Destya Nawris, seorang Baha’i, bekerja di Kantor Koordinasi Hubungan Luar Majelis Rohani Nasional Baha’i Indonesia. Darinya, saya mendapat undangan untuk menghadiri perayaan Ayyam-i Ha Sabtu, 27 Februari 2016 lalu.

Ayyam-I Ha merupakan periode yang didedikasikan masyarakat Baha’i untuk berbagi dan beramah tamah ke saudara dan teman-teman. Yang juga merupakan hari-hari pendahulu sebelum bulan puasa. Konsep puasa bagi masyarakat Baha’i dapat digambarkan sebagai puasa jasmani yang merupakan lambang lahiriah puasa rohani, yaitu menahan diri dari hawa nafsu. 

Agama yang keberadaannya di Indonesia telah diakui oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ini, tahun ini akan merayakan hari besarnya pada tanggal 20 Maret 2016.

Acara Ayyam-I Ha pagi itu diawali dengan pembacaan doa masing-masing dari kami. Mulai dari doa anak-anak kecil, doa kesatuan yang diucapkan oleh perwakilan umat Baha’i, serta doa keselamatan yang diucapkan oleh perwakilan umat muslim, yang juga perwakilan dari Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI). 

Acara berlanjut pada sesi diskusi, perkenalan dan ramah tamah masyarakat Baha’i. Kemudian acara hiburan berupa menyanyi bersama dan menarikan tarian daerah Flores (tarian Maumere dan Ja’i). Berujung pada makan bersama dan ditutup dengan doa penutup oleh masing-masing perwakilan dari beberapa agama yang hadir dalam acara tersebut.

Serangkaian acara tersebut mempunyai esensinya masing-masing. Bagian paling mendalam dan meninggalkan kesan tersendiri untuk saya adalah sesi berdoa bersama di awal dan akhir acara. Yang membedakan sesi berdoa bersama dengan acara yang lain adalah, dalam Ayyam-I Ha doa diucapkan bergantian—tidak hanya berdoa dalam hati. Mendengarkan orang lain—yang berbeda keyakinan—berdoa tentu bukan hal yang biasa. 


Lebih dari itu, bukan juga hal yang mudah. Karena tidak bisa dipungkiri, setiap dari kita selalu mempunyai ego tersendiri, yang menempatkan kita untuk berpikir cara berdoa kita pasti lebih baik dari orang lain. Justru hal ini yang menjadi tantangan paling membelajarkan dari acara ini. Setiap dari kita diharapkan paham atas esensi berdoa, dengan meninggalkan macam-macam ego dan prasangka atas cara berdoa orang lain.

Hal tersebut menggambarkan salah satu ciri khas masyarakat Baha’i. Yang mengedepankan kesatuan masyarakat, merangkul orang-orang yang berasal dari ratusan ras, suku, bermacam-macam profesi, berbagai golongan sosial-ekonomi, yang bersatu mengabdi pada kemanusiaan. Termasuk juga dengan ajaran-ajarannya: persatuan umat manusia, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, pendidikan wajib bagi semua orang, kesetiaan pada pemerintah, tidak terlibat dalam politik partisan, dan musyawarah sebagai sarana mengambil keputusan.

Dalam acara tersebut saya sempat bertanya apa nama rumah ibadah masyarakat Baha’i, Destya menyebutkan namanya Mashriqu’l-Adhkaryang artinya “tempat terbit ingat pada Tuhan”. Rumah ibadah Baha’i terbuka bagi penganut dari semua agama. Rumah ibadah dengan sembilan pintu dan satu kubah ini telah berdiri di banyak negara, seperti di India, Uganda, Jerman, Australia, Amerika Serikat, Chile, dan lainnya. 

Saya melanjutkan pertanyaan saya, kapan di Indonesia akan didirikan? Destya menjawab, “Mashriqu’l-Adhkar didirikan bukan untuk beribadah umat Baha’i saja. Jadi bangunan ini akan berdiri di Indonesia, ketika semua umat beragama di Indonesia sudah bersedia duduk bersama, berdoa bersama, tidak merasa terganggu dengan menggunakan rumah ibadah ini bersama.”

*Penulis bergiat di Community for Interfaith and Intercultural Dialogue (CINTA Indonesia), jurnalis film di Cinema Poetica, asisten peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan anak kecil di taman kanak-kanaknya sendiri. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!