Ilustrasi (Antara)

Kondisi jalan raya utama Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) yang sedemikian parahnya, telah mendorong berapa teman untuk membuat Gerakan Pengguna Facebook Mendukung Pembangunan Jalan Tol Bocimi.  Gerakan ini didukung oleh kelas menengah yang didorong oleh kepedulian mereka, entah karena Sukabumi adalah tanah kelahirannya, atau ingin berwisata bahkan berinvestasi. Rusaknya jalur utama tersebut menjadi cerminan betapa parahnya kondisi infrastruktur jalan di kabupaten Sukabumi. Dan kenyataannya memang begitu,  hampir semua ruas jalan  dalam keadaan rusak. https://www.facebook.com/groups/tolciawisukabumi/

Infrastruktur jalan sebagai bagian penting dari transportasi, mobilisasi logistik, dan keinginan berinvestasi, akan menopang laju kesejahteraan. Dengan infrastruktur jalan yang buruk laju kesejahteraan juga akan terhambat. Itulah mengapa Kabupaten Sukabumi dengan beragam kekayaan alamnya, tetapi masyarakatnya masih dibawah garis kemiskinan. Dan oleh Kementerian PDT, Kabupaten Sukabumi masuk dalam daerah tertinggal. Itu pula yang memperkuat dorongan kepedulian teman-teman yang membuat gerakan tersebut, berfikir tentang kesejahteraan masyarakat.

Gerakan Dukung Jalan Tol-Tuntutan Minimalis

Dan semua aspek kehidupan kita saat ini tak lepas dari pajak. Kita makan di restauran kena pajak. Tanah dan rumah yang kita tinggali kena pajak. Dan harga-harga barang yang kita beli di toko/pasar termasuk unsur pajak di dalamnya. Karena dari uang pajak lah maka penyelenggaraan negara dan pembangunan dapat berjalan. Tersedianya jalan raya merupakan bagian dari pelayanan publik, sehingga kita sebagai pembayar pajak berhak untuk mendapatkannya.

Itu lah sebabnya saya sebut gerakan teman-teman yang mendukung pembangunan jalan tol bocimi sebagai gerakan minimalis. Gerakan yang tidak terlalu menuntut kewajiban pemerintah untuk menunaikan kewajibannya. Tetapi justru meminta swasta untuk mengambil alih tugas pemerintah dalam menyediakan sarana jalan raya/jalan tol, dan kemudian bersedia membayar saat menggunakan sarana tersebut.

Tuntutan yang minimalis tersebut seharusnya akan mudah bagi pemerintah dan swasta untuk merealisasikannya. Mudah bagi pemerintah karena tak harus mengeluarkan dana pembangunan (mulai dari pembebasan tanah sampai konstruksi). Pemerintah hanya  membantu pihak swasta agar pembebasan tanahnya bisa lancar, dengan cara mencegah munculnya spekulan (calo) tanah, dan menindak tegas - apalagi jika justru aparat/pejabat pemerintah menjadi bagian dari spekulan tersebut. Bagi pihak swasta justru akan semakin mudah, karena jalan tol sudah menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat. Ini dapat dilihat dari volume kendaraan di jalan raya bocimi sudah padat, ini menjadi potensi keuntungan mereka ke depannya, sehingga mudah untuk mencari lembaga pendanaan untuk menyokongnya. Jika sesuatu hal yang mudah tersebut saja tidak bisa, bagaimana kalau dituntut untuk hal yang sulit ?

Suatu gerakan dapat tercapai jika terus mendapat dukungan banyak pihak. Dan dukungan banyak pihak dapat diperoleh jika hal ini terus disuarakan. Tulisan saya ini menjadi bagian untuk menyuarakan dukungan teman-teman yang peduli pada kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Sukabumi.
  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!