Petisi, Change.org, Usman Hamid

KBR68H - Demonstrasi atau petisi, mana lebih besar pengaruhnya bagi para pengambil kebijakan?

Jika pertanyaan itu diajukan beberapa tahun silam, sebelum era internet dan media jejaring sosial berkembang pesat, demonstrasi merupakan cara ampuh menekan para pengambil kebijakan.

Namun sekarang era telah berubah. Tekanan publik melalui petisi lebih efektif daripada demonstrasi. Apalagi petisi melalui situs web khusus petisi, seperti Change.org.

Bukan pekerjaan yang mudah untuk menggalang ribuan orang pada satu kesempatan, lalu berdemonstrasi mendatangi kantor pejabat untuk memprotes kebijakan tertentu. Belum tentu pejabat itu menerima para pengunjuk rasa. Belum tentu juga tuntutan demonstran diterima, karena bisa jadi lembaran tuntutan disortir atau disimpan ajudan pejabat.


Bisa jadi pejabat sedang ke luar kota atau ke luar negeri, dan esok hari ketika sang pejabat menuju kantor, ia sudah disibukkan dengan persoalan lain. Yang ada hanyalah kelelahan dan peluh keringat para demonstran. Dan kemacetan.

Berbeda dengan petisi, melalui situs Change.org yang sejak tahun 2012 membuka kantor perwakilan di Indonesia.

Untuk mengumpulkan lima ribu hingga belasan ribu tanda tangan dukungan atas satu isu bukan hal yang mustahil. Bahkan angka jutaan tanda tangan dukungan bukan sekali dua kali terjadi untuk satu petisi.

Jutaan Tanda Tangan

Di Amerika, pada Maret 2012, seseorang membuat petisi di Change.org. Judulnya "Tolong hukum pembunuh anak kami, Trayvon Martin berumur 17 tahun." Petisi itu menuntut agar hakim menghukum George Zimmerman, seorang relawan pengawas lingkungan di Florida yang menembak mati Trayvon Martin.

Pada April lalu, petisi itu mendapat dukungan tanda tangan mencapai lebih dari 2,2 juta tanda tangan. Saat itu menjadi petisi dengan jumlah tanda tangan terbesar dalam sejarah berdirinya Change.Org. Satu bulan kemudian, Zimmerman ditangkap atas tuduhan pembunuhan tingkat dua. Saat ini George Zimmerman diadili dan persidangannya mendapat perhatian luas publik di Amerika.

Di Jerman, seorang mahasiswa Jerman berusia 21 tahun, Philip Matesanz membuat petisi agar Google mengizinkan adanya situs atau software pihak ketiga untuk mengkonversi video Youtube ke audio MP3. Petisi diajukan setelah situs milik Philips mendapat ancaman gugatan dari Google karena layanannya itu. Petisi itu hingga kini mendapat dukungan lebih dari 4,3 juta orang dari berbagai belahan dunia. Angka dukungan itu saat ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah Change.org hingga saat ini.

Kemenangan

Di Indonesia, belum ada petisi yang dukungannya mencapai jutaan tanda tangan. Meski begitu, sudah banyak kemenangan dan keberhasilan yang dicapai dengan petisi Change.org.

Maret 2013 lalu, PT Garuda Indonesia mencabut persyaratan 'Surat Sakit' bagi penyandang disabilitas yang hendak bepergian dengan pesawat terbang. Salah satunya berkat petisi yang diajukan Cucu Saidah, aktivis penyandang disabilitas yang mendapat perlakuan diskriminasi saat bepergian dengan maskapai itu. Petisi Cucu Saidah, menang dengan cukup 1,700 tanda tangan dukungan.

Pada Januari 2013, Kepala Pengadilan Tinggi Banjarmasin Muhammad Daming Sunusi mengeluarkan pernyataan mengejutkan saat mengikuti seleksi calon hakim agung di DPR. Pada saat ditanya layak tidaknya hukuman mati bagi pelaku pemerkosaan, Daming Sunusi menjawab "“Yang diperkosa dengan yang memerkosa ini sama-sama menikmati. Jadi, harus pikir-pikir terhadap hukuman mati.”

Pernyataan itu memicu protes luar biasa. Seorang musisi yang juga aktivis pembela perempuan, Melanie Subono membuat petisi agar DPR tidak memilih Daming Sunusi sebagai hakim agung. Tekanan publik luar biasa, dan akhirnya tidak ada satu pun anggota Komisi III DPR yang memilih Daming Sunusi. Petisi Melanie Subono menang dengan dukungan 11 ribu tanda tangan publik.

Banyak lagi kemenangan-kemenangan lain yang diraih publik. Meskipun barangkali itu juga dibantu faktor tekanan lain. Misalnya penghapusan diskriminasi kasta di Rajasthan India yang sudah berlangsung puluhan tahun, atau perbaikan jalan rusak di Jl Raya Muncul Serpong Tangerang, dan sebagainya.

Isu petisi pun tidak selalu berat. Di negara bagian Maine, Amerika Serikat, seorang remaja berusia 14 tahun bernama Julia Bluhm mengirim petisi kepada majalah remaja Seventeen agar tidak 'mempermak' foto model remaja dengan peranti lunak pengolah foto Photoshop. Alasannya, foto yang sudah diolah akan mendorong para remaja untuk tampil seperti yang ada di foto. "Ini bisa memicu masalah pola makan, gangguan diet, depresi, dan menurunkan kepercayaan pada diri sendiri."

Petisi Julia mendapat dukungan dari 86 ribu tanda tangan. Hasilnya, kemenangan. "Mereka (editor Seventin) mengatakan tidak akan menggunakan Photoshop untuk mempermak foto para model. Ini kemenangan besar, dan saya begitu bahagia," tulis Julia kepada para pendukungnya. Selanjutnya sasaran petisi akan ditujukan kepada majalah remaja lainnya.

Aksi Lewat Surel

Situs petisi Change.org telah menjadi gerakan baru revolusi sosial. Protes publik ini hadir tanpa kerumunan massa atau teriakan-teriakan orasi melalui megaphone. Protes publik Change.org hanya dengan membanjiri para pembuat kebijakan dengan surat elektronik (email) dan tekanan melalui situs jejaring sosial.

Setiap ada tanda tangan dibubuhkan pada satu petisi, maka secara otomatis situs Change.org akan membuatkan surat elektronik atas nama pendukung itu dan dikirimkan kepada para pejabat pembuat kebijakan.

Bayangkan, jika Anda pejabat negara yang menjadi target petisi. Anda tidak henti-hentinya menerima surat elektronik dari publik yang menuntut Anda melakukan sesuatu, atau tidak melakukan sesuatu. Mustahil jika Anda mengabaikan tekanan lewat surat elektronik seperti ini.

Pada kasus kisruh lembaga KPK dengan Kepolisian terkait perebutan wewenang menangani kasus korupsi proyek simulator SIM, Oktober lalu, Annisa Wahid (putri Presiden Keempat RI Abdurrahman Wahid) membuat petisi di Change.org, meminta agar kasus Simulator SIM ditangani KPK.


Petisi Aninisa Wahid mendapat dukungan luar biasa dari publik. Lebih dari 15 ribu tanda tangan dibubuhkan. Artinya, ada 15 ribu surat elektronik yang mengalir ke alamat email Presiden, dan para pejabat negara lainnya. Belum lagi penyebaran petisi ini dilakukan dengan membagi tautan lewat jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook.

"Anda bisa bayangkan, ada ribuan surat petisi dari ribuan nama yang berbeda, masuk ke email Presiden, Kapolri dan anggota DPR," kata Usman Hamid, Direktur Kampanye Change.org Indonesia.

Hasilnya sudah kita lihat bersama. Tekanan publik dengan bermacam cara---termasuk melalui situs petisi online Change.org---memaksa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan kasus Simulator SIM ditangani KPK.

Di zaman serba internet, dan setiap orang terhubung dengan email, jejaring sosial, maka gerakan Social Activism 2.0 (gerakan sosial digital) akan semakin efektif.

Kita bisa mulai, dari isu yang sederhana dan spesifik. Mustahil membuat petisi dengan judul "Hentikan Kelaparan di Dunia" atau "Keadilan untuk Semua", dan sebagainya.

Akan lebih masuk akal membuat petisi yang konkrit, di daerah tertentu atau pada isu tertentu yang ingin Anda ubah.

Karena dahsyatnya kekuatan publik lewat petisi online, seperti Change.org tidak bisa dihalang-halangi oleh aparat kepolisian, barikade tentara, lemparan gas air mata, atau poporan senjata. Karena perubahan tak bisa dilawan.

Selamat berpetisi. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!