memanusiakan Jokowi, Jokowi dewa, capres boneka, jokowi blusukan, satrio piningit

Seperti biasa, Joko Widodo alias Jokowi tampil apa adanya. Kemana-mana hanya berkemeja putih panjang yang tergulung tiga perempat lengan, dan bercelana hitam. Konon, dia punya 14 pasang “baju dinas” itu. Sepatunya jarang terlihat mengkilat. Lebih dari itu, dia nyaris tampil tanpa atribut lain -- apalagi riasan macam-macam. Wajahnya pun acapkali terlihat kusam. Warna kulitnya memang sawo matang, khas Indonesia.

Bagi sebagian orang, kemasan seperti itu mungkin terlihat terlalu “sederhana” untuk orang sepenting dia, sebagai Gubernur DKI Jakarta. Padahal, kalau mau dia bisa alokasikan sedikit dana APBD untuk keperluan “dirinya”, beli jas dan macam-macam seperti gubernur sebelumnya. Apalagi saat ini dia digadang-gadang sebagai calon presiden Indonesia mendatang oleh PDI Perjuangan.

Untuk kategori “presidential look”, Jokowi mungkin “gak ada potongan”, kalah telak ketimbang capres lain yang umumnya selalu ingin terlihat chic di depan publik: gaya, gagah, intelek, ganteng, penuh pesona. Kecuali mungkin Dahlan Iskan, kalau boleh sedikit membandingkan.

Tapi fakta sulit dibantah. Baik selama masa pencalonan atau setelah dua setengah tahun terakhir menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, fenomena Jokowi terus berlanjut. Selain proses politik dan kehumasannya yang canggih, sebagian orang mengatakan bahwa seperti ada tarikan alam yang membetotnya dari seorang walikota yang sebetulnya “biasa saja” hingga jadi sosok “luar biasa” sekarang. Karena bila dirunut ke belakang, orang se-Indonesia baru ngeh dengan penampakannya saat heboh mobil Esemka. Liputan media membuat popularitasnya seketika melambung.

Modalitas itulah yang kemudian membuatnya jadi “kuda hitam” Partai Gerindra dan PDI Perjuangan dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta 2012 lalu. Berduet dengan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, pasangan kuda hitam itu menang setelah mengalahkan sederet nama beken plus cagub petahana, Fauzi Bowo, yang sekarang nge-dubes di Jerman.

Sejak itu Jokowi jadi penghuni rumah dinas di sekitar Taman Surapati dan ngantor di gubernuran, sekira 200 meter saja dari bunderan patung kuda. Seakan tahu bagaimana menjawab kerinduan publik tentang sosok pemimpin sederhana, lugas, logis, dan populis, duet Jokowi-Ahok “menggebrak” warga Jakarta dengan sejumlah wacana dan kebijakan. Termasuk dengan “mengganggu” zona nyaman di lingkungan Satuan Kerja Pemerintah Daerah atau SKPD di berbagai tingkatan melalui sidak, lelang jabatan, dan pembenahan macam-macam.

Dan yang kemudian khas dalam kepemimpinannya adalah blusukan. Efektivitas kegiatan itu memang boleh saja diragukan. Sebagian kalangan bahkan mencibir dan menyebutnya sebagai pencitraan. Tapi, lagi-lagi fakta bicara, blusukan tiba-tiba jadi kosakata populer dan penting dalam seni dan praktik kepemimpinan, sampai-sampai presiden pun pernah satu dua kali tergoda mempraktikannya. Dan entah berapa banyak pimpinan daerah yang kemudian ikut-ikutan juga. Yang jelas, blusukan punya impresi kuat karena jadi pembeda Jokowi dibanding gaya pemimpin lain yang selama ini cenderung  “puas” dengan laporan asal bapak senang dari bawahannya. 

Karenanya, citra Jokowi pelan tapi pasti terpatri kuat di benak publik. Tidak hanya bagi warga Jakarta, tapi se-Indonesia dan bahkan mancanegara. Sosok, kebijakan dan gaya kepemimpinannya bahkan diulas sejumlah media asing. Mereka menyebut Jokowi sebagai seorang pekerja keras dan harapan baru untuk Jakarta. Media besar asal Amerika Serikat, Foxnews, pernah menulis panjang lebar sepak terjang Jokowi dalam menangani banjir di Jakarta, pada Januari 2013. Media Inggris, BBC, menulis Jokowi sebagai Barack Obama dari Jakarta. Dan ini pasti bukan karena kesamaan warna kulit dan perawakannya yang sama-sama sawo matang dan tinggi langsing. Sementara majalah The Economist edisi Asia menyebutnya sebagai Mr Fix dan majalah TIME menggelarinya The Man in the Madras Shirt karena berpakaian kotak-kotak saat kampanye.

Sepintas terlihat, Jokowi seperti figur tanpa cela. Sejumlah kalangan yang percaya bahkan menyebutnya satrio piningit, sosok adiluhung nan paripurna dalam wacana budaya politik Indonesia. Lebih dari itu, di mata para fanatiknya Jokowi sudah seperti “dewa”. Tutur katanya dicerna setingkat fatwa. Mungkin sedikit berlebihan alias lebay, memang. Tapi sejauh tak mengganggu kepentingan umum,  penilaian itu sah-sah saja. 


Bersambung ke Memanusiakan Jokowi [2]

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!