KBR - Suara-suara itu terserak. Tak ada yang tahu pasti di mana rimbanya. Si pemilik suara sudah entah ke mana. Tapi ini adalah harta karun demi menjaga ingatan generasi selanjutnya - supaya tak lupa akan kekejian yang terjadi di era 1965-1966.

Suara mereka diteruskan kepada kami, yang mencoba mendengar lagi dengan saksama. Mencoba membayangkan apa yang mereka kisahkan kepada kami.

Di sana ada pilu. Pedih. Marah. Benci. Juga, pasrah.

Masih lekat di ingatan, suara para perempuan yang meraung kesakitan akbat siksaan saat diinterogasi. Ada juga lelaki kesepian yang ditinggal keluarganya, pasca dibuang belasan tahun ke tanah pengasingan, Buru. Juga ada seorang anak yang merana, ketika tujuh anggota keluarganya lenyap tiba-tiba.

Suara-suara itu seperti bicara kepada kami.

Kami tak ingin suara itu lenyap begitu saja. Kami putuskan untuk merangkai ulang dan menyimpan mereka dalam sebuah kotak yang kami beri nama #17thBersama65.

Ini adalah sebentuk kado dari KBR, yang tahun ini menginjak usia ke-17. Masih remaja. Selama 17 tahun KBR berdiri, sudah ada begitu banyak kepingan suara mereka yang terserak di sana sini dalam berbagai liputan kami. Di hari penting ini, kami ingin hadirkan kembali suara lirih mereka. Ini seperti sebuah mesin pengingat: bahwa tragedi kemanusiaan 1965/1966 adalah bagian dari perjalanan sejarah yang harus diakui dan diungkap.

Terimalah persembahan kami: cerita tentang nama, peristiwa dan fakta dalam #17thBersama65

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!