memanusiakan Jokowi, Jokowi dewa, capres boneka, jokowi blusukan, satrio piningit

Yang patut kita khawatirkan adalah ketika hal itu “mengganggu” kesadaran Jokowi tentang dirinya, tentang hakikatnya bahwa dia adalah manusia biasa sebagaimana orang Indonesia lainnya.

Saya kira Jokowi sadar betul akan hal itu. Justru karena kesadaran itulah yang telah membuatnya mampu melampaui apapun. Proses trial and error yang kerap diakuinya saat membenahi Solo adalah bukti bahwa Jokowi bukan Midas, raja setengah dewa dalam mitologi Yunani yang terkenal karena kemampuannya mengubah apapun yang dia sentuh jadi emas. Pun demikian halnya di Jakarta.

Selama dua setengah tahun jadi gubernur, dia belum jua mampu mengatasi tuntas seluruh sengkarut persoalan Jakarta, seperti kemacetan, banjir, kondisi infrastruktur, kualitas layanan public, dan lain-lain. Meskipun harus diakui bahwa sejumlah pencapaiannya juga ada dan sudah dapat dinikmati langsung oleh warga.

Pada akhirnya adalah soal prestasi dan sederet janji. Ada prestasi yang belum tuntas, dan ada janji yang mungkin akan ter-aborsi. Maka wajar bila setelah PDI Perjuangan mencalonkannya sebagai capres pada pemilu mendatang, ada capres yang murka. Sementara, sebagian kalangan lain melihatnya sinis dan menyoal kepantasannya. Namun, di mata masyarakat kepantasan Jokowi masih tetap tinggi, tetap juara.

Setidaknya begitu yang tercermin dalam  rilis hasil survey sejumlah lembaga. Hasil survey memang bukan indikator tunggal. Juga belum pasti benar atau terbukti. Sebab setiap  survey mengandung beragam aspek seperti waktu (kapan survey dilakukan), ketepatan metodologi, margin of error serta aspek lain terkait kredibilitas dan keterandalannya.

Entahlah, tak ada yang tahu apakah hasil survey itu nanti akan terbukti atau tidak. Sebab kepastian dalam politik hanya ada dalam ruang imajinasi. Satu hal yang pasti, jalan menuju kekuasaan itu seperti meniti “margin of error”. Begitulah jalan politik Jokowi dan capres lainnya. Maka tak heran bila pada tiap perhelatan penting semacam pemilu, catatan hitam dalam rekam jejak tiap capres lebih sering terdengar ketimbang sebaliknya. Ada capres “berdarah”, “berlumpur”, “bergitar”, “beruang”, dan lain sebagainya.

Belakangan, muncul istilah baru, capres “boneka”. Meski pelontar istilah itu tak langsung sebut nama, namun tak perlu kecerdasan lebih untuk paham kepada siapa istilah itu menyasar. Jadi lengkap sudah sebutan bagi Jokowi. Mulai dari “satrio piningit”, “dewa”, dan kini “boneka”. Silakan pembaca mau percaya yang mana.

Sejatinya, Jokowi adalah manusia biasa yang tak sempurna. Ia acapkali bisa berucap, berfikir, dan bertindak bodoh dan salah. Tapi, justru karena itulah Jokowi mampu menunjukkan dirinya teruji dan jadi sedikit luar biasa. Dan cara terbaik memanusiakan Jokowi adalah dengan selalu membuka ruang kritik terhadap dirinya. Bila hanya puja-puji maka pada saat yang sama kita telah menciptakan berhala. Lagipula, Jokowi bukanlah tipe orang yang senang duduk nyaman di ketinggian menara gading karena dia bukan “satrio piningit”, bukan “dewa”, juga bukan “boneka” (seperti kata orang itu…ssstttt!).***

* Nanang Pujalaksana, bekerja di The Indonesian Institute/Direktur PemiluWatch!


Kembali ke Memanusiakan Jokowi [1]


Baca juga:
Kepemimpinan Megawati Menuju Indonesia Baru

Jokowi adalah Antitesis

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!