megawati soekarnoputri, joko widodo jokowi, koalisi pilpres

Megawati telah menunjukkan bagaimana seharusnya mental berpolitik bangsa Indonesia. Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan ini memberi contoh konkret bahwa Indonesia Baru, Indonesia Hebat, hanya bisa dibangun dengan itikad baik, kesantunan, sikap tegas dan konsisten pada prinsip. Taat azas pada strategi, adapun taktik bisa berubah.

Kesungguhan itu ditunjukkan dengan kata “tidak” pada transaksi dan tawaran berkoalisi yang berpotensi transaksional. Ia kukuh percaya diri pada mandat yang telah diberikan kepada Joko Widodo. Megawati agaknya percaya bahwa suara rakyat bisa jadi bukan suara Tuhan, tapi tetaplah suara yang tak boleh diabaikan. Lalu tanpa sungkan beberapa partai politik mendekat, menyusul Nasional Demokrat dan Kebangkitan Bangsa.

Tapi, di situ pula muncul soal. Setelah diprotes karena membuka diri untuk berkoalisi dengan Golkar, PDI-Perjuangan main mata dengan Hanura. Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto, bertemu Sabtu (17/5) dengan Megawati di Teuku Umar, dan mengumumkan peluang berkoalisi. Sesungguhnya ini menjadi salah satu palang penghadang bagi Joko Widodo (Jokowi).

Setelah melewati hampir separuh periode kedua kepemimpinannya di Solo, Jawa Tengah, Jokowi  membetot perhatian publik Indonesia. Kegesitan, kesabaran, dan kesederhanaan—tiga ciri utama kepemimpinan Jokowi—membuatnya diundang ke Jakarta untuk membenahi ibukota. Memang Jakarta bukan kota sekecil Solo, dan gubernur memiliki pekerjaan lebih berat ketimbang walikota. Tapi, Jokowi membuktikan bahwa baginya di manapun sama. Menurutnya, prinsip pengelolaan pemerintahan tak berbeda dari tingkat kota kecil, provinsi, atau negara. Dalam beberapa kesempatan, Jokowi menilai bahwa kunci pemerintahan—yang tak dilakukan oleh pemerintahan sekarang—adalah: manajemen pengendalian dan memiliki fokus.

Publik banyak tak sabar menunggu Jokowi usai menuntaskan tugas di Jakarta dan meminta agar ia memimpin Indonesia. Megawati mendengar aspirasi ini, dan memberinya mandat, 14 Maret silam. Jokowi menjadi petugas partai untuk maju sebagai Presiden RI.

Pada titik itulah Megawati menunjukkan betapa ia piawai mengelola politik Indonesia. Ia begitu cermat, sekaligus bijaksana, dan mampu mengesampingkan suara-suara yang memintanya untuk menjadi calon presiden dari PDI-Perjuangan. Ia tahu mana yang terbaik buat bangsa Indonesia. Ia bertemu dengan tokoh Nasdem, Surya Paloh, dan memberi tahu bahwa ia dan Jokowi hendak mencari kawan tapi tanpa persyaratan transaksional. Tak ada jatah kursi, barangkali juga tak ada jatah BUMN.

Apa yang dipikirkan oleh PDI-Perjuangan agaknya bukan sekadar kemenangan bagi Jokowi. Mereka berpikir tentang koalisi di parlemen. Dalam hitungan jumlah kursi, PDI-P—Nasdem—PKB baru memperoleh 191 kursi. Sudah memadai untuk mencalonkan Jokowi dan dengan dukungan mayoritas pemilih, bisa menang, tapi PDI-P khawatir dengan situasi di DPR kelak. Kursi sebanyak 191 tak memadai dalam berbagai pemungutan suara karena jumlah anggota DPR 2014-2019 sebanyak 560 orang.


Lalu apa dengan begitu tawaran Hanura harus diterima?


Bersambung ke Dua Palang Menghadang Jokowi [2]

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!