Lulur cengkeh.

Betis Ken Dedes yang Bersinar

Beberapa tahun yang lampau saya sempat mengunjungi Lembah Baliem, Jayawijaya Papua. Ketika saya pergi ke Lembah Baliem, saya sempat bertanya ke beberapa pria suku Dani Lembah Baliem. Sebuah pertanyaan hanya karena ingin tahu tentang kriteria wanita cantik di mata pria suku Dani Baliem. Beberapa pria itu menjawab wanita cantik adalah wanita yang memiliki kulit bersih, senyum bagus, dan rajin merajut noken.

Kulit juga dianggap penting sebagai kecantikan wanita oleh sebagian wanita Jawa. Sebuah kisah kuno di masyarakat Jawa  menceritakan Ken Arok jatuh cinta ketika melihat betis Ken Dedes yang bersinar indah alias kinclong. Ketika membaca kisah itu, saya membayangkan kulit Ken Dedes kinclong itu mungkin karena rajin dilulur.

Lulur adalah tradisi merawat kulit di kalangan wanita keraton Jawa sejak zaman dulu. Menurut penuturan GRAy Koes Sabandiyah, salah satu putri Paku Buwono XII, para wanita keraton wajib luluran jika mereka ingin menjadi penari istana. Menjadi penari istana adalah impian setiap anak perempuan di keraton Jawa. Dengan menjadi penari mereka diberi kesempatan berkenalan dengan tamu-tamu agung kerajaan yang siapa tahu bisa menjadi jodohnya. Seorang empu tari Jawa memilih penari-penarinya dengan ketat berdasar kebersihan kulit penari selain ketrampilan menari. Karena menari itu sangat melelahkan. Badan penari jadi berkeringat. Jika kulit tidak bersih maka keringat penari akan bau. Selain itu, bedak yang ditaburkan di badan penari tidak akan menempel dengan lekat jika kulit kasar.

Wanita priyayi Jawa memang memiliki rahasia perawatan kulit yang kinclong dan wangi.  Untuk mengamplas kulit agar halus dan wangi, wanita Jawa mempunyai lulur cengkeh, jehe, dan minyak kelapa yang hangat. Bahkan, mereka juga mempunyai pengetahuan merawat bagian intim tubuh wanita agar sehat dan bersih. Belum termasuk teknik memijat yang dapat membuat tubuh rileks dan nyaman.

Tak Tercatat, Tak Dikenal

Orang Dayak juga memiliki segudang pengetahuan kosmetika dan obat. Orang Dayak mengenal daun Delto yang mujarab untuk merawat bagian intim tubuh wanita. Semua bahan kecantikan wanita itu berasal dari tumbuhan liar yang hidup di hutan atau pertanian di desa. Jauh dari peradaban wanita kota.

Sayangnya, orang Dayak tidak memiliki kebiasaan mencatat pengetahuan kosmetik dan obat itu. Pengetahuan itu hanya ditularkan secara tutur tinular. Begitu pula halnya di kalangan keraton dan rumah priyayi Jawa.  Berbeda dengan orang Mesir, Arab, Yunani, dan Eropa yang rajin mencatat setiap pengetahuan dan peristiwa penting dalam kehidupan mereka. Pengetahuan mereka berkembang dan dikenal senatero jagat berkat catatan yang diwariskan secara turun temurun. Catatan itu berkelana dari satu bangsa ke bangsa lain selama berabad-abad. Akibatnya, mandi susu yang dilakukan Cleopatra untuk membuat kulitnya kinclong dikenal orang seantero jagat. Sementara itu, lulur tradisional Jawa dari cengkeh, jahe, dan minyak kelapa, yang tidak kalah dahsyatnya, nyaris tidak dikenal.

Tidak heran, ketika salah satu putri Keraton Solo, BRA Mooryati Soedibyo, mengunjungi Leiden dan menemukan buku salinan yang mencatat resep-resep obat dan kosmetik nenek moyangnya, buku itu dipegangnya erat-erat. Konon, Bu Mooryati tidak peduli isi kopernya yang lain. Dengan buku itu, Bu Mooryati kemudian mengembangkan bisnis kosmetik berdasar resep tradisi kecantikan Jawa. sukses.

Mencari Simbol Kecantikan

Orang Yunani memiliki Aphrodite. Orang Roma memiliki Venus. Orang Mesir memiliki Cleopatra. Aphrodite, Venus, dan Cleopatra adalah simbol dan legenda kecantikan wanita yang berkembang di masyarakat negeri-negeri tersebut. Indonesia belum memiliki simbol dan legenda kecantikan seperti Aphrodite, Venus atau Cleopatra. Legenda keindahan kulit betis Ken Dedes yang kinclong itu memang ada di kisah kuno Jawa, namun Ken Dedes belum menjadi simbol karena Ken Dedes mungkin dianggap lokal di daerah Jawa.  Indonesia perlu menggali kecantikan perempuan-perempuan di masa lampau dari berbagai daerah agar Indonesia memiliki makna kecantikan wanitanya sendiri dan supaya definisi kecantikan tidak didominasi wacana Jawa.

Makna kecantikan memang luas dan dalam. Namun, setiap wanita tetap senang dan ingin cantik. Cantik bukan berarti memakai serentetan baju dan asesoris bermerek yang mahal. Secara saintifik, kecantikan akan muncul ketika tubuh disuplai zat-zat alami yang berguna bagi mesin-mesin di dalam sel tubuh manusia yang tak kasat mata. Kulit yang dilulur bisa kinclong bersinar karena mesin-mesin sel mendapat asupan zat alami bergizi, sehingga mesin-mesin itu bekerja dengan sumringah bak orang yang jatuh cinta.

Wanita juga menyeruakkan aura cantik ketika jiwanya menyadari kekuatan pengetahuan dan kemampuan dirinya sehingga mampu muncul dengan performance lebih baik.

Kecantikan itu muncul pada wanita yang menyadari kecantikan bisa eksis jika alam lingkungan tetap hadir untuk menyangga kecantikannya. Karena kulit wanita akan kepanasan dan penuh biang keringat jika gas karbon dioksida tidak mengalami siklus kembali ke alam secara seimbang.

Pilar penyangga kecantikan itu berada dalam zat-zat berguna yang dihasilkan tumbuhan di hutan-hutan liar yang jauh dari peradaban wanita kota. Hutan dan wanita terikat dalam tali temali bernama kecantikan.

(Johanna Ernawati, penulis tinggal di Bogor)
  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!