Ilustrasi Test Gula Darah

Ilustrasi Test Gula Darah

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 422 juta orang di dunia hidup  dengan penyakit gula atau diabetes. Jumlah itu meningkat empat kali lipat dari data pada 1980. Sebagian besar pengidap tinggal di negara-negara berkembang. Kata WHO kelebihan berat badan jadi sebab utama peningkatan jumlah pengidap.

Pada 4 tahun silam diabetes disebut sebagai sebab kematian 1.5 juta orang. 80 persen kematian justru terjadi di negara-negara dengan ekonomi menengah dan bawah. Karena itulah kemarin bertepatan dengan hari Kesehatan Dunia, WHO menyerukan langkah global untuk menghadapi diabetes.

Di Indonesia, jumlah  pengidap saat ini mencapai lebih 9 juta orang. Dengan jumlah itu, Indonesia berada di urutan ketujuh dunia dengan jumlah pengidap diabetes terbanyak. Diabetes disebut sebagai penyakit pembunuh nomor 3. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menyebut diabetes sebagai ibu dari penyakit. Komplikasi diabetes bisa mengakibatkan dari serangan jantung, stroke, gagal ginjal hingga amputasi.

Karena tingginya angka diabetes, pemerintah menghimbau masyakat mencegah risiko terkena diabetes. Meminta masyarakat menjalankan pola hidup yang sehat. Caranya dengan mengurangi makanan yang tinggi garam, gula,  lemak dan rajin berolahraga.  Dan bagi perokok, saatnya menghentikan kebiasaan buruk itu, begitu himbauan Menkes.

Kementerian kesehatan menargetkan angka diabetes turun hingga sepertiga. Target itu  bisa dicapai bila ada upaya khusus dari pemerintah dan kesadaran untuk hidup sehat dari warganya. Pemerintah bisa mulai dengan membuat aturan pembatasan kadar gula dalam makanan dan masyarakatnya mulai menjalankan pola hidup sehat sedari dini. Kalau tidak, bersiaplah kena diabetes dan meningkatnya jumlah pengidap. Ujung-ujungnya, biaya kesehatan masyarakat makin tinggi pula.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!