Kampus UIN Suska, Riau (foto: Panji Wibowo)

Kampus UIN Suska, Riau (foto: Panji Wibowo)

Saya masih ingat sewaktu kecil untuk dapat bersama cukup hanya bermodal sebuah bola kaki. Tak perlu bertanya suku, ras, apalagi agama. Yang penting bisa menendang bola, walaupun seadanya.

Bagi saya yang lahir 24 tahun yang lalu, bergaul disekitar orang-orang beragama non-muslim bukanlah hal asing. Apalagi Ayah saya memiliki banyak teman dari kalangan etnis Tionghoa yang bergama Kristen dan Budha.

Ucok dan Laris adalah teman saya paling dekat ketika di sekolah dasar (SD). Tiap pagi kami berangkat bersama ke sekolah, bermain bersama. Kami sangat kompak, walaupun kedua teman saya itu beragama Kristen.

Kebetulan mereka adalah tetangga saya ketika tinggal di sebuah perumahan nasional (Perumnas) di Kecamatan Pematang Reba, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau.

Ketika saya merayakan Idul Fitri mereka tidak perlu datang ke Masjid untuk ikut merayakan. Begitu pula ketika mereka merayakan Natal, saya pun tak perlu datang ke Gereja bersama mereka. Bagi kami untuk menghormati perbedaan agama tidaklah perlu menyerupai.

Peristiwa menarik tentang memahami perbedaan dialami ketika berkuliah. Saya yang  berkuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim  (UIN Suska) Riau memiliki seorang kakak kelas yang menjadi satu-satunya mahasiswa non-muslim disana. Namanya Tison dan  ia seorang nasrani. 

Menjadi satu-satunya yang ‘berbeda’ tak menjadi penghalang untuk tetap bersama. Ia dan teman-teman lainnya yang muslim tetap dapat berinteraksi bersama.  

Tak pernah terjadi konflik apalagi tindak kekerasan disana. Bahkan ketika kami berada dalam satu mata kuliah, tak ada singgung menyinggung perkara perbedaan agama. 

Bahkan saat dosen bertanya tentang Islam, ia pun menjawab sebatas apa yang diketahuinya. Dan tak ada tanggapan lanjutan yang menyudutkan dari dosen yang semula bertanya.

Sebagai informasi, meski mengambil jurusan ilmu komunikasi, namun tiap mahasiswa di kampus yang berjuluk ‘Islami Madani’ ini wajib mengambil mata kuliah bertemakan Islam, sebut saja Aqidah. 

Bagi mayoritas mahasiswa beragama Islam, tentu hal itu bukan masalah. Tapi, baginya yang ‘berbeda’, tentu menjadi lain cerita. 

Namun nyatanya dia mampu menyelesaikan pendidikannya tahun 2013 yang lalu, dengan pemahaman yang dimilikinya. 

Kisah di atas membuktikan, selama dapat saling menghargai satu sama lainnya, meskipun memiliki perbedaan suku, ras dan agama maka siapapun dapat hidup berdampingan dalam harmonisasi.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al Mumtahah : 8 yang artinya “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. 

Penulis aktif sebagai fotografer di Pekanbaru, sempat menjadi reporter di Green Radio Pekanbaru.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!