Puisi Bengis

Maaf Tuan, harga diri dan luka karena bayonetmu dan puluhan es balok sebagai alas tidur kawan-kawanku jauh lebih mulia.

Kamis, 17 Apr 2014 14:49 WIB

capres psikopat, kasus penculikan, prabowo bengis dan kejam, beda antara tegas dan kejam

Puisi Bengis

Untuk Capres psikopat, kau harus tahu tegas itu beda dengan kejam. Jejak masa lalumu penuh kekejaman dan kebengisan

Kau merasa paling jujur? Saat kau sembunyikan kasus penculikan, pembakaran Jakarta, pembantaian Leste

Kau merasa paling jujur? Saat kau sembunyikan kasus penculikan, pembakaran Jakarta, pembantaian Leste

Kau merasa bisa beri kedamaian? Sementara pada siapapun kau marah-marah, melempar apa saja untuk lampiaskan dendam menahunmu.

Kau merasa paling antikorupsi? Sementara kau biarkan anak buahmu mainkan komisi proyek-proyek BURT DPR.

Kau merasa bisa mempersatukan bangsa ini? Tapi menafikan korban yang terdiskriminasi karena keyakinan, SARA. Belilah cermin!

Kau merasa paling demokratis? Sementara partaimu saja keputusan hanya di tanganmu. Lalu ketua umum hanya salon. Kau fasis!

Kau merasa paling berjuang bersama orang miskin? Tapi kau tak bisa hidup tanpa ajudan dan pembantu yang kau perlakukan bak jongos.

Kau merasa paling merakyat? Tapi hidupmu tak pernah bersama penderitaan rakyat. Saat penggusuran, intimidasi di mana kau?

Kau mengaku paling setia dan tak pernah khianat? Kenapa kau tak baca kembali butir-butir Pancasila, sudah berapa yang kau langgar.

Kau pun bicara tak pernah dari hati. Kau sudah silau dengan kekuasaan yang kau harapkan mengembalikan pamormu.

Maaf Tuan, harga diri dan luka karena bayonetmu dan puluhan es balok sebagai alas tidur kawan-kawanku jauh lebih mulia.

Maaf Tuan, orasimu yang berapi-api dan penuh kemarahan dan dendam itu tak akan menghapus ingatanku tentang kebengisanmu.

Maaf Tuan, orasimu yang berapi-api dan penuh kemarahan dan dendam itu tak akan menghapus ingatanku tentang kebengisanmu.

Maaf Tuan, ucapan-ucapan yang menista itu sudah cukup menggambarkan kami bagaimana jika kekuasaan dalam genggamanmu.

Maaf Tuan, ucapan-ucapan yang menista itu sudah cukup menggambarkan kami bagaimana jika kekuasaan dalam genggamanmu.

Tuan, datanglah dengan muka pulanglah dengan punggung. Itulah ksatria sejati!

Jakarta, 28 Maret 2014


Puisi Rasudi

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Polisi Anggap Penembakan Deiyai Sebatas Pelanggaran Etik

  • Fasilitas di RUSD PPU Tak Optimal Karena Kekurangan Daya Listrik
  • Perempuan India Gugat Cerai Karena Tak Ada Jamban
  • Zidane Tak Suka Penggawanya Dihadiahi Kartu Merah

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR