jawa tengah, kepala daerah

Saya telah bertemu dengan beberapa anggota dan struktur partai, juga dengan para petani juga masyarakat jaa tengah di akar rumput yang dengan setia membajak sawah dan mengumpul rezeki dari tanah subur yang dikaruniakan Tuhan Kepada kita bangsa Indonesia.

Saya bertanya perihal bagaimana pengalaman dan pengamatan mereka terhadap kinerja pemerintah selama beberapa tahun terakhir. Tersentak sekaligus terhenyak mengetahui mereka mulai jenuh dengan janji-janji dan pernyatan pemerintah soal keberhasilan. Masyarakat Jawa Tengah ternyata sedikit banyak mencatat track-record pemerintahnya yang dinilai tidak sebaik yang didengung-dengungkan dan tidak seindah yang dijanjikan.

“Yang kami butuhkan itu perubahan yang dapat kami rasakan langsung, mungkin Solo baik tapi itu karena Walikotanya” (untuk menyebutkan Jokowi yang sekarang menjadi Gubernur DKI Jakarta), papar salah satu warga yang saya temui. “Tapi tidak semua Kabupten/Kota yang punya Bupati/Walikota seperti Jokowi di Ja-Teng ini” imbuhnya lagi.

Perlahan saya menemukan bahwa sejauh ini kebutuhan masyarakat secara wajar terhadap sektor-sektor publik, seperti kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, pertanian, persoalan nelayan dan sebagainya masih dirasa kurang, tidak jarang melalui RAB (Rumah Aspirasi Budiman -yang selama ini menjadi perpanjangan mata dan telinga saya untuk mendengar aspirasi masyarakat-) saya mendapati betapa masyarakat membutuhkan tindakan-tindakan konkrit para pemimpin untuk menyelesaikan bgitu bayak persoalan masyakarat. Bukan semata-mata persoalan individu antar individu, tetapi yang dibutuhkan adalah tindakan konkrit, keputusan-keputusan berani yang harusnya diambil oleh para pemimpin dalam konteks ini Gubernur Jawa Tengah untuk menyelamatkan kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Dari perbincangan singkat namun sarat makna tersebut, saya beranikan diri untuk menyimpulkan bahwa yang dibutuhkan Jawa Tengah bukan sekadar pemimpin formal yang disebut Gubernur, yang kemudian hari akan terjebak dalam rutinitas birokratis, dan sesudahnya kehilangan daya dobraknya. Jawa Tengah menurut saya butuh kepemimpinan yang tidak sekedar menyibukkan diri dengan pencitraan-pencitraan, lebih dari itu butuh tindakan berani, yang melampui batas-batas rutinitas birokratis, kepemimpinan yang cerdas dan berlatar belakang pemahaman dan intektualitas yang baik.

Jawa Tengah memang sedang akan menuju perhelatan politik, Pemilu Gubernur/Wakil Gubernur yang akan digelar 26 Mei 2013. PDI Perjuangan dalam hal ini mengusung Pasangan Ganjar-Heru. Saya secara pribadi mengenal Mas Ganjar, menurut hemat saya beliau pantas dan memenuhi syarat untuk mampu memimpin Jawa Tengah kearah yang lebih baik, mampu melakukan tindakan-tindakan dan mengambil keputusan-keputusan politik yang berpihak kepada masyarakat.

Jawa Tengah, sebagai salahsatu wilayah basis PDI Perjuangan, menantikan peran beliau, bertolak dari itu saya merasa perlu untuk menitipkan hasil perbincangan singkat saya dengan sebagian masyarakat Jawa Tengah yang saya yakin hampir merepresentasikan harapan sebagian besar masyarakat Jawa Tengah yang kini merindukan perubahan.

Penulis adalah anggota DPR RI dari PDI Perjuangan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!