermain-main di bukit berbunga, meski sebentar.

Kami berjalan di antara semak berbunga mungil pelbagai warna, seperti putih, ungu dan kuning menjelang Legok Caor. Sesekali Kang Wawan, pemandu kami pagi itu, berjalan keluar dari jalan setapak. “Bunga pacar tere,” sahutnya tiba-tiba di depan saya.

Bunga ini sebenarnya tak sulit digambarkan. Bayangkan saja bunga berwarna ungu dengan kelopak-kelopak kecil, seukuran daun semanggi. Pacar tere mudah tumbuh di pekarangan, tepi jalan, atau di mana saja ia mau. Pohon pacar tere yang tergolong tinggi hanya sebatas pinggang orang dewasa. ”Hanya,” mengingat pohon-pohon lain yang jauh lebih tinggi dan berdiri tunggal, tak berkelompok.

Menurut Kang Wawan, bunga pacar tere dapat mendorong penyembuhan kutu air. Sedangkan daunnya, kata Ketua RT 03 Sarongge itu lagi, ”bisa mengobati sariawan dan sulit buang air kecil.” Saya tertegun mendengar penjelasannya. Saya, merasa malu.

Saya malu merasakan cara penduduk Sarongge mengasihi pohon-pohon di hutan mereka. Bahkan pohon liar pun memiliki nama. Sementara kita, yang barangkali kerap melihat pacar tere di tepi jalan, justru mengabaikan kehadirannya.



Kami melanjutkan perjalanan di antara barisan semak berbunga. Kang Wawan tiba-tiba keluar jalan setapak, lagi. Kali ini keluarga cecenet menjadi tujuannya. Saya memperhatikan buah cecenet. “Ini namanya ciplukan, Kang, kalau di Jawa tengah,” kata saya antusias. Ciplukan yang saya kenal, mudah ditemukan di sekitar persawahan. Ciplukan biasanya tumbuh ditemani pohon jarak.

Sementara saya sibuk bernostalgia, Kang Wawan gencar memetik buah cecenet yang sudah matang. Ia lalu menyodorkan cecenet-cecenet berkulit kuning kepada kami. “Enak rasanya. Ada asamnya. Segar,” sahut Kang Wawan. Saya teringat ciplukan lagi.

Beberapa langkah dari kumpulan pohon cecenet yang merunduk, Kang Wawan kembali berhenti. Ia memandang ke lahan di sebelah kanan kami. ”Pohon saninten. Usianya sudah 150 tahun.” Saya meminta izin Kang Wawan untuk turun dari jalur, mendekati saninten tua. Tak ada daun tersisa. Ada, sebenarnya, tapi parasit. Bukan daun saninten.

Batang pohon saninten tua masih tampak kokoh. Meski, tampak pada mata saya, beberapa sisi kulit kayunya mulai lapuk. Saya pandangi ia untuk beberapa jenak. Berapa musim sudah ia lewati? Berapa kali kecepatan angin kencang telah menggugurkan daunnya?

Saya bayangkan daun-daun saninten itu berguguran, menyepikan ranting-ranting, sebelum tumbuh tunas baru pada buku-buku batangnya.

Segala kembali. Silih. Berotasi. Pada yang lampau.


Kang Wawan menyeberang ke kiri di suatu pertigaan penuh semak liar. Titik ini dinamai Persimpangan Puspa. Namanya membuat saya tergerak untuk mendongak, mencari pohon puspa (Schima wallichii). Ternyata cukup sulit. Daun-daun pepohonan di sekitar tempat saya berdiri tampak nyaris sama. Cara paling mudah, ya, mengamati pohon puspa adopsi. Mereka belum seberapa tinggi, sehingga masih terjangkau mata saya.

Daun pohon puspa berwarna kemerah-merahan, seperti suren (Sureni tonii) . Kayu puspa biasa digunakan sebagai bahan pembentuk rumah. Di Sarongge, kata Kang Wawan sambil mengamati kulit kayu pada sebuah pohon, masih tersisa beberapa puspa berusia ratusan pohon.

Pohon puspa yang menginspirasi gambar sampul “Sarongge”, novel karya Tosca Santoso. Tekstur kayu pada gambar bagian batang puspa tampak jelas. Gurat hijau muda dan goresan yang lebih gelap menetapkan kekokohan pohon puspa. 




Tekstur kayu pula yang memudahkan Kang Wawan mengenali pohon-pohon dalam hutan. Tak perlu seperti saya, yang mesti mendongak.  “Ini kalau dikelupas sedikit, bakal terlihat lendir. Ini yang membedakan huru leer (Persea rimosa) dari keluarga huru lainnya,” katanya saat kami berhenti di sebuah pohon dalam hutan alami Legok Caor. 


Kami akhirnya tiba di bawah ki hujan, pohon yang menjadi tujuan perjalanan pagi itu. Dari bawah batangnya, saya bis melihat malai-malai bunga ki hujan. Dari jauh seperti bunga mangga. Namun, malai bunga ki hujan tampak lebih lentur, sehingga memungkinkannya menjuntai.

“Barangkali baru gugur sekitar sebulan lagi,” jawab Kang Wawan kala saya tanya perkiraan waktu rontok bunganya. Artinya akhir Juni atau awal Juli. Menatap malai yang begitu banyak dan bergerombol, rasanya saya bisa membayangkan kala bunga ki hujan mulai berguguran. “Ketika gugur, suaranya seperti hujan,” papar Kang Wawan yang langsung menirukan suara hujan deras.

Bunga ki hujan tak akan seterusnya menguning. Malai-malai akan menghijau, merelakan bunga-bunga pergi. Pada akhirnya, malai pun jatuh bersama daun-daun tua.

Tak ada emas yang menetap.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!