#30DayPeaceChallenge

#30DayPeaceChallenge

Istilah #30DayChallenge sudah tidak asing lagi sebelum CINTA (Community for Interfaith and Intercultural Dialogue) Indonesia menggelar #30DayPeaceChallenge. Justru karena “tidak asing”, CINTA Indonesia ingin menggunakan cara yang familiar dan menyenangkan sesuai dengan trend pemuda masa kin.

Isu perdamaian khususnya yang terkait dengan lintas iman/agama dan lintas budaya terkesan sebagai isu yang berat untuk diusung oleh anak muda. Terlepas dari metode konvensional yang ada seperti dialog, seminar, dan penelitian ilmiah, kali ini saatnya semangat #EmbraceDiversity dikemas sesuai gaya anak muda. Sebagai misal, bukankah seorang anak kecil akan mau makan sayur jika ibunya pandai menyajikannya dengan menarik di meja makan?

#30DayPeaceChallenge adalah satu dari tiga rangkaian acara besar CINTA Indonesia. Acara ini digelar sebulan penuh selama April. Runtutan dua kegiatan berikutnya adalah Workshop #UnitedForPeace dan Festival #UnitedForPeace yang dilaksanakan pada 6-9 Mei.

#30DayPeaceChallenge menyediakan hadiah. Sebanyak lima pemenang se-Indonesia akan dibiayai untuk diterbangkan ke Jakarta mengikuti rangkaian semarak #UnitedForPeace. Sebelumnya telah diseleksi 35 pemuda nusantara yang akan mengikuti gelaran #UnitedForPeace. Seluruh 40 pemuda tersebut sudah mafhum dengan isu perdamaian, masih menjajaki, dan akan menjadi bibit-bibit segar perdamaian di ibu pertiwi.

Pada akhirnya, manuver utama yang CINTA Indonesia gunakan untuk #30DayPeaceChallenge adalah media sosial. Lumrah dikenal peribahasa ”pen is mightier than sword.” Kini para Gen-Y pun akrab dengan “social media is mightier than mainstream media.”

Tidak mustahil 71% pengguna internet yang juga pengguna media sosial menjadi netizen (internet citizen) sebagai saksi mata hidup yang mampu menetralisir atau paling tidak mengimbangi “bad news is a good news” yang diberitakan tanpa tanggungjawab etika jurnalistik.


Penulis dari Divisi Komunikasi CINTA (Community for Interfaith and Intercultural Dialogue) Indonesia untuk media sosial Twitter. Setelah lulus Hubungan Internasional dari Presiden University pada 2014, bekerja sebagai research assistant di Centre for Policy Studies and Strategic Advocacy (CPSSA). Juga aktif sebagai interfaith-peace activist dan citizen-journalism blogger dan writer. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!