kampanye hitam, menerima kekalahan, pemilu legislatif 2014, jokowi keturunan cina

Pemilu legislatif 2014 sudah usai. Panitia Pemungutan Suara sedang menghitung suara yang diberikan rakyat kepada para kandidat wakil rakyat. Beberapa lembaga telah melakukan hitung cepat untuk mengetahui pemenang Pemilu 2014. Dari perhitungan sementara, partai PDI Perjuangan menjadi partai terbesar yang memperoleh kepercayaan rakyat. Disusul Golkar, Gerindra, dan lain-lain.

Sebetulnya saya berharap sudah lega ketika Pemilu legislatif telah usai dan saya berharap orang Indonesia bisa lebih tenang melangkah ke depan, siapa pun pemenangnya.
 
Namun, ternyata kemenangan sebuah partai tidak selalu disikapi dengan bijaksana oleh partai yang kalah. Komentar-komentar yang miring ditujukan kepada partai pemenang, menunjukkan ketidaklegowoan pihak yang kalah.

Saya tercenung setiap melihat komentar-komentar di dunia maya tentang partai yang dipercaya rakyat untuk menang. Terutama, ketika ada sebuah status seorang teman yang mempertanyakan apakah Jokowi seorang keturunan Cina?

Apa yang salah dengan orang-orang Indonesia ini? Mengapa orang Indonesia masih rentan sekali kepada isu suku bangsa dan agama?
Saya jadi merenungkan makna darah keturunan yang mengalir di dalam tubuh saya. Ayah saya orang Jawa, ibu saya keturunan Manado dan Makasar. Apakah saya bukan orang Indonesia jika di dalam darah saya mengalir berbagai darah suku bangsa?

Keluarga besar saya ada yang menikah dengan orang Cina. Ada yang beragama Islam, Kristen, Advent, dan Katholik. Keluarga besar saya dari berbagai suku bangsa dan agama. Tapi kami selalu hidup rukun damai tidak merasa berbeda satu sama lain dan tetap menyayangi satu sama lain.

Karena berbagai latar belakang itulah yang membuat saya merasa pentingnya negara Republik Indonesia ini tetap berdiri. Saya tidak bisa membayangkan seandainya saya harus mengunjungi saudara saya yang di Papua harus memakai visa dan ijin keluar negeri. Atau ketika saya harus mengunjungi saudara saya di Jawa tidak bisa karena saya bukan orang Jawa murni. Sebuah khayalan mengerikan seandainya janji pemuda-pemuda dari berbagai suku di Indonesia yang diucapkan ketika Sumpah Pemuda 1908, retak dikhianati maknanya.

Oleh karena itu saya bersyukur para founding fathers negeri ini telah merunut sejauh mana ikatan persaudaraan orang Indonesia. Penelitian sudah membuktikan nenek moyang orang-orang yang mendiami kepulauan Indonesia ini, berasal dari bangsa Austronesia yang tinggal di pulau Formosa, pulau di selatan Taiwan. Orang Austronesia tadinya tinggal di daratan Cina selatan lalu pindah ke pulau Formosa, kemudian berkelana lagi dengan perahu bertakik mendiami pulau-pulau Indonesia dan mengembangkan kebudayaan sesuai alam pulau yang didiami.

Secara genetik kita semua mengandung gen purba orang Cina karena penyebaran orang Indonesia berasal dari sana. Jika mau merunut lebih jauh lagi peta genetik manusia, semua manusia di permukaan Bumi ini memiliki gen purba yang berasal dari Afrika. Manusia di Bumi ini hanyalah satu spesies yang sama yaitu homo sapiens.

Saya jadi teringat ketika lembaga tempat saya bekerja mengadakan Konferensi Anak Indonesia. Setiap tahun tempat kerja saya memberi wadah buat anak-anak dari berbagai provinsi untuk mengenal satu sama lain dan berdiskusi topik tertentu yang menjadi permasalahan anak-anak. Pada tahun 2011, kami bekerja sama dengan Indonesia Mengajar menyelenggarakan Konferensi Anak Indonesia dengan tema Kejujuran. Saya menjadi penanggung jawab kurikulum dalam program tersebut.

Di setiap Konferensi Anak Indonesia, anak-anak diajarkan untuk menyampaikan pendapat, mendengarkan pendapat orang lain, dan berdiskusi dengan santun. Sebenarnya, kesempatan kami untuk menanamkan benih kebaikan itu hanya sedikit. Oleh karena itu, kami merancang agar anak-anak sudah mengenal nilai-nilai yang kami harapkan sejak mereka datang.

Dalam salah satu sesi di karantina, kami membagi anak-anak dalam kelompok untuk memilih wakil mereka dan bersaing dengan kelompok lain agar dapat menjadi wakil yang berbicara ke publik termasuk ke menteri dan presiden.

Setiap anak ingin menjadi wakil yang terpilih. Kami memberi kesempatan mereka untuk tampil di depan teman-temannya. Saat temannya presentasi, mereka membuat penilaian kelayakan teman tersebut menjadi seorang wakil.

Anak-anak lalu memasukkan kertas suara mereka ke kotak suara. Akhir cerita, kami selalu memperoleh pemenang yang dijagokan tiap kelompok untuk bersaing antar kelompok. Para wakil kelompok ini kemudian presentasi di depan seluruh kelompok untuk dipilih.

Ada satu momen yang sangat mengharukan ketika melihat bagaimana anak-anak itu menghargai suara dan dukungannya.

Suatu kali di sebuah kelompok terpilih, ada dua orang anak yang harus dipilih. Yang satu seorang anak laki-laki, tampan, gagah, idola semua anak perempuan. Yang seorang lagi anak perempuan. Sebelum seleksi dilakukan, anak-anak sudah membuat kesepakatan bersama kriteria yang akan dicari untuk tujuan bersama.

Suara terbesar dukungan saat itu mengarah kepada teman mereka yang laki-laki. Namun, ketika para calon wakil ini presentasi, ternyata calon wakil perempuan mempunyai kriteria yang diinginkan. Anak-anak pendukung anak laki-laki ini, kelihatan kecewa, namun berusaha obyektif. Dukungan terbuka yang telah diberikan kepada temannya yang laki-laki mau tidak mau harus mereka akui tidak bisa diberikan.

Uniknya, anak-anak ini juga tidak ingin melihat temannya yang kalah bersedih.

Apa yang dilakukan anak-anak? Mereka meminta kepada kami agar kedua calon wakil keluar dari ruangan agar tidak mendengar proses diskusi keputusan mereka. Lalu, setelah keputusan diambil, mereka memanggil kedua temannya itu dan menyampaikan dukungan kepada teman perempuan yang memenuhi kriteria yang diharapkan. Mereka juga menghibur teman yang kalah. Teman yang kalah menangis karena sedih namun bisa menerima. What a beautiful Indonesian kids.

Teringat bagaimana murninya sikap anak-anak kita dalam berdemokrasi, terus terang saya berharap kita, orang Indonesia yang lebih dewasa, dapat berkaca kepada kemurnian anak-anak.

Cara kita melihat harapan pada negeri ini seharusnya lebih kepada kriteria bersama yang kita sepakati bersama untuk menjaga keutuhan dan kebaikan bagi bangsa Indonesia.

Ketika ada yang menang dan kalah, seyogyanya kita legowo dan saling mendukung satu sama lain selama mereka berjuang untuk kepentingan dan kebaikan semua suku bangsa di Indonesia ini. Indonesia adalah rumah satu atap bagi banyak saudara. 

* Johanna Ernawati, penulis buku anak-anak, tinggal di Bogor

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!