Toleransi, Sabang Merauke, keberagaman

Lebih dari setahun lalu, putri kami, Cha, yang masih berusia lima tahun, berkata kepada saya, “Aku nggak mau punya adik. Aku mau punya kakak!” Wah, tentu saja saya kaget mendengarnya. Bagaimana caranya punya kakak? Cha kan, anak pertama. Setelah berpikir sejenak, saya bertanya kepada Cha, “Bukannya kakak Cha banyak? Ada Kak Yudhis, Kak Tata, …” Saya menyebutkan nama teman-temannya yang usianya lebih tua. “Bukan, bukan itu. Yang tinggal di sini.”


Tak lama kemudian, saya berkenalan dengan Sabang Merauke, akronim dari Seribu Anak Bangsa Merantau untuk Kembali) melalui seorang kawan. Sabang Merauke adalah gerakan sosial dalam bentuk program pertukaran pelajar antar daerah yang menekankan nilai-nilai toleransi, pendidikan, dan ke-Indonesia-an (dari sabangmerauke.org). Beberapa pelajar SMP dari berbagai daerah akan dikirim ke Jakarta, mengikuti berbagai kegiatan di ibukota, dan menginap di rumah Family Sabang Merauke (FSM). Setelah membaca informasi lengkap mengenai Sabang Merauke, kami pun mendaftarkan diri sebagai FSM.


Di suatu siang, sebuah e-mail dari Sabang Merauke datang. Mereka mengabarkan kalau kami lulus seleksi berkas dan rumah kami akan dikunjungi oleh seorang kakak dari Tim Seleksi. Kakak tersebut bertanya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas keluarga dan yang utama adalah apakah kami bersedia menerima Anak Sabang Merauke  (ASM) dari suku dan agama yang berbeda? Kami pun mengangguk tanda berkenan. Sabang Merauke memiliki keyakinan bahwa toleransi harus dialami dan dirasakan, tidak hanya diajarkan. Oleh karena itu, salah satu syarat utama jika ingin bergabung dengan Sabang Merauke adalah mau membaur dengan anak, kakak, maupun keluarga yang berasal dari suku, agama, dan daerah manapun. Beberapa hari setelah kunjungan tersebut, kami menerima kabar bahwa kami terpilih menjadi FSM.


Yang terbayang di benak kami selain pengalaman yang menyenangkan, juga pembelajaran yang akan memberi kami banyak pencerahan serta kebahagiaan.


Orientasi 


Kegiatan pertama yang harus kami ikuti adalah Orientasi FSM. Di sini kami diajak berkenalan lebih jauh mengenai Sabang Merauke dan kami mendapat nama ASM yang akan tinggal di rumah kami selama dua minggu. Ia seorang anak perempuan aktif dan cerdas, yang berbeda suku serta agama dengan kami. Kami beragama Islam dan dari suku Jawa serta Sunda, sedangkan Villa, ASM yang tinggal di rumah kami, beragama Hindu dan berasal dari suku Tengger Bromo. 


Di masa Orientasi FSM ini juga kami menanyakan kepada salah seorang kakak Sabang Merauke, “Adakah keperluan sembahyang Villa yang bisa kami siapkan sebelum ia datang?” Saya teringat dengan seorang teman di SMP yang beragama Hindu, ia membuat sebuah tempat sembahyang di sekolah. “Kalau pun ia memerlukan tempat khusus, akan kami siapkan,” lanjut saya memastikan bahwa kami bersedia memenuhi kebutuhan Villa untuk beribadah dengan baik. 


Bertemu Villa


Saat kami bertemu Villa, Cha menyapa kakak barunya, memeluknya, dan memberikannya gambar yang sudah disiapkan dari rumah. Cha juga semangat bercerita aneka macam pada kakaknya. Villa pun tak kalah seru dalam menanggapi Cha. 


Sebelum bertemu dengan Villa, suami mengingatkan untuk memastikan mengenai tempat sembahyang, apakah membutuhkan tempat khusus atau bagaimana? Dalam perjalanan ke rumah, saya menanyakan mengenai hal tersebut, Villa berkata bahwa sembahyang bisa dilakukan di kamar, semua peralatan sembahyang sudah dibawanya. Saya pun bersyukur dan berharap bahwa tinggal di keluarga yang berbeda agama, tidak menghalanginya untuk tetap beribadah.


Di hari pertama Villa tinggal di rumah kami, saya seperti biasa bangun sebelum subuh, lalu melakukan berbagai aktivitas. Sekitar pukul enam lewat, Villa membuka pintu kamar. Wajahnya terlihat segar. “Eh, sudah bangun?”


“Sudah dari tadi, Bu,” sahutnya.


“Oh.” Saya sedikit terkejut.


“Iya, tadi sekitar pukul empat sembahyang soalnya.” 


“Terus nggak tidur lagi?” tanya saya.


Villa menggeleng.


Rasa kagum saya muncul seketika. Tadinya saya memperkirakan Villa akan bangun siang, apalagi jika mengingat bahwa ia masih SMP, biasanya masih hobi bangun siang, dan ia baru sampai wisma di Jakarta Jumat hampir tengah malam, lalu di hari Sabtu ada acara penuh dari pagi hingga malam. Ternyata meski jauh dari orang tua dan saya belum mengetahui jadwal sembahyangnya, Villa bisa mandiri bangun pagi dan sembahyang. 


Setelah itu, saya pun bertanya mengenai jadwal sembahyangnya. “Sembahyang tiga kali sehari, Bu. Pagi hari sekitar pukul empat sampai pukul lima, pukul dua belas siang, dan antara pukul enam sampai pukul tujuh malam.”


“Oh, oke. Kalau nanti waktunya sembahyang, jangan sungkan untuk langsung sembahyang, ya.” Saya kembali memastikan. Selain sembahyang, kami juga berdiskusi mengenai pantangan makanan dalam agama Hindu. Sepengetahuan suami, umat Hindu tidak boleh makan daging sapi, ternyata itu terjadi jika si anak sudah diberkati di usia tujuh belas tahun. Karena belum berusia tujuh belas tahun, jadi Villa tidak ada pantangan makanan apa pun.


Seperti anak sendiri 


Selaku FSM, sudah sepatutnya kami memperlakukan ASM seperti anak sendiri. Hal-hal penting seperti ini harus dibicarakan agar kami bisa menyiapkan segala sesuatu dengan baik agar Villa pun merasa nyaman.


Ketika sedang bermain di rumah bersama Cha dan waktu sembahyang tiba, Villa langsung izin untuk sembahyang di kamar. Cha yang selalu ingin mengikuti kakaknya pun mau turut masuk ke kamar. Suami dan saya berusaha menjelaskan bahwa Villa mau sembahyang, Cha tunggu di luar dulu. Ia pun bertanya, “Sembahyang itu apa?”


“Beribadah, seperti kita salat. Kita tunggu sampai selesai ya, biar nggak mengganggu.” Cha menganggukkan kepala, bersedia menunggu, meski sering kali bertanya, “Kok belum keluar kamar? Kok belum selesai?” Hehe.


Selama dua minggu Villa tinggal di rumah, tidak pernah sekalipun saya mengingatkannya untuk sembahyang, ia yang selalu tepat waktu melaksanakan ibadah.


Pernah suatu ketika ia pulang lebih malam bersama Ayah. Sesampainya di rumah, saya tanyakan, “Tadi Villa sembahyang gimana?” Karena sekitar pukul enam sampai tujuh malam mereka masih terjebak macet di jalanan Ibukota. “Di dalam mobil. Berdoa saja dalam hati.”


Belajar toleransi


Beberapa hari menjelang Ramadhan, saya bercerita mengenai puasa dan hal lainnya yang berkaitan dengan Ramadhan kepada Cha. “Besok Kak Villa juga puasa?” tanya Cha. Saya menggeleng. “Kenapa nggak?” lanjutnya.


Saya pun menceritakan bahwa Villa beragama Hindu dan memiliki tata cara beribadah yang berbeda dengan Islam. Di sini Cha kembali banyak bertanya, “Apa itu Hindu? Bukan Islam kayak kita? Kalau di Hindu nggak puasa?”


Di sinilah kesempatan kami untuk menjelaskan mengenai keberagaman dan perbedaan. Tata cara beribadah setiap agama berbeda dan harus dihargai. Selama bulan Ramadhan, kami berpuasa seperti biasa dan tetap menyediakan Villa makan seperti biasa. Ketika waktunya sarapan pagi, kami menemaninya makan. Ketika tiba saatnya untuk makan siang, kami pun duduk bersama Villa di meja makan.


Kunjungan balasan 


Mei tahun ini, sesuai tekad kami tahun lalu, kami mengunjungi Villa di Malang dan bertemu dengan orang tuanya. Bapak dan ibu yang selama ini hanya saya kenal lewat cerita-cerita Villa, tapi kemarin saya bisa bersalaman langsung dan berbincang dengan mereka. “Menjaga toleransi melalui silaturahmi,” ujar Kak Tidar, salah satu kakak Sabang Merauke, saat saya mengunggah foto kami di sosial media. 


Ketika kami makan siang bersama, saya sempat menanyakan, “Bapak Ibu nggak takut ketika tahu Villa akan tinggal di keluarga yang agamanya berbeda?” Saya menanyakan ini karena mendengar dari seorang kawan, ada orang tua yang tidak mau mendaftarkan anaknya menjadi Anak Sabang Merauke karena takut akan dipengaruhi dalam soal agama. “Nggak, kalau itu nggak. Yang saya khawatirkan justru selama perjalanan. Di pesawat gimana karena Villa sendiri kan, lalu di sana (Jakarta) dijemput siapa. Tapi, begitu tahu aman dan lancar, semua sudah diatur oleh kakak-kakak dengan baik, saya lega.” 


Jejak toleransi ini pun terus berlanjut. Cha tidak hanya mempunyai satu kakak, tapi banyak kakak baru di Sabang Merauke. Kami pun tidak hanya menambah satu anak, tapi bertambah pula keluarga kami.



Penulis adalah Family Sabang Merauke tahun 2013. Info soal Sabang Merauke di sini.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!